Gak Bakal Jadi Ikon Lagi, Jakarta Diusulkan Jadi Daerah Istimewa, Alasannya...

Gak Bakal Jadi Ikon Lagi, Jakarta Diusulkan Jadi Daerah Istimewa, Alasannya... Kredit Foto: Akurat

Komite Kajian Jakarta (KKJ) mengusulkan Jakarta menjadi daerah istimewa setelah Ibu Kota Negara dipindah ke Nusantara. Dalam nama baru wilayah ini menjadi Daerah Istimewa Jakarta Raya.

"Merespons rencana Pemerintah Indonesia memindahkan Ibu Kota Negara dari Jakarta ke Nusantara berdasarkan Undang-Undang Ibu Kota Negara dan merespons permintaan pemerintah kepada masyarakat untuk memberikan usulan terkait konsep Jakarta ke depan setelah tak lagi menjadi ibu kota negara, KKJ mengeluarkan usulan ini," kata Direktur Eksekutif KKJ, Syaifuddin, dalam keterangannya di Jakarta, Senin (21/2/2022).

Baca Juga: Jleb Banget, PSI Sebut Selama Jadi Gubernur DKI, Tak Banyak Program Yang Berhasil Anies Jalankan! Terus Kerjanya Ngapain?

Syaifuddin menjelaskan usulan ini didapat dari hasil diskusi dan kajian yang melibatkan banyak pihak seperti tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh perempuan, akademisi, dan aktivis di Jakarta.

“Untuk itu KKJ mengusulkan mempertahankan keistimewaan Jakarta menjadi provinsi baru bernama Daerah Istimewa Jakarta Raya dan memperluas wilayah dengan menyatukan wilayah Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi," katanya.

Menurut KKJ, kata Syaifuddin, usulan ini berdasarkan berbagai alasan. Di antaranya adalah dimensi historis karena Jakarta memiliki nilai sejarah yang tinggi sebagai Ibu Kota negara sebelumnya.

Baca Juga: Nasib... Nasib.. Mas Anies Kena Sentil PSI Lagi, Kali Ini Soal Apa?

Alasan lainnya, kata dia, adalah dimensi ekonomi. Menurut dia, Jakarta sudah memiliki infrastruktur maju sekaligus ebagai pusat perdagangan, bisnis, pendidikan dan kesehatan.

Kemudian dari dimensi geografis, KKJ menilai, Jakarta sebagai kota metropolitan perlu adanya perluasan wilayah dengan menggabungkan wilayah penyangga Jakarta, mengingat wilayah penyangga ini lebih dekat dengan pusat pemerintahan Jakarta daripada ibu kota provinsinya.

“Alasan lain adalah dimensi budaya dan emosional karena mayoritas penduduk wilayah penyangga Jakarta adalah etnis Betawi,” kata Syaifuddin.

Baca Juga: Ada-ada Saja Sih Ustaz Khalid... Gegara Sentilan Soal Wayang Jadi Merembet Kan, Gus Miftah: Tanpa Budaya, Islam Jadi Kaku!

Dimensi lain, Syaifuddin mengatakan adalah regulasi dan kebijakan karena pemerintah Jakarta perlu mengambil kebijakan cepat dan tepat untuk mengatasi permasalahan yang ada.

“Dimensi pembangunan yang berkeadilan sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi derah penyangga yang lebih merata,” katanya.

Lihat Sumber Artikel di Republika Artikel ini merupakan kerja sama sindikasi konten antara Populis dengan Republika.

Terkait

Terpopuler

Terkini

Populis Discover