Anies Gelar Formula E, Jokowi Gelar MotoGP

Anies Gelar Formula E, Jokowi Gelar MotoGP Kredit Foto: (Facebook/Anies Baswedan)

Beberapa waktu belakangan, Indonesia diramaikan dengan berbagai wacana penyelenggaraan ajang balap otomotif Internasional di dalam negeri. Pemerintah begitu berhasrat untuk menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah ajang balap bertaraf internasional.

Pertama, yakni rencana penyelenggaraan Formula E di Jakarta pada 2022 mendatang yang beberapa hari ini kembali ramai diperbincangkan. Hal ini sehubungan dengan kabar Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang kekeh ingin merampungkan penyelenggaraan ajang balap jet darat tersebut. Penyebabnya adalah akibat Pemprov DKI Jakarta yang terancam digugat oleh Pengadilan Internasional apabila rencana tersebut batal. Baca Juga: Dililit 3 Kasus Gede-Gede, Hati-Hati Mas Anies, Tinggal Tunggu Saatnya, Kena Jantungnya dan Jatuh

Adapun Pemprov DKI diwajibkan untuk menebus biaya komitmen mencapai Rp 2 triliun untuk penyelenggaraan Formula E dengan kontrak selama 5 tahun. Permasalahannya, seperti dikatakan oleh pegiat media sosial Denny Siregar, uang tersebut terlalu mahal untuk ajang balap yang dinilainya masih jauh dari predikat ajang bergengsi.

"20 jt pounds/thn = 396 milyar rupiah. Dan Pemprov @DKIJakarta meski Anies sdh gak jabat, harus bayar selama 5 thn atau total hampir 2 trilyun rupiah utk balapan yg gak jelas.." bebernya di akun Twitter pribadinya pada Rabu (14/9/2021).

Belum lagi, biaya tersebut dinilai terlalu tinggi dan sangat membebani APBD DKI Jakarta. Hal ini seperti dinyatakan oleh Wakil Ketua Komisi E DPRD DKI Jakarta Anggara Wicitra Sastroamidjojo. Ia sangat mempertanyakan tingginya jumlah tersebut.

"Ini patut dipertanyakan, mengapa commitment fee Formula E Jakarta sangat tinggi dan jelas membebani APBD Jakarta," ujarnya heran pada Kamis (16/9/2021). 

Anehnya, di Montreal, Kanada, penyelenggaraan Formula E hanya dikenakan total biaya sebesar Rp 18,7 miliar. Di Roma, Italia tidak dikenakan biaya hingga penyelenggaraan tahun 2025. Bahkan di New York, Amerika Serikat sama sekali tidak dikenakan biaya komitmen.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo sudah sejak lama telah sangat berharap kompetisi balap motor terbesar di dunia, MotoGP dapat digelar di tanah air pada 2022 mendatang. Hal ini sehubungan dengan dibangunnya Sirkuit Mandalika di Lombok, Nusa Tenggara Barat yang menghabiskan anggaran mencapai Rp 1,3 triliun untuk pembangunan dan Rp 899 miliar untuk pembiayaan lintasan sirkuit.

Adapun proses pembangunan sirkuit tersebut bukan tanpa masalah. Sempat ada sejumlah protes dari masyarakat sekitar semisal persoalan sengketa lahan serta penolakan biaya ganti rugi.

Meski begitu, Joko Widodo, yang sebelumnya juga telah berdiskusi dengan pihak MotoGP, yakni Dorna Sports, optimis sirkuit tersebut dapat menjadi tempat yang pantas untuk penyelenggaraan MotoGP. Dorna sendiri juga dalam pernyataan resminya sempat menyatakan puas dengan proyek pembangunan sirkuit Mandalika. 

Selain itu, pihak sirkuit, yakni Mandalika Grand Prix Association (MGPA) menyebutkan penyelenggaraan ajang balap motor sekelas MotoGP dan WorldSBK mampu memberikan efek positif bagi negara. Pasalnnya, ajang tersebut akan menampilkan Indonesia di mata dunia lewat ratusan media yang menyiarkan acara MotoGP maupun WorldSBK.

Menurut MGPA, besarnya perhatian media tentu akan menghasilkan dampak yang luar biasa bagi Indonesia. Setidaknya, MGPA menyebutkan terdapat beberapa keuntungan bagi Indonesia jika menjadi penyelenggara ajang balap tersebut, yakni country brandingtourism, serta multiplier effect.

"Bayangkan kalau satu rumah tangga saja ada tiga pasang mata, berapa yang menyaksikan tayangan live ini? ada 9.454 perwakilan media yang meliput, 132 kamera dengan 40 feeds, 31.535 total jam siaran, dan 66 negara mengirimkan perwakilan mereka," jelas MGPA.

Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini