"Apakah mereka layak disebut sebagai penceramah radikal dari komunitas nonmuslim? Ini perlu dipastikan agar daftar BNPT tersebut tidak menjadi acuan untuk menilai penceramah dari agama tertentu saja," jelas Reza.
Menurutnya, siapa saja, termasuk para ASN bisa menjadi pengikut penceramah-penceramah yang disebutkan tadi. Oleh karena itu, para ASN juga bisa menjadi radikal.
Namun, yang menjadi pertanyaan Reza, apakah assesment tool yang dibangun Densus 88 Antiteror Polri dapat diterapkan untuk menakar tingkat radikalisme ASN dengan latar agama apa pun, ataukan tool itu spesifik untuk meng-assess ASN beragama tertentu saja?
Baca Juga: Pendeta Saifuddin Pernah Divonis Penjara Gegara Hina Nabi Muhammad SAW, Rudi S Kamri: Saya Ingin..
"Setiap orang, termasuk ilmuwan, bisa bias. Namun, kalau pemikiran bias lantas diadopsi ke dalam instrumen yang dipakai resmi oleh alat-alat negara, bahaya itu," terangnya.
Reza menambahkan, selagi menanti hasil kerja Polri mengamankan nama-nama di atas, dia mengajak publik menakar objektivitas daftar BNPT dan tool Densus 88.
"Lewat uji publik, semoga daftar dan tool itu benar-benar bisa dipastikan bermanfaat bagi Indonesia," pungkas Reza.
Lihat Sumber Artikel di Fajar Artikel ini merupakan kerja sama sindikasi konten antara Populis dengan Fajar.