Biografi Mohammad Hatta: Wakil Presiden Pertama di Indonesia, Miliki Hobi Membaca Buku

Biografi Mohammad Hatta: Wakil Presiden Pertama di Indonesia, Miliki Hobi Membaca Buku Kredit Foto: Seratus Institute

Mohammad Hatta atau yang dikenal dengan Bung Hatta  merupakan sosok yang tidak bisa dilepaskan dari perjuangannya merebut kemerdekaan Republik Indonesia. Hatta terkenal sebagai salah satu tokoh nasional dan bapak proklamator Indonesia. 

Mohammad Hatta lahir dari pasangan Siti Saleha dan H. Mohammad Djamil pada tanggal 12 Agustus di Bukittinggi, Sumatera Barat. 

Ayahnya seorang keturunan ulama dari Batu Hampar Payakumbuh. Sedangkan, ibunya merupakan keturunan pedagang asal Bukittinggi. Dari keluarganya, Hatta banyak mempelajari ilmu agama bersama gurunya Abdullah Ahmad dan beberapa ulama lain.

Baca Juga: Pimpinan Ponpes di Banten Didapuk Jadi Ketum New FPI, Novel Klaim Dia Ulama Kharismatik

Hatta menjadi anak laki satu-satunya ditengah enam saudara perempuan kandungnya. Beliau pertama kali mengenyam dunia pendidikan di Sekolah Dasar Melayu Fort de kock, Minangkabau. Kemudian pindah ke Europeesche Lagere School (ELS), Padang. 

Pergerakan organisasinya mulai terlihat ketika duduk di Meer Uirgebreid Lagere School (MULO) atau setara dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Hatta bergabung menjadi bendahara dalam sebuah perserikatan di Padang bernama Ong Sumatranen Bond Region Padang.

Dari situ, Hatta mulai menyadari pentingnya arti keuangan bagi sebuah organisasi. Sumber keuangan organisasi akan lancar ketika para anggotanya memiliki rasa disiplin dan  tanggung jawab terhadap kewajiban masing-masing.

Kemampuan dalam berorganisasi terus beliau asah, sampai pada bangku kuliah Hatta berhasil tergabung dalam perkumpulan pelajar Tanah Air di Belanda yaitu Indische Vereeniging. Setahun setelah menjadi bendahara, Hatta memberanikan diri untuk menjadi ketua organisasi tersebut.

Tanpa disadari keaktifannya dalam berorganisasi telah mengasah rasa peka dan peduli akan politik Tanah Air. Organisasi yang tadinya hanya berada di dalam kampus, kini menjadi besar setelah Suwardi Suryaningrat, Douwes Dekker, dan Tjipto Mangunkusumo ikut bergabung Indische Vereeniging. 

Indische Vereeniging memiliki pengaruh yang besar dalam peta perpolitikan Tanah Air karena memiliki tujuan mempersiapkan kemerdekaan. Hingga akhirnya, Indische Vereeniging berubah nama menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). 

Selanjutnya
Halaman

Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini