Dianggap Tak Prihatin Atas Kasus Kematian Nakes di Papua, Veronica Koman Berikan Penjelasan

Dianggap Tak Prihatin Atas Kasus Kematian Nakes di Papua, Veronica Koman Berikan Penjelasan Kredit Foto: (Foto: Ist.)

Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Veronica Koman dikecam netizen terkait komentarnya atas aksi pembakaran, penyerangan, dan pembunuhan yang salah satunya mengakibatkan kematian seorang tenaga kesehatan (nakes) wanita Gabriella Meilani di tangan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Organisasi Papua Merdeka OPM di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua. Baca Juga: Seorang Nakes Tewas Akibat Tindakan Brutal KKB, Begini Reaksi Kemenkes

"Tentara Pembebasan Nasional (Papua Barat) telah mengklaim bertanggung jawab atas pembakaran bangunan publik, termasuk sekolah dan klinik kesehatan pada Senin (13/9/2021). Seorang suster tewas, 4 lainnya terluka, seorang menghilang. 300 tenaga kesehatan di wilayah tersebut dievakuasi," tulisnya pada akun Twitter pribadinya seperti diterjemahkan pada Senin (20/9/2021).

Adapun cuitannya tersebut memperoleh beragam reaksi dari netizen. Sebagian mengecam cuitannya yang dinilai tidak prihatin terhadap korban lantaran hanya menyatakan 'seorang suster tewas' yang mana sementara kabar yang beredar adalah korban, yakni Gabriella kabarnya sampai ditelanjangi, dibacok, dilecehkan, hingga dibuang ke jurang. 

"Korban ditelanjangi, dibacok, dilecehkan, dibuang ke jurang. tulis yang lengkap. that's the truth," tegas akun @croixsanct mengutip cuitan Vero tersebut.

Dalam rangka menjawab sejumlah kritik atas cuitannya tersebut, Vero kemudian memberikan penjelasan lebih lanjut.

"Sebagaimana seorang seorang suster terbunuh akibat penyerangan ini, dibutuhkan investigasi lebih jauh oleh tim HAM. Seringkali, TNI melakukan fabrikasi terhadap kronologi, termasuk beberapa bulan lalu ketika seorang pendeta dipaksa untuk mengatakan bahwa OPM melakukan kekerasan seksual terhadap perempuan," sambungnya.

Alih-alih memperjelas, cuitan Vero tersebut justru semakin memperoleh serangan dari banyak pihak. Bahkan, Puteri Indonesia Perdamaian tahun 2015 asal Papua, Olvah Bwefar Alhamid turut mengecam cuitan Vero itu.

"Berapa banyak uang yang kamu peroleh dengan melakukan fabrikasi seluruh cerita HAM di Papua? STOP meremehkan kehidupan orang lain. Saya dari Papua dan saya menentang anda 100%. HAM, khususnya hak untuk hidup adalah untuk seluruh jiwa di planet ini; bukan hanya orang Papua," komentarnya, dikutip Senin (20/9/2021).

Vero semakin diserang ketika muncul berita berjudul 'Aksi Sadis di Papua Terhadap Nakes , Veronica Koman: TNI Memalsukan Kronolgi' terbit pada Minggu (19/9/2021). Adapun berita tersebut kini sudah dihapus setelah dituntut oleh Vero karena dianggap memelintir kata-katanya. Vero juga memberikan klarifikasi bahwa ia tidak pernah menuduh TNI memalsukan kronologi, melainkan hanya meminta investigasi independen dari Komisi Nasional (Komnas) HAM. Baca Juga: Veronica Koman Kena Jewer Ferdinand, Semoga Anda Menjadi Bidadari Bagi Teroris di Surga Mereka

"Saya tidak pernah vonis TNI palsukan kronologi, yang saya minta adalah investigasi independen dari Komnas HAM," jelasnya.

Vero sendiri telah menyatakan bahwa pembakaran, penyerangan, dan pembunuhan tersebut betul adanya dan OPM sendiri mengaku sebagai pelakunya. Selain itu, Vero juga mengaku sangat mengecam pelaku atas peristiwa tersebut. ia menyatakan mengutuk sekeras-kerasnya aksi tersebut.

"Atas aksi penyerangan terhadap tenaga kesehatan di Pegunungan Bintang saya mengecam dan mengutuk sekeras-kerasnya," tegasnya. 

Lebih lanjut, Vero juga menekankan bahwa nakes dan fasilitas kesehatan adalah kelompok sipil yang paling sakral dalam hukum humaniter sehingga tak boleh disakiti sedikitpun. Ia juga berharap agar pelaku pembunuhan dan penyerangan segera, minimal, diadili dan dihukum oleh struktur Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) sendiri. Baca Juga: Terkait Penyerangan di Papua, Komisi IX DPR Desak Jaminan Keamanan Terhadap Nakes

Hanya saja, ia masih menganggap kasus ini sebagai sebuah anomali karena terdapat 2 versi yang berbeda atas kronologi kejadian. Menurutnya, kronologi tersebut betul-betul butuh investigasi lebih lanjut. Bahkan ia juga menyebutkan bahwa Komando sentral OPM itu sebetulnya menaruh rasa hormat terhadap nakes dan guru.

"Bukan hanya saya yang menganggap peristiwa Kiriwok anomali. Komando sentral OPM itu menghormati nakes dan guru. Makanya butuh investigasi lebih jauh terkait motif, pemicu, dan kronologi, supaya peristiwa ini jangan sampai terulang lagi," paparnya.

Vero juga terus menuntut Komnas HAM agar melakukan investigasi atas kasus tersebut. Karena menurut informasi yang diperolehnya, terdapat dugaan aksi yang mencederai dari anggota TNI yang memancing terjadinya insiden tersebut.

"Saya ulangi panggilan saya kepada Komnas HAM agar melakukan investigasi penyerangan terhadap nakes di Pegunungan Bintang. Informasi dari sumber yang terpercaya menyebutkan bahwa terdapat dugaan aksi yang mencederai dari anggota TNI yang mana memancing terjadinya insiden tragis ini," ungkapnya.

Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini