PKS Ngegas Harga Migor Curah Nggak Turun-turun, Bulog Kena Semprot: Jangan Banyak Obral Janji!

PKS Ngegas Harga Migor Curah Nggak Turun-turun, Bulog Kena Semprot: Jangan Banyak Obral Janji! Kredit Foto: Akurat

Anggota Komisi VII DPR RI, Mulyanto, mendesak Bulog untuk tidak banyak berwacana dan obral janji terkait upaya normalisasi harga minyak goreng (migor) curah.

Menurutnya, dalam kondisi seperti sekarang yang dibutuhkan adalah kerja nyata, jadi masyarakat sangat menunggu aksi Bilog turunkan harga migor curah.

"Bulog sebaiknya langsung kerja ekstra keras segera mempersiapkan distribusi migor curah dengan baik agar sampai ke tangan masyarakat yang berhak. Bulog jangan melulu tenggelam pada birokrasi dan koordinasi antar kementerian," katanya kepada Populis.id pada Jumat (13/05/2022). 

Baca Juga: Bawa-bawa Mafia Minyak Goreng, Nicho Silalahi Dukung Jokowi Jadi Presiden Amerika Serikat Sekalian...

Mulyanto juga minta Kemenperin dan Kemendag harus mempercepat proses kerja Bulog, termasuk pengaturan kebijakan teknis dan koordinasi serta penyiapan pendanaan sebagai modal kerja pembelian migor dari produsen.

Sebab argometer kebijakan pelarangan ekspor CPO berjalan terus dengan harga mahal yang harus dibayar Pemerintah.

"Amanat kepada Bulog kan sudah hampir tiga minggu, namun tata niaga migor curah di lapangan tidak memperlihatkan perubahan yang berarti. Migor curah masih langka dan harga masih jauh di atas HET," terangnya.

Baca Juga: Alamak! Tak Dapat Belaan, Politisi PDIP Ini Malah Ikut Gerah Gegara Ruhut Posting Hoax Foto Anies Pakai Koteka

Menurut data PIHPS (pusat informasi harga pangan strategis) Nasional per Kamis 12 Mei, harga migor curah masih bertengger di angka Rp.19.000,- per kg dengan HET sebesar Rp.15.500,- per kg. Bahkan Mulyanto mendapat laporan di pasar muncul berbagai merek baru migor kemasan.  

"Artinya kemungkinan terjadinya re-packing migor curah menjadi migor kemasan sangat terbuka. Belum lagi peluang terjadinya penyimpangan migor curah ke pihak yang tidak berhak, seperti industri makanan dan minuman, perhotelan serta pariwisata," tegasnya.

Selain itu, ia juga menyebutkan bahwa dari sisi produksi juga tidak jelas, berapa banyak migor curah yang sudah digelontorkan. Jangan-jangan, kata dia, masih jauh di bawah target komitmen yang ditetapkan. Sementara penyelundupan CPO dan turunannya ke negara tetangga makin marak. 

Baca Juga: Pakar Pidana: Wajar Masyarakat Papua Polisikan Ruhut, Budaya yang Mereka Junjung Dihina!

"Bila hal ini benar, maka menjadi wajar saja kalau harga migor curah belum juga turun, meski pelarangan ekspor CPO sudah lewat tiga minggu. Sementara para petani sawit rakyat sudah pada berteriak bahkan menyatakan akan berdemo ke istana," terangnya.

"Karena harga tandan buah segar (TBS) mereka yang anjlok hampir Rp.1000 per kg di saat harga pupuk yang tinggi.  Belum lagi devisa negara hilang per hari sekitar Rp1 triliun dari potensi ekspor CPO dan turunannya," imbuhnya. 

Populis Discover

Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini