Polemik PSI Vs Viani Limardi, yang Satu Dituduh Pembangkang, Satu Lagi Disebut Memfitnah

Polemik PSI Vs Viani Limardi, yang Satu Dituduh Pembangkang, Satu Lagi Disebut Memfitnah Kredit Foto:

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) baru saja melayangkan surat pemecatan kepada salah seorang anggotanya, Viani Limardi. Wanita tersebut dipecat lantaran diduga telah melakukan penggelembungan dana reses DPRD DKI Jakarta beserta sejumlah perilaku buruk lainnya.

Viani Limardi disebut melakukan penggelembungan laporan penggunaan dana APBD untuk kegiatan reses senilai Rp 302 juta di 16 titik pada Maret 2021. Disebutkan dana tersebut tidak sesuai dengan riilnya, sementara kegiatan itu juga dilakukan secara rutin. Viani dinilai telah melanggar Pasal 5 angka 3 Aturan Perilaku Anggota legislatif PSI.

Padahal, seperti diketahui sebelumnya bahwa fraksi PSI di DPRD DKI kini sedang fokus menggagas penggunaan hak interpelasi terhadap Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan terkait program Formula E. Pemecatan Viani pun telah dikonfirmasi langsung Juru Bicara DPP PSI Ariyo Bimmo. 

"Betul, betul, betul diberhentikan," ujar Ariyo pada Senin (27/9/2021).

Ssurat pemecatannya tersebut ditandatangani langsung oleh Ketua Umum PSI Grace Natalie serta Sekretaris jenderal Raja Juli Antoni pada Sabtu (25/9/2021) lalu. Dalam surat tersebut, Viani tak hanya dipecat dari keanggotaan di DPRD DKI Jakarta mewakili Fraksi PSI, namun juga dari statusnya sebagai kader.

Adapun sebetulnya, ini bukanlah tuduhan perilaku buruk yang pertama kalinya dilakukan Viani selama dirinya kader. Viani diketahui sempat beberapa kali terjerat beberapa masalah pelanggaran aturan semasa kariernya di PSI.

Kasus dirinya yang paling terkenal dan sempat viral di jagat maya adalah saat dirinya kedapatan melakukan pelanggaran lalu lintas dengan menyerobot operasi ganjil-genap di Ibu Kota pada Agustus lalu. Saat itu, ia diberhentikan oleh petugas lalu lintas dan diperintahkan untuk memutar balik kendaraannya lantaran plat mobilnya tidak sesuai.

Alih-alih menurut, Viani justru sempat cekcok dan adu mulut dengan petugas. Saat itu, Viani mengaku heran karena selama ini tidak pernah ada masalah dirinya saat melintas di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan tersebut. Ia tidak terima disetop petugas dan dengan sombongnya membentak petugas tersebut.

"Gue yang buat aturan itu," katanya saat cekcok dengan petugas.

Sikapnya tersebut sangat disesalkan oleh banyak pihak, khususnya oleh pihak PSI sendiri. PSI yang juga terkena imbas sasaran kritik akibat ulah Viani juga saat itu telah menyampaikan permohonan maafnya atas ulah kadernya tersebut. Saat itu, Juru Bicara PSI Sigit Widodo angkat bicara terkait insiden tersebut.

"Intinya kami menyesalkan insiden itu dan minta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia atas kejadian yang tidak sepantasnya ini," katanya seperti dikutip dari GenPI.co, Rabu (29/9/2021). 

Meskipun secara umum PSI sudah menyampaikan maaf, banyak pihak yang menilai bahwa hal tersebut tidak cukup. Hal ini dikarenakan Viani secara pribadi masih belum menyampaikan permintaan maaf terbuka, bahkan hingga pemecatannya kini.

"Menunggu permintaan maaf yang bersangkutan via socmednya, tolong di RT (retweet)," sindir akun @Elzafi89 dikutip Rabu (29/9/2021).

Cuitan tersebut menarik perhatian dan bahkan direspons oleh Sigit Widodo.

"Saya RT (retweet). Saya pikir memang sudah sewajarnya jika Sis Viani meminta maaf secara terbuka. Terima kasih sudah ikut mengawal PSI. Mohon terus kritisi dan ingatkan kami jika ada kader-kader PSI yang bertindak di luar kepantasan," ungkap Sigit.

Tak hanya itu, sikap berbau pembangkangannya tersebut juga sempat terjadi pada akhir 2020 lalu, dimana dirinya kedapatan tengah merokok di dalam ruangan rapat saat rapat anggota DPRD DKI.

Selain itu, Viani juga disebut kerap tak mengindahkan instruksi partai, salah satunya instruksi untuk melakukan pemotongan gaji sebagai bentuk penanganan Covid-19 pada April 2020 lalu. Adapun instruksi tersebut telah dilakukan PSI sesuai Pasal 11 angka 7 Aturan Perilaku Anggota Legislatif PSI 2020.

Adapun atas sejumlah ulahnya tersebut, PSI sudah pernah menyampaikan sejumlah peringatan kepada Viani melalui dua kali pengiriman Surat Peringatan sebelum akhirnya Surat Keputusan (SK) DPP PSI Nomor 513/SK/DPP/2021 tentang Sanksi Pemberhentian Selamanya sebagai Anggota PSI terhadap Viani Limardi dilayangkan.

Ketua DPP PSI Tsamara Amany Alatas juga turut buka suara terkait pemecatan rekannya tersebut. Menurutnya, siapapun yang sudah tidak sesuai dengan nilai dan prinsip PSI, maka akan diberhentikan.

"Kalau sudah tak sesuai dengan nilai dan prinsip kami, maka tidak ada jalan lain selain pemberhentian. PSI punya tanggung jawab terhadap konstituennya," cuitnya dalam akun Twitternya, dikutip Rabu (29/9/2021).

Baca Juga: Viani Limardi Dipecat PSI Imbas Dugaan Penggelembungan Dana, Tsamara Amany Angkat Bicara

Terkait pemecatannya ini, Viani justru tidak terima dan menuntut balik PSI. Ia bahkan melayangkan gugatan dengan tuntutan sebesar Rp 1 triliun kepada PSI.

"Kali ini saya tidak akan tinggal diam dan saya akan melawan dan menggugat PSI sebesar Rp 1 triliun," tegasnya pada Selasa (28/9/2021).

Viani mengaku apa yang dituduhkan partainya dalam surat pemecatan tersebut merupakan fitnah yang busuk dan pembunuhan karakter atas dirinya. Terkait dana reses, ia memberikan komentarnya.

"Tidak ada sama sekali saya melakukan penggelembungan dana reses, itu fitnah yang sangat busuk dan bertujuan membunuh karakter saya," ungkapnya.

Wanita itu juga menyebut bahwa setiap dana reses yang diperolehnya selalu dituntaskan di setiap titik yang ia datangi. Ia bahkan menyebut terdapat sisa dana sebesar Rp 70 juta dikembalikan ke DPRD DKI. Ia menegaskan dirinya selalu mengembalikan sisa dana reses yang tak terpakai dan mempersilakan PSI untuk mengecek sendiri ke DPRD dan BPK.

"Lalu di mana penggelembungannya?," bantah Viani.

Tak hanya soal penggelembungan dana reses, viani merasa dirinya dituduh bertubi-tubi atas semua permasalahan yang disinggung dalam surat pemecatannya. Ia bahkan merasa dirinya tak pernah diberikan kesempatan untuk melakukan klarifikasi.

"Selama ini saya dilarang bicara bahkan tidak diberikan kesempatan untuk klarifikasi seperti contohnya pada kejadian ganjil genap lalu yang mengatakan bahwa saya ribut dengan petugas, bahkan saya harus minta maaf untuk sesuatu yang menurut saya tidak benar dan tidak saya lakukan," pungkasnya.

Adapun kini Viani tengan melakukan koordinasi dengan tim hukumnya untuk melancarkan gugatannya atas PSI. Ia memberikan sinyal kepada PSI agar bersiap-siap.

"Ini saya sedang koordinasi dengan tim hukum. Ditunggu tanggal mainnya ya," tandas Viani pada Selasa (28/9/2021).

Baca Juga: Dipecat PSI, Viani Limiardi Gugat Giring Cs Rp1Triliun, Bisa Bangkrut

Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini