Anies Baswedan Diserang Karena Kampanye Antirokok, Ulah Buzzer?

Anies Baswedan Diserang Karena Kampanye Antirokok, Ulah Buzzer? Kredit Foto: M Risyal Hidayat

Berbicara soal rokok memang tidak ada habisnya, banyak yang pro atas keberadaan tembakau adiktif tersebut, banyak pula yang kontra. Polemik terkait hal ini baru saja kembali menyeruak setelah akun Twitter @rokok_indonesia membahas terkait surat Gubernur DKI Anies Baswedan kepada Founder Bloomberg Philantropies, Michael R. Bloomberg terkait kampanye antirokok.

Dalam cuitan pada Jumat (1/10/2021) tersebut, akun Rokok Indonesia berdasarkan isi surat itu menuding Anies 'minta jatah' untuk kampanye antirokok sampai mengaitkan hal tersebut dengan Pemilu 2024 mendatang.

"Kenapa sih pada nyerang Anies Baswedan? Ya karena belio minta jatah ke bloomberg initiative buat kampanye antirokok," tulis akun tersebut pada Jumat (1/10/2021).

Baca Juga: Yang Tabah Ya Mas Anies, Usai Pensiun Kata Pengamat Anda Bakal Suram...

Cuitan tersebut dibuat menjadi sebuah utas yang membahas terkait masalah rokok, yang mana yang paling disoroti adalah terkait kebijakan penutupan display rokok di sejumlah fasilitas publik yang dinilai mendiskreditkan kalangan perokok serta status kretek sebagai salah satu produk legal dan kultural. 

Sebagai informasi, Gubernur Anies sebelumnya mengeluarkan Seruan Gubernur (Sergub) DKI Jakarta Nomor 8 Tahun 2021 tentang Pembinaan Kawasan Merokok dimana Anies memerintahkan untuk melakukan penutupan display rokok. Guna mendukung kampanye antirokok tersebut, maka Anies memutuskan untuk bertukar surat dengan Bloomberg Philantropies yang juga dikenal melakukan kampanye antirokok di Amerika Serikat.

Banyak yang memperdebatkan terkait kebijakan ini, yang anti rokok mendukung dengan alasan kesehatan melalui berbagai narasi seperti penyajian data jumlah perokok di Indonesia yang terlampau banyak, sampai terlalu mudahnya akses rokok di Indonesia hingga anak-anak pun bisa dengan mudah memperolehnya. Sementara yang pro rokok mengangkat narasi terkait didiskreditkannya kalangan perokok sampai mengangkat narasi bernada 'whataboutism' seperti membandingkan besaran ancaman rokok dengan ancaman gula.

Namun, terlepas dari perdebatan terkait rokok Vs Anti-rokok, sejumlah pihak justru menilai bahwa utas yang dibuat akun Rokok Indonesia tersebut justru bukanlah bentuk pembelaan terhadap kalangan perokok maupun rokok di indonesia, melainkan sebuah ajang politik untuk menjatuhkan Anies Baswedan. Hal ini salah satunya ditanggapi oleh Pendiri Drone Emprit dan Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi.

Pertama baca thread @rokok_indonesia saya kira ini untuk dukung kebijakan ABW (Anies Baswedan). Lanjutannya ternyata untuk nyerang Anies. Argumennya ndak masuk akal saya sih. Kl cari duit buat 2024, ya harusnya dukung rokok. Kebalik. Thanks Min, sy jd tercerahkan parahnya rokok di Ind.," tulis akun Twitter pribadinya @ismailfahmi seperti dikutip Senin (4/10/2021).

Tak hanya itu, Fahmi juga menyoroti beberapa bagian dari utas tersebut, salah satunya adalah ketika akun Rokok Indonesia berpendapat bahwa keputusan Anies bertukar surat dengan Bloomberg untuk komitmen kampanye anti rokok di DKI Jakarta memiliki indikasi pencarian dana untuk pemilu 2024 mendatang. Adapun bunyi bagian utas tersebut adalah sebagai berikut:

"Balik lagi ke Anies Baswedan, inisiasi bertukar surat dengan komitmen melarang rokok di daerah kekuasaannya (DKI Jakarta) ini ya bisa jadi alat tukar politik. Ingat bentar lagi 2024, waktunya cari dana bos," ujar akun Rokok Indonesia.

Menurut Fahmi, hal tersebut tak masuk di akalnya, karena apabila ingin menang pada 2024, harusnya Anies bersikap baik dengan industri rokok dan kalangan pemilih yang notabene banyak perokok. Justru sebaliknya, kebijakan ini malah bentuk 'bunuh diri' Anies di kancah politik, pengorbanan Anies untuk kesehatan di Indonesia.

"Ndak masuk akal saya. Kalau mau menang 2024, harusnya baik2 sama industri rokok, dan jangan melawan calon pemilih yg sy kira banyak dr kalangan perokok, dan bantu rakyat yg kerja di industri rokok. Ini kebijakan bunuh diri politik, demi kesehatan anak cucu kita," bantah Fahmi.

Baca Juga: Pilpres 2024, Anies Baswedan Berpeluang Besar Duet Bareng AHY

Selain itu, akun Rokok Indonesia juga sempat menyebut istilah 'gabener' pada bagian utasnya, yang mana menurut Fahmi merupakan istilah yang sering digunakan oleh para buzzer. Menurutnya, istilah 'gabener' dan 'goodbener' menunjukkan motif narasi politik.

"Harusnya mimin @rokok_indonesia sudah bener pakai sebutan Anies Baswedan di awal2, dan menahan diri ndak pake istilah yang sering digunakan oleh buzzer yaitu "gabener". Istilah "gabener" dan "goodbener" itu menunjukkan motif narasi politikm dan sejatinya kita di cluster mana," ujar Fahmi mengomentari salah satu bagian utas.

Adapun bagian utas tersebut berbunyi sebagai berikut:

"Tipikal elit politik macam begini, saran kami, menjadi pihak yang tak layak dipilih. Baru jadi gabener (Anies Baswedan) aja udah cari donoran dari pihak asing. Alat barternya, ya nasib jutaan rakyat Indonesia yang hidup dari kretek ini," lanjut akun tersebut.

Fahmi sendiri pun diketahui sebagai salah satu pendukung kampanye antirokok. Ia mengaku sangat mendukung DKI Jakarta untuk melakukan kampanye antirokok.

"Baru tahu kalau Gub @aniesbaswedan kirim surat keren ini ke Bloomberg. Ternyata Indonesia nomor 3 total jumlah perokok dunia. Makasih @rokok_indonesia, saya jadi makin mendukung DKI untuk kampanye anti rokok. Pernah sy 10 thn di Belanda. Jualan rokok sangat strict di sana," ungkap Fahmi.

Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini