Denny Siregar Vs Febri Diansyah, Soal Polemik KPK, Novel, dan Isu Taliban

Denny Siregar Vs Febri Diansyah, Soal Polemik KPK, Novel, dan Isu Taliban Kredit Foto: Instagram Denny Siregar

Menyusul dipecatnya Novel Baswedan beserta 56 pegawai KPK lainnya, isu terkait KPK yang disusupi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Taliban, dan semacamnya semakin hangat diperbincangkan. Baru-baru ini, seorang mantan sekuriti di KPK, Iwan Ismail baru saja membeberkan dirinya tak sengaja menemukan bendera yang diasumsikan HTI di sejumlah meja kerja di lantai 10 Gedung KPK. 

Adapun Iwan mengaku setelah memastikan beberapa kali, ia kemudian memutuskan untuk memotret bendera tersebut untuk dijadikan bahan laporan yang diduga penyebab kegaduhan KPK disusupi Taliban yang kabarnya merupakan salah satu penyebab diadakannya TWK guna 'membersihkan' KPK dari paham ekstremisme. Seperti diketahui, seorang ASN memang dilarang tegas berafiliasi dengan atau mendukung organisasi terlarang. 

Baca Juga: Sebut Novel Baswedan Pecat Pegawai yang Menemukan Bendera HTI di KPK, Denny Siregar: Karma itu Pedih, Kawan

Hal ini diperjelas lewat Surat Edaran Bersama No. 02/2021 dan No. 2/SE/I/2021 Menteri PANRB dan Kepala BKN tentang Larangan bagi ASN untuk Berafiliasi dengan dan/atau Mendukung Organisasi Terlarang dan/atau Organisasi Kemasyarakatan yang Dicabut Status Badan Hukumnya, ditandatangani pada 25 Januari 2021.

Iwan, sebelum melakukan niatnya untuk melaporkan bendera tersebut memutuskan untuk berkonsultasi di grup WA Banser Kabupaten Bandung. Namun secara tak sadar, foto bendera tersebut tersebar di media sosial dan menjadi viral. Hal inilah yang menyebabkan Iwan segera dipanggil menghadap pengawas internal KPK.

Pada akhirnya, Iwan justru dijadikan tersangka atas viralnya bendera tersebut yang berujung vonis pelanggaran kode etik. Ia pun akhirnya diberi dua pilihan, ancaman ke ranah sidang kode etik atau ancaman pemecatan secara tidak hormat. Iwan pun akhirnya dipecat.

Baca Juga: KPK Ungkap Fakta Pemecatan Satpam yang Sebarkan Foto Bendera HTI

Baru-baru ini, video wawancara pengakuan Iwan terkait kronologi kejadian kembali ditampilkan di Twitter oleh pegiat media sosial Denny Siregar. Denny pun turut menyinggung terkait 57 pegawai KPK yang diberhentikan pada cuitannya tersebut.

"Pengakuan Iwan Ismail, satpam @KPK_RI yang dipecat karena memotret bendera HTI.. Saya kok lebih percaya dia ya drpd pegawai2 @KPK_RI yang dipecat itu..," tulis Denny dengan mengunggah video dari detikcom tersebut, Senin (4/10/2021).

Tak lama, cuitannya tersebut langsung direspons oleh eks-Juru Bicara KPK Febri Diansyah. Ia menyinggung soal Denny yang memfitnah Novel Baswedan yang memecat Iwan sambil melampirkan tangkapan layar cuitan Denny pada Jumat (1/10/2021) lalu terkait pemecatan Iwan yang menurutnya dipecat Novel yang berbunyi:

"Iwan Ismail satpam lama @KPK_RI dipecat Novel Baswedan, karena memotret meja kerja yang ada bendera HTI. Novel Baswedan dipecat @kpk karena tdk lolos TWK. Orang bilang hidup itu tidak adil. Tapi ada saat keadilan itu datang dalam bentuk pembalasan yg lebih menyakitkan..," cuit Denny.

Baca Juga: Benar-Benar Nyelekit Omongan Denny Siregar: Novel Baswedan, Dengerin Baik-Baik, Karma Itu Pedih..

Tak lupa, Febri juga melampirkan utas dari mantan Pegawai KPK Tata Khoiriyah yang isinya menjelaskan terkait kontroversi bendera HTI di meja pegawai KPK tersebut.

"Bagaimana dg fitnah anda ini? Menuduh Novel @nazaqistsha memecat Satpam? Padahal foto diambil di lantai 10, ruangan Jaksa, bkn wilayah tugas satpam tsb dan justru disebarkan ke group eksternal? Silakan baca Thread @tatakhoiriyah jk benar ingin berimbang," balasnya dengan melampirkan utas dari Tata.

"Di twit ini anda @ Dennysiregar7 tulis Satpam dipecat Novel.. Padahal Novel Penyidik KPK yg tdk ada hub & tdk punya kewenangan berhentikan Pegawai. Padahal Novel berada di lantai lain & bendera yg difoto di meja jaksa di lantai berbeda. Kebohongan apa yg anda sebar? Untuk apa? Isu lama. Isu basi tentang "Taliban" ditiupkan kembali. Bertepatan bahkan dg hari2 terakhir 57 Pegawai KPK yg disingkirkan. Apa maksudnya? Skrg justru terbukti, bendera tsb tidak berada di mea 57 Pegawai KPK. Kebohongan tidak akan bertahan lama. Kecuali jika dibiarkan," sambung Febri.

Tak tinggal diam, Denny pun balik membalas komentar dari Febri tersebut. Menurutnya, Febri berlagak lugu dan berusaha menegaskan bahwa Novel memang memecat satpam tersebut.

"Gak usah sok lugu gitu deh, mas @febridiansyah. Saya tau anda orang pinter, kan gak mungkin tangan Nopel yang "bersih" dan jabatannya tinggi itu langsung memecat seorang Satpam. Tp kita jg tau betapa kuatnya pengaruh Nopel waktu itu. Dan fakta ini jgn diabaikan..," pungkas Denny.

Febri pun kembali mengeluarkan argumennya membalas Denny. Menurutnya, Denny memelintir fakta dan mencoba membela Novel yang dituduh oleh Denny.

"Mulai mlintir kan? Kemarin anda bilang Novel yg mecat. Skrg bicara pengaruh Novel. Memecat itu berbeda dg pengaruh.. Jabatan Novel tinggi? Ga juga. Ia bahkan bukan Pejabat Struktural. Di atasnya da 3 level sampai pimpinan. Coba buktikan fitnah anda bahwa Novel yg pecat Satpam...," bantah Febri.

Novel yg berada di lantai berbeda, tidak melakukan apa2, anda kaitkan & tuduh memecat Satpam. Dulu Novel jg difitnah pihak lain dg jauh lebih parah. Bahkan tubuhnya diserang berkali2. Skrg matanya rusak. Tapi @nazaqistsha berjalan terus karena yakin apa yg dilakukan benar," sambungnya.

Baca Juga: Gara-gara Novel Baswedan, Denny Siregar dan Febri Diansyah Saling Senggol Di Twitter

Adapun Novel turut merespons terkait adu cuitan antara Febri dan Denny. Sambil mengutip cuitan Febri, Novel berusaha menimpali dengan kata-kata bijak.

"Mas @febridiansyah "Sulit anda menjelaskan kepada lalat bahwa bunga lebih indah dari sampah", Kita tentu paham tdk semua org punya motif yg baik, kalo org sudah punya motif tdk baik, dijelaskan apapun akan sia-sia. Apalagi bila ada motif ekonomi, lebih parah," timpal Novel, dikutip Selasa (5/10/2021).

Tak berhenti di situ, Denny pun merespons Novel dengan nada sindiran kepada Novel. 

"Setidaknya lalat bisa kasih tau mana makanan busuk dan mana yang tidak. Makanan busuk biasanya dipecat, eh dibuang jauh2..," sindir Denny.

Ia juga mengeluhkan bahwa Novel hanyalah sok bijak, sementara itu, ia menyebut Novel dulu pernah menyiksa seorang pelaku pencurian sarang burung walet di Bengkulu, Irwansyah Siregar pada 2004 silam.

"Gua kalo baca twit si Nopel yang sok bijak itu, jadi pengen ketawa.. Keinget dulu dia nyiksa pencuri sarang burung..," tulis Denny.

Lebih lanjut, Denny juga melampirkan sebuah berita berjudul 'Cerita Irwansyah Ditembak, Diinjak, Hingga Disetrum Kemaluannya oleh Novel Baswedan' dan menyebut Novel sebagai seorang psikopat.

"Pengen denger @nazaqistsha keluarkan kata2 bijak untuk ini.. Tapi psiko emang gitu, di depan alimnya minta ampun. Eh pas dibelakang layar..," sambung Denny sambil mengunggah tautan berita yang terbit pada Februari 2016 tersebut.

Baca Juga: Sindir Denny Siregar, Novel Baswedan Rangkul Febri: Dijelaskan Apapun Akan Sia-sia!

Namun seperti diketahui, hingga kini tuduhan taliban kepada para Pegawai KPK yang diberhentikan tersebut memang belum terbukti. Terlebih lagi, mereka kini ditawari untuk menjadi ASN di Polri oleh kapolri. Hal ini juga yang membuat Febri menyebut isu bendera HTI dan Taliban adalah kegagalan.

"Isu bendera ini semakin membuktikan 58 Pegawai KPK yg disingkirkan adalah korban. Terbukti, bendera yg diinfokan sedemikian rupa seolah2 simbil "taliban" di KPK, ternyata tidak berada di meja kerja 58 Pegawai KPK tsb. Semakin membuktikan, begitu murahan isu "taliban" itu. Dugaan Saya, pihak yg singkirkan 58 Pegawai KPK sedang panik. Narasi murahan ttg "taliban" diruntuhkan oleh pernyataan Kapolri yg justru membuka pintu untuk para Pegawai KPK tsb. Tp krn ga ada isu lain yg bisa dipakai menyerang 58 Pegawai KPK, ya apa boleh buat yg basi diolah lagi," terang Febri. 

Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini