Serba-Serbi Bangkitnya Partai Buruh dan Kata Mereka Tentangnya

Serba-Serbi Bangkitnya Partai Buruh dan Kata Mereka Tentangnya Kredit Foto: Muhammad Adimaja

Nama Partai Buruh mungkin terdengar baru di telinga sebagian masyarakat, khususnya kalangan muda. Pasalnya, nama partai politik (parpol) ini baru terdengar beberapa hari belakangan dan langsung bermanuver dengan menyatakan siap untuk mengikuti ajang Pemilu 2024 mendatang.

Hal ini seperti diungkapkan oleh Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) sekaligus Presiden terpilih Partai Buruh, Said Iqbal, yang mengungkapkan Partai Buruh telah bangkit kembali atas dasar kesepakatannya bersama aliansi pekerja lainnya.

"Partai Buruh lama, dibangkitkan kembali dan Partai Buruh yang baru ini siap mengikuti Pemilu 2024," ujar Presiden Partai Buruh periode 2021-2026 tersebut. pada Sabtu (2/9/2021).

Baca Juga: Siap Tempur di Pemilu 2024, Partai Buruh Bangkit Lagi

Disebut bangkit karena memang Partai Buruh pada dasarnya bukanlah parpol baru. Parpol ini sudah memulai sepak terjangnya sejak masa-masa awal Reformasi, didirikan oleh Sonny Pudjisasono dan Muchtar Pakpahan. Untuk pertama kalinya, Partai Buruh mengikuti Pemilu pada 1999 silam dengan menyandang nama Partai Buruh Nasional (PBN), kemudian kembali mengikuti Pemilu 2004 dengan nama Partai Buruh Sosial Demokrat (PBSD).

Barulah pada 2009, nama Partai Buruh digunakan. Sejak usai periode Pemilu tersebut, Partai Buruh sudah tak terdengar lagi kiprahnya di kancah perpolitikan Indonesia. Mereka absen pada 2 periode Pemilu terakhir, yakni pada 2014 dan pada 2019 lalu.

Said mengungkapkan bahwa inisiasi kebangkitan Partai Buruh ini merupakan sebuah manifestasi kekecewaan para buruh atas disahkannya Undang-Undang (UU) Omnibus Law Cipta Kerja. Said juga meyakini bahwa suara kaum buruh, petani, nelayan, beserta konstituen Partai Buruh harus memiliki kesempatan yang sama di jalur parlemen.

"Partai ini bakal memperjuangkan nasib para buruh. Namun, jalur perjuangan gerakan tetap dilakukan oleh serikat," tegas Iqbal.

Menurut penilaian Iqbal, kebijakan terkait kesejahteraan pasti diputuskan secara politik. Maka dari itulah, dibutuhkan suatu partai yang secara politik mewakili buruh, petani, dan konstituen di parlemen melalui parpol. Selain itu, Iqbal juga mengatakan bahwa Partai Buruh atau Partai Sosial Demokrat yang konstituennya berbasis pada para buruh sudah ada di seluruh dunia.

"Hanya di Indonesia tidak ada Partai Buruh," ungkapnya.

Baca Juga: Said Iqbal Bangkitkan Partai Buruh, Siap Ikut Pemilu 2024

Adapun Partai Buruh baru saja menggelar deklarasi dan Kongres I di Hotel Grand Cempaka, Jakarta pada Selasa (5/9/2021) dan dipimpin oleh mantan Ketua Umum Partai Buruh, Sonny Pudjisasono. Kongres tersebut membahas perihal susunan pengurus partai yang mana memutuskan Iqbal untuk menjadi pimpinan partai, didampingi oleh Wakil Presiden Partai Buruh terpilih Agus Supriyadi.

Sementara itu, posisi Sekretaris Jenderal Partai Buruh diisi oleh Ferry Nuzarli dan Bendahara Umum Partai Buruh dipegang oleh Luthano Budyatno. Adapun Sonny Pudjisasono didapuk sebagai Ketua Badan Pendiri dan Ketua Majelis Rakyat Partai Buruh. Adapula Sekretaris Jenderal Satuan Petani Indonesia (SPI) Agus Ruli Ardiansyah ditempatkan sebagai Ketua Majelis Nasional Partai Buruh, sedangkan Presiden Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Riden Hatam Azis menjadi Ketua Mahkamah Partai Buruh.

Selanjutnya, Iqbal juga menyebut bahwa Partai Buruh memiliki susunan kepengurusan inti dengan 20 ketua bidang, mulai dari pengkaderan, pemilu, hingga ideologi. Ia juga mengaku Partai Buruh sudah menyusuh kepengurusan sesuai UU Pemilu, yakni dengan kepemilikan perwakilan di 34 provinsi dan terdapat pada 409 dari total 514 kabupaten/kota.

"Kami juga sudah terbentuk kepengurusan dari total kecamatan 7.242 kecamatan. Syaratnya 50 persen, jadi kalau dibagi 50 persen kalau dikali 50 persen ketemunya kecamatamn harus dipenuhi 3.621 kecamatan, kami sudah ada Partai Buruh di 1.450 kecamatan," paparnya.

Selain itu, terdapat 11 elemen buruh yang turut bergabung dalam deklarasi kembali kebangkitan Partai Buruh. Mereka terdiri dari pengurus Partai Buruh lama; KSPI; Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI); FSPMI; Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI); SPI; Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI); Federasi Serikat Pekerja Kimia, Energi, Pertambangan, Minyak, Gas Bumi, dan Umum (FSP KEP); Federasi Pekerja Farmasi dan Kesehatan Reformasi (FSP Farkes); Forum Pendidik dan Tenaga Honorer Swasta Indonesia (FPTHSI); dan Gerakan Perempuan Indonesai (GPI).

Dalam Kongres tersebut, Iqbal juga memaparkan terkait visiĀ  dari Partai Buruh yang mana tujuan utamanya adalah mewujudkan Indonesia sebagai negara yang sejahtera.

"Ada tiga prinsip dalam negara sejahtera, yang pertama kesetaraan kesempatan, distribusi kekayaan yang adil dan merata, serta tanggung jawab publik," ujarnya.

Adapun ketiga butir prinsip utama yang disebutkannya itu selanjutnya memiliki turunan menjadi 13 sasaran kerja partai, yang intinya antara lain kedaulatan rakyat, lapangan kerja, pemberantasan korupsi, jaminan sosial, kedaulatan pangan, ikan, dan ternak, upah yang layak.

Selain itu, filosofi dari lambang partai juga dijelaskan oleh Iqbal. Lambang tersebut merupkana cerminan atas tujuan bangkitnya Partai Buruh.

"Lambangnya itu padi dengan 33 butir dan 3 rumpun padi. Di bawah gambar padi ada tulisan Negara Sejahtera sebagai tujuan didirikannya Partai Buruh," terang Iqbal.

Adapun sumber pendanaan partai, kata Iqbal, akan berasal dari iuran yang ditarik dari estimasi 100 ribu kader militan yang akan membayar secara sukarela. Adapun untuk jumlah iuran, menurutnya telah disepakati sebesaar Rp 50 ribu setiap orangnya.

"100 ribu orang kader militan kami akan minta iuran untuk bayar secara sukarela dan itu sudah pernyataan siap 100 ribu anggota kader buruh, tani, nelayan, termasuk guru honor. Berarti, setiap kader nanti kita minta disepakati 50 ribu rupiah. Kalau dikali 100 ribu (kader) kan sudah hampir 5 miliar. Sudah mencukupi," jelasnya.

Awalnya, wacana pembangkitan kembali Partai Buruh sempat diragukan oleh Presiden KSBSI Elly Rosita Silaban. Menurutnya, prospek Partai Buruh suram, hal ini berangkat dari banyak sejarah pendirian partai berbasis buruh sering berakhir pilu.

"Karena kebanyakan berpikir akan sukses dengan jumlah potnesi suara pekerja yang masif," sebut Elly pada Minggu (3/10/2021).

Menurutnya, hanya segelintir partai berbasis buruh di dunia yang sukses, semisal Labour Party di Inggris beserta kelompok commonwealth countries-nya. Selain itu, yakni di Norwegia, Israel, dan Brasil dengan Partido Trabalhista yang memiliki kelompok kiri yang masif. Selebihnya, menurutnya, gagal total.

Namun, Direktur Eksekutif Indonesia Political Review Ujang Komarudin berpandangan lain. Menurutnya, kebangkitannya Partai Buruh merupakan suatu hal yang positif dan potensinya patut diperhitungkan, namun dengan syarat apabila partai ini mampu mempersatukan para buruh di Indonesia.

"Jika bisa mempersatukan para buruh, maka akan menjadi kekuatan yang bagus. Jika mampu dipersatukan semua elemen kaum buruh, maka akan menjadi partai yang diperhitungkan. Namun jika tak bisa bersatu, maka sulit untuk bisa bersaing dalam pemilu nanti," pungkas Ujang pada Minggu (3/10/2021).

Baca Juga: Said Iqbal Resmi Jadi Presiden Partai Buruh, Tolong Diingat ya Mas, Itu Bukan Partai Dinasti

Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini