Mantan Dewan Pembina Lembaga Kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT), Ahyudin mengaku tak mengetahui soal dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan Boeing. Ia menyebutkan sudah enam bulan tidak di lembaga yang sudah berdiri sejak 2005 itu.
Ahyudin menyebutkan yang lebih mengetahui soal dana CSR sebesar 138 Miliar adalah Ibnu Khajar, yang saat ini menjabat sebagai presiden ACT.
"Saya kan enam bulan ini tidak disana. Jadi progresnya berapa, ya mas Ibnu insyaallah lebih tau. Kalau saya disana saya beritahu semua," kata Ahyudin usai menjalani pemeriksaan keempat pada Rabu (13/07/2022).
Ia menyebutkan di pemeriksaan itu Ahyudin banyak dicecar terkait laporan keuangan ACT selama ini. Menurutnya, sejauh ini laporan keuangan ACT mendapat predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari audit.
"Perlu diketahui laporan keuangan ACT sejak tahun 2005 sampai 2020 semuanya sudah diaudit dan dapat predikat WTP. Insyaallah ACT menjadi lembaga pionir dalam hal laporan keuangan.
"Artinya kalau diaudit kemudian predikatnya WTP, mana mungkin kantor akuntan audit mau keluarkan hasil predikat itu kalau ada penyimpangan?," sambungnya.
Maka, ia mengklaim dengan predikat WTP dari akuntan publik merupakan bukti jika standar pengelolaan uang oleh ACT sudah profesional. Ahyudin mengaku tak ada penyelewengan atau penyalahgunaan dana.
Baca Juga: Astaga! Ribuan Pekerja ACT Terancam di PHK Massal, Imbas Penyelewengan Dana
Sementara itu, Presiden ACT Ibnu Khajar tak mau banyak berkomentar usai keluar dari gedung Bareskrim Polri. Ia hanya mengeluh kelelahan usai diperiksa hingga hampir pukul 24.00 WIB.
"Saya lelah, saya istirahat dulu ya. Saya lelah maraton 4 hari," tutur Ibnu.