Maraknya Pelecehan Seksual di Angkot, Begini Cara Pemprov Antisipasi!

Maraknya Pelecehan Seksual di Angkot, Begini Cara Pemprov Antisipasi! Kredit Foto: Akurat

Di zaman yang sudah modern ini, pelecehan seksual masih sering terjadi di sekitaran kita. Menengok kebelakang, banyak berita bermunculan mengenai pelecahan seksual dan kekerasan seksual terjadi. Bukan hanya terjadi di lingkungan terdidik, di lingkungan sosial tepatnya di transportasi umum marak terjadi pelecehan seksual.  Lalu, bagaimana cara Pemprov antisipasi kasus pelecehan seksual? 

Umumnya, pelecehan seksual banyak terjadi di angkot, transjakarta, maupun commuter line. Sudah banyak korban yang mengalami pelecahan seksual di 3 moda transportasi umum tersebut. Pengaduan sudah mereka lakukan namun tidak ditanggapi dengan serius. 

Melansir dari idntimes, selama rentang 2019-2021 ada 42 kasus pelecehan seksual yang dilaporkan terjadi di transportasi umum KRL. Sedangkan pada 2020 terdapat 7 kasus dan 2021 sebanyak 1 kasus, yakni kasus yang viral di Twitter tersebut. Namun jumlah ini hanya kasus yang dilaporkan, belum termasuk yang sering berkeliaran di media sosial lainnya. 

Untuk meminimalisir, mencegah, dan mengantisipasi pelecehan seksual, berikut ini cara yang dilakukan Pemprov: 

Rencana Pemisahan Tempat Duduk Wanita dan Pria di Angkot 

Baca Juga: Lakukan Pelecehan ke Istri Jenderal, Brigadir J Tewas Usai Ditembak Bharada E, Keluarga Respons Begini, Gak Nyangka!

Rencana Pemprov mengantisipasi pelecahan seksual adalah dengan memberlakukan rencana pemisahan tempat duduk wanita dan pria di angkot seperti Mikrotrans. Wanita dan pria nantinya akan dipisahkan tempat duduk. 

Wanita akan duduk di sebelah kiri dan pria akan duduk di sebelah kanan sehingga tidak ada lagi kontak fisik dan nantinya driver juga bisa turut mengawasi jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. 

Langkah ini diambil sebagai tindak lanjut atas kasus maraknya pelecahan seksual yang terjadi belakangan ini. Pun sama halnya dengan commuter line dan Transjakarta yang telah memiliki ruang tersendiri buat perempuan. Kebijakan ini belum berjalan karena beberapa menilai ini kurang efektif  

Adanya Layanan POS SAPA

Karena rencana pemisahan tempat duduk wanita dan pria di angkot dinilai kurang efektif, pemerintah mengeluarkan kebijakan baru yang bisa membantu meminimalkan pelecahan seksual yakni adanya layanan Pos Sapa

Pos Sapa adalah  Sahabat Perempuan dan Anak di moda transportasi melalui nomor aduan di 112. Saat ini, layanan Pos Sapa sudah ada di 23 halte TransJakarta, 13 stasiun MRT dan enam stasiun LRT Jakarta serta rencananya juga merambah angkutan kota. 

Setiap angkutan umum pun diwajibkan menempel stiker pengaduan pelecehan seksual di nomor 112 di tempat yang mudah terbaca oleh semua penumpang. 

Menyempurnakan SOP 

Baca Juga: Gibran Copot Direktur Teknik PDAM Solo Gegara Kasus Pelecehan Seksual, Begini Faktanya

Saat ini SOP juga dalam tahap penyempurnaan terutama terkait pelecehan seksual dan mengutamakan pelindungan korban. Dan harus memastikan supir memahami SOP terkait. 

Populis Discover

Terkait

Terpopuler

Video Pilihan

Terkini