Halo, Parpol Baru, Ekspektasinya Jangan Ketinggian, Biar Kalau Jatuh Gak Terlalu Sakit

Halo, Parpol Baru, Ekspektasinya Jangan Ketinggian, Biar Kalau Jatuh Gak Terlalu Sakit Kredit Foto: Tri Yari Kurniawan

Jelang Pemilu 2024, sejumlah partai politik (parpol) baru bermunculan. Perpol-parpol baru ini, layaknya parpol-parpol yang sudah lama kokoh berkecimpung di perpolitikan Tanah Air, juga turut berambisi besar untuk lolos parliamentary threshold (PT) 4 rbekal visi-misi mereka yang beragam.

Adapun dari banyaknya partai baru tersebut, sebut saja Partai Ummat besutan Amien Rais, Partai Gelora yang diperkuat Fahri Hamzah dan Anis Matta, Partai Buruh yang baru saja 'reborn' dan didukung oleh banyak elemen buruh, dan tentu saja, Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Selain mereka, masih banyak partai baru lainnya seperti Partai Keadilan dan Persatuan (PKPI), Partai Masyumi Reborn, Partai Rakyat Adil Makmur (Prima), dan lain-lain.

Banyaknya kemunculan parpol baru untuk gelaran Pemilu 2024 ini tentu saja merupakan hal baik. Hal ini karena membuat demokrasi di negeri ini masih berjalan dengan baik. Hal ini seperti diungkapkan oleh Pengamat Politik Djayahadi Hanan.

"Munculnya partai baru juga menunjukkan bahwa demokrasi kita masih memberi ruang untuk aspirasi atau keinginan politik dari kelompok-kelompok masyarakat yang ingin masuk ke gelanggang politik," ujarnya dikutip dari GenPI.co, Senin (11/10/2021).

Baca Juga: Parpol Baru Menjamur Jelang Pemilu 2024, Pendiri KedaiKopi Bilang Begini 

Meski begitu, sebagai parpol baru bukanlah hal mudah jika ingin masuk ke dalam kontestasi politik, terlebih apabila harus berhadapan dengan partai-partai besar seperti PDIP, Golkar, Demokrat, PKS, dan lain-lain. Belum lagi tantangan dari tokoh-tokoh besar non-partai seperti sebut saja Anies Baswedan, Ridwan Kamil, dan bahkan Habib Rizieq Shihab yang baru-baru ini konon memperoleh tingkat elektabilitas cukup tinggi.

Munculnya partai baru jelang pemilu sebenarnya bukan hal asing. Hampir setiap diadakannya pemilu sejak pemilu pertama pada 1995 silam, wajah-wajah baru acapkali muncul. Hanya saja sepanjang sejarah pemilu, sedikit sekali partai baru yang berhasil lolos ke parlemen, terlebih saat diterapkannya PT pada 2009. Pada tahun itu saja, hanya Gerindra dan Hanura yang mampu tembus ke parlemen sebagai parpol baru. Pada 2014 bahkan hanya NasDem yang berhasil, dan pada 2019 lalu, sama sekali tak ada partai baru yang bisa memasuki parlemen.

Padahal jika ditinjau, partai-partai baru yang muncul baik pada pemilu-pemilu sebelumnya maupun pemilu saat ini memiliki potensi yang besar. Banyak dari mereka yang mengusung ideologi-ideologi yang progresif dan menawarkan berbagai hal baru. Namun sistem pemilu proporsional terbuka yang menjadi sistem pemilu Indonesia sejak 2009 itu berbeda dengan sistem sebelumnya yang hanya murni adu kekuatan antar partai, belum ada kata 'caleg' seperti saat ini.

Partai-partai baru kebanyakan tidak bisa berkata banyak dalam pemilu pertama mereka. Sebut saja PSI yang dapat dikatakan gagal pada Pemilu 2019 lalu. Tak ada satupun dari PSI yang duduk di kursi DPR. Paling banter, PSI hanya tembus ke DPRD. Padahal sejak berdiri pada 2014, PSI digadang-gadang sebagai salah satu partai potensial. Mereka mengusung gaya milenial dan menjunjung tinggi isu-isu penting seperti keragaman sosial, toleransi agama, dan perempuan. 

Pemilu 2024 mungkin bukan yang pertama untuk PSI. Namun pengalaman tak lolos PT pada 2019 dan juga serangkaian masalah yang tengah menghujani PSI saat ini tentu menjadi salah satu batu kerikil yang harus dilewati Grace Natalie Cs apabila ingin berhasil pada Pemilu mendatang. 

Baca Juga: Hei Bro Giring, PSI Itu Parpol Lokal, Bisanya Cuma Urusin Wilayahnya Mas Anies

Pada kenyataannya, memenangkan hati masyarakat tak hanya menyoal ideologi saja. Pengamat Politik Ujang Komarudin menilai bahwa parpol baru harus memperkuat sisi ketokohan dan logistik. Mereka harus merekrut kader penyandang nama untuk ketokohan dan juga  kader penyandang dana untuk logistik. 

Pengamat Politik Hendri Satrio juga mengucapkan hal senada, setidaknya ada tiga syarat yang perlu dimiliki parpol baru, mulai dari ketokohan yang ada di dalamnya, dukungan secara logistik dan finansial, hingga kekuatan dari gerakan akar rumput. PSI tak kuat di akar rumput karena mayoritas yang mengenal dekat PSI saat ini adalah masyarakat ibu kota Jakarta.

Secara ketokohan, PSI memang menggaet sejumlah nama-nama beken, salah satunya Giring Nidji. Namun bukan beken di ranah politik. Partai Ummat yang justru memiliki Amien Rais yang setidaknya memenuhi kriteria ketokohan. Akan tetapi, Partai Ummat malah kini tengah berada dalam kekacauan karena baru saja secara beruntun ditinggalkan oleh sejumlah kadernya, seperti Neno Warisman dan Agung Mozin. Selain itu, Partai Ummat punya saingan utama, yakni PAN, parpol lama Amien. 

Selanjutnya, Partai Gelora juga memiliki tokoh yang cukup kuat, yakni Fahri Hamzah dan Anis Matta. Sama seperti Amien Rais, keduanya sudah lama dikenal malang melintang di dunia perpolitikan Indonesia. Meski begitu, Hendri Satrio menilai hal tersebut tidaklah cukup. Karena pada dasarnya, Partai Gelora sama seperti Partai Ummat, yakni sama-sama dibentuk atas dasar kekecewaan mantan kader partai sebelumnya, yakni Fahri Hamzah dan Anis Matta yang sebelumnya merupakan kader PKS.

Namun tampaknya, Partai Gelora saat ini tengah mulai berbenah dengan sejumlah manuver. Kabarnya, baru-baru ini Partai Gelora menawarkan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil untuk turut bergabung dengan partai. Seperti diketahui pula, Kang Emil (sapaan Ridwan) sebelumnya juga bernaung di PKS saat menjadi Wali Kota Bandung pada 2013 silam.

Baca Juga: Partai Ummat Hingga Gelora Disebut Sulit Bersaing di Pemilu 2024, Pengamat Bongkar Penyebabnya

Adapun Partai Buruh merupakan yang terbaru di antara partai-partai di atas. Meski pada dasarnya sudah hadir sejak 1999, Partai Buruh harus kembali berjuang untuk bertarung di kancah politik. Pasalnya, mereka sudah lama 'tertidur' dan baru kembali terbangun oleh Said Iqbal Cs. Partai Buruh menjadi satu-satunya parpol berlandaskan buruh di Indonesia, hal ini merupakan keunikan tersendiri. 

Meski begitu, nyatanya partai-partai besar lainnya juga turut mewakili buruh dengan sayap-sayap buruh yang mereka bentuk, sehingga dapat dikatakan tak semua buruh di Indonesia memihak kepada Partai Buruh. Selain itu secara historis, Partai Buruh di Indonesia selalu mengalami pengalaman pilu dan berujung gagal. Sejarah inipula yang membuat berbagai serikat buruh di Indonesia terpecah belah dalam pandangan politik, sehingga kembali lagi, tampaknya tak semua buruh di Indonesia memihak kepada Partai Buruh.

Selain itu, pendanaan Partai Buruh, menurut Said Iqbal sebagai Presiden, tampaknya masih belum matang. Kebijakan pendanaan masih bertumpu kepada iuran anggota yang mana sangat terbatas. Hal ini berlawanan dengan apa yang dikatakan Hendri Satrio, bahwa sebuah parpol baru sangat membutuhkan seorang figur yang menyandang dana kuat. Di partai buruh juga tak ada nama penyandang dana sebagai sosok yang mendukung dari sisi logistik seperti yang dikatakan Ujang Komarudin.

Adapun untuk partai-partai politik baru lainnya kurang lebih mengalami hal serupa. Sehingga dapat dikatakan parpol-parpol baru ini lebih baik untuk tidak berekspektasi terlalu tinggi dalam mengikuti pemilu-pemilu pertama mereka.

Baca Juga: Target Partai Buruh di Pemilu 2024 Tak Muluk-muluk, Hanya Incar....

Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini