Apresiasi untuk Para Eks-KPK yang Kini Banting Setir Jadi Petani, Pengurus Pesantren, hingga Jualan Nasgor

Apresiasi untuk Para Eks-KPK yang Kini Banting Setir Jadi Petani, Pengurus Pesantren, hingga Jualan Nasgor Kredit Foto: Reno Esnir

Setelah polemik pemecatan 58 orang pegawai KPK akibat kegagalan dalam Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), mereka terpencar-pencar dalam melanjutkan kiprah hidupnya masing-masing. Semua tahu, beberapa di antara mereka sebelumnya ditawari Kapolri untuk masuk ke dalam jajaran kepolisian.

Terlepas dari polemik yang penuh kontroversi tersebut, pada kenyataannya, banyak dari Novel Baswedan Cs ini justru banting setir jauh dari pekerjaannya semula sebagai pegawai di KPK. Banyak di antara mereka justru beralih menjadi pedagang makanan, pegawai bangunan, pengurus pondok pesantren, dan lain-lain. Adapun tawaran dari pihak Polri sebelumnya mereka apresiasi, namun masih belum menyatakan keputusan bulat untuk bergabung ataukah tidak.

Baca Juga: 56 Pegawai KPK yang Dipecat Akan Direkrut Polri, Apa Kata Mereka?

Di media sosial, salah satu pegawai KPK yang pertama kali ramai diperbincangkan adalah mantan pegawai Fungsional Biro Hukum KPK Juliandi Tigor Simanjuntak atau akrab disapa Bang Tigor yang kini berjualan nasi goreng. Ia membuka usahanya tersebut dengan berbekal gerobak lengkap dengan stiker bertuliskan "Nasi Goreng Rempah KS" yang berpangkalan di wilayah Jatirahayu, Pondok Melati, Bekasi.

Adapun Keputusannya untuk memilih berjualan nasi goreng tersebut menuai apresiasi dari berbagai kalangan. Banyak yang memuji kegigihan Tigor untuk mengisi waktu luangnya dengan berjualan nasi goreng. Sebut saja salah satunya dari Direktur Eksekutif PSHK Gita Putri Damayana yang menyampaikan apresiasi tinggi bagi Tigor.

"Perjalanan revisi UU KPK bisa sebegitu jauh membuat pegawai KPK Bang Tigor dipecat dan putar haluan berjualan nasi goreng. Setinggi-tingginya, sehormat-hormatnya Bang," ungkap Gita pada cuitannya, dikutip Selasa (12/10/2021).

Tak hanya itu, Tokoh NU sekaligus Profesor di Universitas Monash, Australia, Nadirsyah Hosen atau akrab disapan Gus Nadir juga turut mengapresiasi keputusan eks-KPK yang juga seorang aktivis gereja tersebut. Di saat yang sama, Nadir juga mengkritik mereka yang menggoreng isu KPK Taliban.

"Aktivis gereja kok mau-maunya jadi Taliban. Kayak gak ada Talirafia aja. Koruptor dan para cukong tertawa ngakak nih. Semangat terus ya Bang Tigor. Lebih terhormat dan bermartabat jualan nasi goreng, daripada mereka yg goreng-goreng isu KPK Taliban gak jelas gitu," tulis Gus Nadir, dikutip Selasa (12/10/2021).

Tak hanya itu, rekan-rekan sejawatnya di KPK, eks-Ketua Wadah KPK Yudi Purnomo Harahap bersama dengan eks-Penyidik Senior KPK Novel Baswedan bahkan mendatangi tempat Tigor berjualan dan menyicipi hidangan nasi goreng rempah buatannya. Novel yang turut membawa keluarganya kemudian mengungkapkan apresiasinya terhadap Tigor dan nasi gorengnya yang menurutnya enak sekali. 

"Jauh-jauh dari Kelapa Gading, makan Nasi Goreng Rempah bang Tigor, memang luar biasaaa. Semangat terus bro... Intergritasmu tak bisa dibeli," ujar Novel sambil mengunggah videonya tengah menyantap nasi goreng rempah Tigor, dikutip Selasa (12/10/2021).

Baca Juga: Mantan Pegawai KPK Jualan Nasi Goreng, Novel: Semangat Terus Bro, Integritasmu Tak Bisa Dibeli!

Selain Tigor, masih banyak pegawai KPK tak lolos TWK lainnya yang mengadu nasib di bidang lain, salah satunya adalah mantan Kepala Bagian Perancangan Peraturan dan Produk Hukum pada Biro Hukum KPK, Rasamala Aritonang. Kini, dirinya justru memilih untuk pulang ke kampung halamannya dan beralih profesi menjadi petani membantu keluarganya. 

Rasamala sendiri merupakan sahabat sekaligus mantan atasan Tigor di KPK yang saat ini memilih berjualan nasi goreng. Atas keputusannya memilih bertani, Gita Putri juga kembali menyampaikan apresiasinya terhadap sosok yang akrab disapa Bang Mala tersebut. 

"Bang Mala adalah kawan baik kami di @PSHKIndonesia dan @jentera. Masih ingat ketika Bang Mala menguji skripsi salah satu mahasiswa Jentera angkatan pertama yang lulus tahun 2019. Para pendukung revisi UU KPK dulu, ada yang berpikir ujungnya akan begini?" ungkap Gita.

Masih banyak lagi mantan pegawai KPK yang dipecat lainnya yang beralih profesi ke arah yang tidak terduga. Misalnya ada mantan Penyelidik Utama KPK (Kasatgas) yang juga seorang Doktor Hukum Harun Al Rasyid. Kini, pengikut NU yang akrab disapa Cak Harun tersebut memilih untuk mengelola pondok pesantren dan barang dagangannya untuk didistribusikan dan dijual ke sejumlah warung. 

Selain itu, adapula eks-pegawai KPK lainnya yang terpaksa menjadi kenek bangunan seperti yang dialami Heryanto, adapula yang belum melamar pekerjaan dan memilih berpulang kampung saja seperti mantan pegawai di satuan pengamanan KPK, Arfin Puspomelistyo.

Baca Juga: Terhempas Karena TWK, Kini Eks Pegawai KPK Jualan Nasi Goreng

Banyak di antara mereka yang justru dinilai berprestasi semasa masih menjadi pegawai aktif KPK. Tigor yang kini menjual nasi goreng, telah mengabdi di KPK selama belasan tahun dan dinilai sangat berpengalaman karena pernah mengikuti pelatihan Foreign Corrupt Practice Acts (FCPA) di Department of Justice, Amerika Serikat.

Selanjutnya Rasamala yang kini memilih bertani dulunya cukup berprestasi di KPK. Ia pernah mendampingi lima pimpinan KPK saat membahas RUU KUHP bersama Presiden Jokowi di Istana pada 2018 lalu. Ia bersama Tigor juga pernah diandalkan KPK saat menghadapi banjir pra-peradilan yang diajukan oleh para koruptor sejak tahun 2015.

Kemudian Harun dulunya merupakan salah satu penyelidik berprestasi di KPK dan menjadi banyak panutan junior. Konon banyak OTT yang ditanganinya bersama anggota satgas dalam beberapa tahun terakhir sehingga ia disematkan julukan "Raja OTT" oleh rekan-rekannya. 

Salah satu Pegawai KPK yang juga dipecat karena tak lolos TWK, Tata Khoiriyah memberikan apresiasi kepada 58 pegawai KPK yang bernasib sama dengan dirinya tersebut sambil juga mengungkapkan nasib para rekan-rekannya tersebut akibat ulah Firli Bahuri Cs.

"Karena hidup harus dijalani, seberat apapun tantangannya. Tidak semua dari 58 ini penyidik, atau fungsional. Ada beberapa rekan pramusaji dan pengamanan yg kena imbas diberhentikan. Merekalah yang paling rentan dan kelimpungan diberhentikan secara tidak adil oleh Firli Bahuri dkk," ujar Tata, dikutip Selasa (12/10/2021).

Baca Juga: Denny Siregar Bilang Taliban di KPK Bukan Sekedar Rumor, Febri Diansyah Meradang

Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini