Demo 212 Habisin Duit Negara Rp 100 M, Nama SBY Ikut Disebut Denny Siregar

Demo 212 Habisin Duit Negara Rp 100 M, Nama SBY Ikut Disebut Denny Siregar Kredit Foto: Instagram Denny Siregar

Podcast Deddy Corbuzier baru saja menayangkan konten baru, yakni sebuah sesi percakapan dengan salah satu aktivis media sosial yang dikenal kontroversial, yakni Denny Siregar. Konten tersebut diunggah Deddy pada Selasa (11/10/2021).

Adapun dalam podcast tersebut, Deddy mengakui bahwa Denny merupakan salah satu dari sekian bintang tamunya yang paling sulit diundang. Hal ini juga dinyatakan oleh Denny dalam cuitannya bahwa baru kali ini Deddy berani menayangkan konten bersamanya.

"Akhirnya om Deddy berani juga nayangin podcastnya ma gua. Udah gak takut diserbu kantornya..," cuit Denny, dikutip Rabu (12/10/2021).

Baca Juga: Oh... Ini Alasan Denny Siregar Kenceng Dukung Ganjar Jika Nyapres 2024

Sesi percakapan antara Deddy dan Denny pun berlangsung selama hampir seperempat jam. Mereka berdua memperbincangkan banyak hal mulai dari sisi Denny secara pribadi, juga pandangan-pandangan Denny dalam segi geopolitik baik di dalam maupun di luar negeri. Mereka juga sempat membahas terkait fenomena paham agama yang radikal dan ekstrimis yang marak terjadi.

Adapun Deddy membuka pertanyaan dengan menanyakan siapa sosok Denny Siregar sebenarnya. Hal ini diakuinya berangkat dari konten-konten Denny yang cenderung membela pemerintah atau kerap disapa istilah 'buzzeRp', namun terkadang juga menyerang pemerintah seperti halnya saat kondisi PPKM pandemi covid-19 beberapa waktu lalu. 

Denny pun menjawab bahwa ia menyerang pemerintah terkait hal yang darurat saja.

"Yang darurat. Kenapa gua serang? Karena bahaya. Kata-kata darurat apalagi dipertegas pada saat itu sebagai darurat militer. Nah ini gua kritik," ujarnya.

"Tapi kan itu pemerintah yang ngomong?" potong Deddy menekankan pandangannya atas Denny pembela pemerintah. Namun Denny pun mengklarifikasi terkait buruknya komunikasi pemerintah atas program-programnya yang padahal menurut Denny sudah baik.

"Gua selalu kritik. Pemerintah itu programnya bagus, komunikasinya itu buruk banget," pungkas Denny.

Denny pun menjelaskan bahwa tugasnya selama ini di media sosial adalah membantu menafsirkan apa yang disampaikan pemerintah terkait program-programnya, yang mana penyampaiannya cenderung teknikal sehingga membuat masyarakat sulit memahami. Deddy pun kemudian menanyakan untuk apa Denny melakukan hal tersebut jika memang ia tidak dibayar.

"Mungkin pada jaman Jokowi ini ya gua ngerasa punya pemerintah," jawab Denny.

Ia kemudian menyinggung terkait zaman-zaman sebelum Jokowi, secara khusus Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menurutnya tak terasa pemerintahannya. Ia bahkan menyebut zaman tersebut rasanya seperti tak memiliki seorang presiden.

"Yang gua liat saat itu kan pameran, pencitraan, dan gua gak suka," katanya terkait masa pemerintahan SBY.

Baca Juga: SBY Kembali Terima Penghargaan dari Demokrat, Denny Siregar: Dari SBY, Oleh SBY dan Untuk SBY...

"Nah ketika kemudian kita diberikan pemimpin yang baik, yang kemarin tidak ada dan gua selalu mencari jejaknya, masa dia gak gua bela?" imbuh Denny soal Jokowi.

Deddy pun kemudian mempertanyakan maksud pernyataan Denny terkait Jokowi pemimpi yang baik. Adapun Denny menjawab bahwa Jokowi melakukan banyak hal yang selama 10 tahun masa pemerintahan SBY tak dilakukan.

"Jalan tol, petral, Freeport, panjang daftarnya, Mas Ded. Ini kan yang dulu selama 10 tahun pemerintahan SBY gak pernah dilakukan dan selalu orang pada teriak," ungkap Denny.

Selain membahas terkait siapa sosok Denny dan terkait hal-hal yang dilakukannya sebagai pegiat media sosial selama ini, Denny juga menyinggung terkait Front Pembela Islam (FPI) serta paham-paham Islam radikal yang marak berkembang di tengah masyarakat Tanah Air maupun dunia.

"Yang gua heran, tiba-tiba di jaman pemerintahan Jokowi, ormas seperti FPI bisa disetop. Itu gila, lho," kata Deddy.

Denny pun menanggapi tanda tanya Deddy tersebut dengan mengisahkan pengalaman saat dirinya bertemu dengan Jokowi beberapa waktu lalu. Deddy menceritakan saat Jokowi berbagi cerita mengenai aksi Demonstrasi besar 4 November 2016 dan 21 Februari 2017, atau dikenal sebagai "Aksi 411" dan "Aksi 212" yang dibesut FPI beserta kroni-kroninya di DKI Jakarta.

Ia mengungkapkan bahwa menurut Jokowi, aksi demo yang mengangkat isu penistaan agama oleh eks-Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tersebut dalam waktu sehari telah menghabiskan uang negara hingga Rp 100 miliar. Uang tersebut merupakan dana pengamanan peserta demonstrasi agar tidak terjadi kerusuhan.

"Dia (Jokowi) cerita gini "kamu tau nggak berapa dana yang dikeluarkan pemerintah hanya untuk memberikan pengamanan supaya demo itu tidak menjadi rusuh? 100 miliar rupiah sehari! Bayangkan dengan dana itu, berapa puskemas yang saya bangun, berapa jalan di daerah pedalaman yang bisa saya buat, dan ini semua terbuang sia-sia hanya untuk sesuatu yang nggak ada gunanya," tutur Denny menirukan ucapan Jokowi padanya saat itu.

Baca Juga: Dibongkar Denny Siregar, Gegara Demo 212, Negara Harus Kehilangan Duit Rp100 M Per Hari

Adapun terkait kelompok-kelompok Islam radikal di Indonesia, menurut Denny selama 10 tahun pemerintahan SBY, mereka dipelihara secara tidak sengaja. 

"Hanya karena mungkin (SBY) tidak ingin ada kerusuhan, tidak ingin ada keributan. Semua tenang, semua bisa terkontrol," kata Denny.

Padahal, menurut Denny, ketika masa itu kelompok-kelompok tersebut menyebar makin luas masuk ke berbagai tempat, seperti pesantren, sekolah, dan lain-lain. Bahkan menurutnya pada 2012 silam, salah satu kelompok Islam ultra-konservatif Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang kini sudah dibubarkan pernah menguasai TVRI dan bicara soal khilafah. 

"Tahun 2012 itu, orang-orang itu begitu bangganya sama ISIS tau nggak? Buat mereka ISIS itu adalah pemimpin mereka, bahwa inilah saatnya kejayaan Islam dipimpin oleh kelompok ISIS. Dan mereka membangun propaganda-propaganda, dan itu di Indonesia, Mas Ded!" bebernya.

Denny pun menceritakan bagaimana sepak terjang para kelompok ekstrim berkedok Islam tersebut selama ini. Ia juga menjelaskan bagaimana ideologi mereka beserta kebusukan-kebusukan mereka. Denny pun mengakui bahwa sejak fenomena-fenomena tersebut meresahkannya, ia tergerak untuk berubah yang sebelumnya hanya menulis konten-konten spiritual, kehidupan, motivasi, dan sebagainya, jadi menulis konten-konten melawan radikalisme.

Baca Juga: Sebut Novel Baswedan Pecat Pegawai yang Menemukan Bendera HTI di KPK, Denny Siregar: Karma itu Pedih, Kawan

Denny pun menanyakan jika apa yang dilakukan oleh Denny tentunya menghasilkan banyak musuh bagi Denny, karena ia melawan sebuah ideologi.

"Lu kalo pengen liat catatan berapa kali gua disomasi, itu lu pasti ngeri. Itu baru somasi, (belum lagi) ancaman-ancaman," ungkap Denny.

Adapun menurut Denny, ancaman-ancaman tersebut bukanlah untuk membungkam dirinya, namun sebagai ajang kelompok-kelompok tersebut untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat bahwa mereka tidak main-main dengan ancamannya. Adapun menurut Denny, penting baginya untuk menunjukkan bahwa dirinya tidak takut dalam menghadapi kelompok-kelompok tersebut.

"Mereka tuh pengecut tau gak lu," kata Denny.

Adapun seluruh fenomena-fenomena di dunia terkait terbentuknya kelompok-kelompok radikal yang mana mengacaukan suatu negara semuanya didasari oleh dasar politik. Kelompok-kelompok tersebut dibentuk oleh suatu kekuatan di atas yang disokong oleh negara besar dengan memanfaatkan kepolosan masyarakat 'bodoh' sebagai pion. Menurut Denny, nyatanya orang-orang yang yang menjadi atasan kelompok justru menikmati hasil pengorbanan pion-pion tersebut.

"Ini semua tentang uang, tentang kekuasaan, nggak ada yang murni ideologinya, hanya orang-orang bodoh saja yang menganggap bahwa itu ideologi murni," kata Denny.

Baca Juga: Fadli Zon Rongrong Densus 88 Dibubarkan, Denny Curiga, Beneran Misinya Rangkul Genk Radikal?

Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini