Ketertarikan Fadli Zon Pada Islamophobia

Ketertarikan Fadli Zon Pada Islamophobia Kredit Foto: Twitter/Fadli Zon

Seperti diketahui, Politisi yang juga Mantan Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon beberapa waktu belakangan sempat menjadi sorotan akibat pernyataannya terkait pembubaran satuan anti-teroris Densus 88. Ia membawa narasi Islamophobia sebagai dasar atas pernyataannya tersebut.

Hal ini berawal dari pernyataan Direktur Pencegahan Densus 88, Kombes M Rosidi yang sebelumnya menyatakan bahwa keberhasilan Taliban kembali menguasai Afghanistan akan berdampak pada kelompok teroris di Tanah Air dan menginspirasi mereka untuk melakukan teror atas nama Agama Islam. Rosidi juga menyebut kelompok teroris di Indonesia kerap membuat narasi dengan membawa-bawa Taliban. Menurutnya, mereka mengagung-agungkan Taliban yang berhasil menduduki ibu kota Kabul kembali pasca invasi Amerika Serikat di Afghanistan.

Baca Juga: Fadli Zon Murka Sejadi-jadinya, Minta Densus 88 Dibubarkan Saja: Teroris Jangan Dijadikan Komoditas

Merespons hal ini, Fadli Zon pun mendesak pemerintah agar satuan anti-teror Polri tersebut sebaiknya dibubarkan saja karena dianggapnya menebar Islamophobia.

"Narasi semacam ini tak akan dipercaya rakyat lagi, berbau Islamofobia. Dunia sdh berubah, sebaiknya Densus 88 ini dibubarkan saja. Teroris memang harus diberantas, tapi jgn dijadikan komoditas," tulis Fadli Zon pada akun Twitter-nya mengomentari berita dari CNN Indonesia berjudul "Densus 88 Klaim Taliban Menginspirasi Teroris Indonesia", dikutip Kamis (14/10/2021).

Pernyataannya ini menimbulkan kritik dari banyak kalangan khususnya mereka yang sangat anti terhadap tindak pidana terorisme dan sangat mendukung kehadiran Densus 88 sebagai garda terdepan pembasmian para teroris di Tanah Air. Terlebih, Fadli turut membawa narasi Islamophobia sebagai dasar argumennya. Banyak yang menilai bahwa narasi yang digunakan tersebut merupakan alat politik Fadli untuk menarik simpati masyarakat, khususnya dari kalangan Muslim. 

Baca Juga: Setelah Sekian Prestasi Diukir Densus 88, Mengapa Fadli Zon Ingin Mereka Bubar?

Jika ditinjau lebih jauh, narasi Islamophobia sudah seringkali digunakan Fadli dalam setiap pernyataan-pernyataannya terhadap sesuatu. Sebelumnya pada Agustus 2021 lalu, Fadli juga sempat mengangkat narasi Islamophobia dalam mengkritik penyelenggaraan lomba menulis artikel bertema 'Hormat Bendera Menurut Hukum Islam' yang diselenggarakan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (PBIB).

Menurutnya, tema lomba yang diangkat BPIB tersebut merupakan produk Islamophobia karena cenderung menuduh Islam mempermasalahkan hormat bendera dan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

"Tema lomba BPIP ini menunjukkan betapa dangkalnya BPIP memahami Islam dan Pancasila. Ini produk Islamophobia akut dan cenderung menuduh Islam mempermasalahkan hormat bendera dan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Segeralah ganti tema agar tdk memecah belah bangsa," ujar Fadli pada cuitannya Agustus lalu, dikutip Kamis (14/10/2021).

Kemudian pada April 2021, politisi Partai Gerindra ini juga pernah memilih diksi Islamophobia pada kritiknya terhadap kasus tindakan Komisaris Independen PT Pelni (Persero) Dede Kristia Budhyarto yang mencopot beberapa pejabat perusahaannya karena menggelar pengajian Ramadhan tanpa seizin direksi.

Adapun Kajian yang digelar Badan Kerohanian Islam PT Pelni tersebut awalnya dinilai berbau radikalisme karena mengundang sejumlah pembicara yang tak memiliki izin direksi seperti Ustad Firanda Andirja, KH Cholil Nafis, Ustad Syafiq Riza Basalamah, Ustad Subhan Bawazier, dan Ustad Rizal Yuliar. 

Atas kejadian tersebut, Fadli pun memandang tindakan Dede Kristia sebagai tuduhan serius tak berdasar terkait radikalisme. Ia menilai tak melihat dasar atas tuduhan tersebut dan mempertanyakan siapa yang menurut Dede Kristia radikal, apakah panitia ataukan narasumbernya. Ia juga mempertanyakan jika panitia yang radikal, bagaimana PT Pelni sebagai BUMN bisa merekrut kalangan radikal yang mana dilarang oleh negara.

"Penyematan stigma radikal tanpa dasar jelas adalah wujud nyata sikap Islamophobia. Ironisnya, Islamophobia ini justru terjadi di perusahaan negara yang seharusnya jauh dari intrik dan sentimen politik," tanggapnya pada kasus ini lewat cuitannya, dikutip Kamis (14/10/2021).

Baca Juga: Denny Siregar Nggak Main-Main Bongkar Tujuan Fadli Zon, Mau Rangkul Genk.... untuk Pilpres!

Lalu pada September 2020 lalu, Fadli Zon juga sempat menuduh eks-Menteri Agama Fachrul Razi sebagai penganut Islamophobia karena memberikan pernyataan kontroversial terkait masuknya kelompok-kelompok berpaham radikalis di lingkungan ASN dan masyarakat dan dimulai di masjid-masjid. 

Hal ini memantik respons Fadli Zon untuk menyebut Fahcrul menganut Islamophobia dan mengimbau Presiden Jokowi agar mencopotnya dari jabatan Menteri Agama karena melontarkan pernyataan tidak layak dan hanya meresahkan masyarakat.

"Menteri Agama ini pernyataan-pernyataannya sering menimbulkan kecurigaan, salah paham, perselisihan, atau malah Islamophobia. Sebaiknya menteri ini diganti saja Pak Jokowi," tuntutnya lewat akun Twitternya, dikutip Kamis (14/10/2021).

Terakhir adalah pada Desember 2019 silam, ketika ia mengomentari Kementerian Agama yang mengeluarkan peraturan tentang Pendataan Majelis Taklim. Ia menilai peraturan yang terbit pada 13 November 2019 tersebut merupakan peraturan yang terpapar Islamophobia.

Adapun peraturan tersebut tercantum dalam Peraturan Menteri Agama Nomor 29 Tahun 2019 tentang Majelis Taklim. Pada Pasal 6 ayat (1) disebutkan bahwa majelis taklim harus terdaftar di Kementerian Agama. Lalu Pasal 9 dan 10 mengatur setiap majelis taklim harus memiliki surat keterangan terdaftar (SKT) dengan masa berlaku lima tahun. Kemudian pasa 19 menyatakan majelis taklim harus melaporkan kegiatan selama satu tahun paling lambat setiap 10 januari per tahunnya.

Kabarnya, konon peraturan ini dibuat guna menangkal paham radikalisme yang berpotensi masuk ke dalam majelis taklim. Sementara Fadli justru menilai bahwa Islam di Indonesia justru yang paling moderat di dunia dan jangan sampai dituduh dengan isu radikalisme.

"Saya kira peraturan itu terpapar Islamophobia. Jadi ini saya tidak tahu apa yang terjadi dengan elite ya, terutama di Kementerian Agama dan di beberapa tempat lain. Saya kira enggak ada yang lebih moderat dari umat Islam di Indonesia yang sangat bisa bertoleransi, bertepa selira. Betul-betul mempraktikkan suatu Islam rahmatan lil alamin gitu," katanya pada saat itu.

Baca Juga: Malas Beri Tanggapan, Mabes Polri Pamer Segudang Prestasi Densus 88, Pak Fadli Zon Lihat Tuh

Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini