Pakar Psikologi Forensik: Sambo Tak Harus Nembak Langsung Brigadir J Agar Dikenai Hukuman Mati, Eksploitasi Anak Buah Saja Sudah Bisa!

Pakar Psikologi Forensik: Sambo Tak Harus Nembak Langsung Brigadir J Agar Dikenai Hukuman Mati, Eksploitasi Anak Buah Saja Sudah Bisa! Kredit Foto: Taufik Idharudin

Pakar Psikologi Forensik, Reza Indragiri Amriel menegaskan Ferdy Sambo tak harus terbukti menembak langsung untuk bisa dijerat pasal pembunuhan berencana.

Ia menegaskan bahwa jika dilihat dari ilmu psikologi, tindakan Sambo yang mengeksploitasi anak buahnya sudah cukup alasan dihukum mati.

"Tak perlu menembak langsung. Mengotaki pembunuhan berencana pun sudah bisa dikenai hukuman mati. Apalagi ketika mengotakinya dilakukan dengan menyalahgunakan kedudukan guna mengeksploitasi inferioritas bawahan untuk kepentingan jahat," katanya saat dihubungi Populis.id pada Kamis (11/08/2022)

Baca Juga: Pengacara Brigadir J Ungkap Soal Dugaan Bisnis Haram Irjen Ferdy Sambo, Brigadir J Tahu Jadi Di Dor!

Ia juga menerangkan bahwa motif Irjen Sambo melakukan dugaan pembunuhan berencana terhadap Brigadir Josua tak perlu dibuktikan saat ini. Menurutnya, yang terpenting adalah adanya pebuatan pidana oleh Sambo. 

Reza menyebutkan bahwa motif Sambo nanti bisa dibuktikan saat di pengadilan. Karena motif nanti baru digunakan dalam pertimbangan hakim saat menyusun surat putusan.

"Dalam perkara pidana, sebetulnya motif tak terlalu penting. Sepanjang perilakunya terbukti sesuai konstruksi pasal, maka jalan pidananya. Motif baru berguna ketika hakim mempertimbangkan hal yang meringankan dan memberatkan. Tapi itu pun tak wajib untuk dilakukan," jelasnya.

Baca Juga: Hari Ini, Penyidik Timsus Polri Lakukan Pemeriksaan Terhadap Ferdy Sambo Sebagai Tersangka Kasus Brigadir J

Oleh karena itu Reza juga menekankan bahwa meski motif belum ditemukan, hal itu tidak bisa menjadi alasan untuk terhentinya proses penegakan hukum. Para pihak penegak hukum, kata dia, hanya perlu melihat peristiwanya apakah sudah sesuai pasal yang disangkakan atau belum.

"Jadi, motif bukan penentu berlanjut atau terhentinya proses pidana. Sepanjang terbukti perannya dalam pembunuhan dan jika ada pasca pembunuhan Brigadir J, maka sudah cukup untuk dipidana. Terbukti sesuai konstruksi 338 KUHP atau 340 KUHP," tuturnya.

Baca Juga: Terduga Penghina Iriana Diusir hingga Diarak Warga Setempat, Apa Benar?

Terkait

Terpopuler

Terkini

Populis Discover