Pakar Sebut Bodoh Kalau Anggap Bjorka dari Indonesia, Begini Faktanya

Pakar Sebut Bodoh Kalau Anggap Bjorka dari Indonesia, Begini Faktanya Kredit Foto: Twitter/Bjorka

Pakar keamanan siber, Alfons Tanujaya menanggapi aksi polisi yang menangkap terduga pelaku peretasan hacker Bjorka di Madiun. 

Menurutnya, hal yang perlu disoroti dalam kemunculan Bjorka adalah kelemahan pengelolaan data pemerintahan di Indonesia. 

"Nih malah messenger of bad news-nya yang mau ditangkap. Mungkin karena malu atau merasa bagaimana," ungkap Alfons dalam Apa Kabar Indonesia Pagi tvOne, Jumat (16/7). 

Baca Juga: Ngaku Dapat ‘Bocoran Istana’ Bahwa Jokowi Bakal Ganti Menkominfo, Hacker Bjorka: Bukan Idiot dari Partai..

Alfons mengatakan, Bjorka awalnya berusaha untuk menjual data. Ia mengaku terkejut saat melihat perubahan tujuan Bjorka. 

Ia juga menilai bodoh jika sejumlah pihak berspekulasi bahwa Bjorka adalah orang Indonesia atau berdomisili di Indonesia. 

"Dengan berbagai macam gaya bahasa dan dengan berbagai analisa, ada yang mengatakan dia orang Indonesia. Kalau saya bilang, kalau dia berdomisili di Indonesia, agak bodoh," tuturnya. 

Menurut Alfons, pengguna akun di internet yang mengetahui kredensial username dan password serta verifikasinya, itu dianggap sebagai pengguna asli. Sehingga, siapapun yang mengetahui kredensial suatu akun dianggap asli. 

Baca Juga: Dampak Bjorka Untuk PemIlu 2024, Masyarakat Bisa Gak Percaya Hasil Pemilu, Loh!

Alfons menuturkan, kredensial suatu akun menjadi identitas seseorang di internet. Siapapun yang memiliki kredensial akun tersebut adalah pengguna asli. 

"Kenapa bisa di Madiun? Kenapa bisa di Cirebon? Ya, komputer kan bisa diremote dari mana saja. Bagi peretas untuk menguasai suatu sistem, jika dia mempersiapkan diri dengan baik, ya bodoh banget kalau dia mengakses satu sistem dari komputer dia langsung," tandasnya. 

Baca Juga: Ikut Sholat Tahajud, Habib Rizieq Shihab Tiba-tiba Muncul di Reuni 212!

Terkait

Terpopuler

Terkini

Populis Discover