'Hasto Halu, Dendam Banget Dia Pung Bosnya Kalah Mulu Sama SBY'

'Hasto Halu, Dendam Banget Dia Pung Bosnya Kalah Mulu Sama SBY' Kredit Foto: Aditya Pradana Putra

Politikus Partai Demokrat Cipta Panca Laksana menyebut bahwa Sekjen Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto dendam karena bosnya kalah dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Yang dimaksud bos tentu saja adalah Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Saat itu ada sebuah pemberitaan dengan judul 'Hasto Siapkan Beasiswa Bagi Pembuat Kajian Akademis yang Bandingkan Jokowi dan SBY.'

Lantas Tokoh NU Umar Hasibuan atau Gus Umar langsung mencolek nama Panca.

"Uda @panca66 akan siapkan beasiswa bagi pembuat kajian akademisi yang bandingkan Harun Masiku dan Juliari batubara," kata @UmarHasibuann75 yang dikutip pada Minggu (24/10/2021).

Lantas Panca mengatakan "Hasto halu. Masa mau membandingkan SBY dan Jokowi. Dendam benar dia pung bosnya kalah 2 kali sama SBY, hahaha," tulis @panca66.

Baca Juga: Nama SBY Disinggung PDIP, Anak Buahnya Meradang: Hasto Ini Bagai Kodok Dalam Tempurung!

Semua berawal dari pernyataan Hasto soal Jokowi yang dikatakannya bekerja dengan melihat persoalan langsung dan turun ke bawah kemudian mendekatkan diri ke rakyat. Ia bilang PDIP bangga dengan kinerja Jokowi.

"Melihat akar persoalan pokok dari COVID-19 dan kemudian mencari solusi menyeluruh dimulai dari refocusing anggaran, kebijakan yang menyeimbangkan antara pembatasan sosial dan pertumbuhan ekonomi serta terdepan dalam pengadaan vaksin," kata Hasto, dalam webinar di kantor DPP PDIP, Jakarta, Kamis (21/10/2021).

Selain itu, Jokowi memiliki karakteristik yang berbeda dengan pemimpin lain. Perintahnya, baik di lapangan maupun rapat terbatas selalu cepat dieksekusi anak buahnya.

Baca Juga: Meradang Dengar SBY Diledek Orangnya Megawati, Pasukan Cikeas: Hei Hasto, Bangun, Ko Tidur Terlalu Miring, Bangun!

Lantas, ia membandingkan era Jokowi dengan pemerintahan 10 tahun sebelumnya. Di mana sebelumnya diisi Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan masa jabatan 2004-2014.

“Berbeda dengan pemerintahan 10 tahun sebelumnya, terlalu banyak rapat tidak mengambil keputusan," katanya.

Terkait

Terkini