Tragedi di stadion Kanjuruhan harus dijadikan bahan evaluasi oleh seluruh pihak untuk berbenah dan jangan sampai terulang kembali. Hal ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy.
"Sudah waktunya kita untuk berbenah, meningkatkan profesionalisme di dunia persepakbolaan. Termasuk di dalam penyelenggaraan, tata kelola, sarana prasarana pendukung termasuk sistem pengamanan," katanya pada Senin (10/10/2022).
Baca Juga: Polri: Belum Ada Jurnal Ilmiah yang Menyebut Gas Air Mata Akibatkan Orang Meninggal Dunia, Dampaknya Hanya...
Kemudian, ia melanjutkan, sistem pengamanan diusahakan bisa mematuhi sesuai standar FIFA. Sehingga, mencegah terjadinya pelanggaran dalam menerapkan prosedur keamanan yang dapat berakibat fatal.
Menurutnya, tragedi Kanjuruhan tersebut merupakan 'bencana sosial'. Pemerintah sudah melakukan tahap mitigasi, mulai dari mengidentifikasi korban yang dirawat maupun meninggal dunia hingga diserahkan kepada keluarga.
Ia menambahkan, semua biaya perawatan korban dan pengantaran jenazah ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah. Ia berharap tidak ada oknum yang meminta dana kepada korban maupun keluarga korban terkait hal tersebut.
"Jadi, sekali lagi kalau masih ada ketika mengangkut jenazah itu pihak ambulans mengenakan biaya, mohon biayanya dikembalikan pada ahli waris. Dan nanti dari pihak ambulans bisa minta ke pemerintah Pemkab setempat atau kepada Kemenko PMK nanti kita akan ganti. Jadi, seluruh pengobatan gratis," kata dia.
Ia mengingatkan kepada masyarakat yang masih takut berobat, takut bayar, datang saja segera ke rumah sakit sebelum cederanya berkepanjangan.
"Pemerintah saat ini juga sedang mengidentifikasi siapa saja korban yang meninggal dunia merupakan tulang punggung keluarganya. Supaya dapat diberikan bantuan sosial untuk mencegah timbulnya keluarga miskin baru," kata dia.
Baca Juga: Ketua Panpel Arema FC: Saya Sangat Bersedih, Apalagi Keponakan Saya juga Menjadi Korban dalam Tragedi ini...
Diketahui, jumlah korban meninggal dunia sebanyak 131 orang. Dari total korban tersebut, 90 orang di antaranya laki-laki dan 40 orang perempuan. Kebanyakan korban adalah remaja rentang usia 12 sampai 24 tahun. Sementara satu korban masih balita berusia 4 tahun.
Lihat Sumber Artikel di Republika Artikel ini merupakan kerja sama sindikasi konten antara Populis dengan Republika.