"Tetapi, apologi tanpa akuntabilitas jelas tak banyak bermanfaat. Seperti halnya frasa 'reformasi kepolisian'. Sudah membahana sejak puluhan tahun silam, dan digemakan lagi hari-hari belakangan ini, tetapi bagaimana reformasi itu akan dilakukan? entahlah," jelasnya.
Selanjutnya, Reza Indragiri mengatakan saat ini Polri terkesan bergerak ke paramiliteristik.
Penggunaan seragam loreng mirip tentara itu salah satu contohnya.
"Jadi, alih-alih memberlakukan seragam perang seperti itu, lebih baik polisi pakai baju berwarna terang. Terang mengirim pesan tenang, terbuka, santun, dan bisa didekati. Pangkat dan segala atribut disederhanakan saja. Versi gagahnya baru dipakai saat upacara," ujanya.
Sebelumnya, aksi sujud massal ratusan polisi yang viral di media sosial itu dipimpin Kapolresta Malang Kota Kombes Budi Hermanto saat apel pagi di halaman mapolresta setempat, Senin (10/10).
Apel tersebut dihadiri pejabat teras Polresta Malang Kota dan kapolsekta jajaran.
Budi semula berdoa bersama lalu memimpin seluruh peserta apel bersimpuh dan bersujud.
"Mari rekan-rekan semua, kami berdoa agar saudara-saudari kita, Aremania dan Aremanita korban tragedi Kanjuruhan bisa diterima di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan," kata Budi.
Lihat Sumber Artikel di JPNN.com Artikel ini merupakan kerja sama sindikasi konten antara Populis dengan JPNN.com.