Wakil Ketua Umum Partai NasDem Ahmad Ali menyebut Menko Marves Luhut B Pandjaitan menjadi salah satu figur yang layak menjadi calon wakil presiden pendamping Anies Baswedan.
Dia menyebut, Luhut punya atribut yang dapat diandalkan bila kelak memimpin Indonesia, salah satunya adalah kemampuannya menstabilkan kondisi negara, disamping itu, dia juga punya jaringan luas dan handal bernegosiasi.
“Kalau saya Luhut Binsar Pandjaitan menjadi salah satu figur. Kemudian dia mampu menstabilkan pemerintahan menurut saya," kata Ali kepada wartawan dikutip Jumat (21/10/2022).
Ali mengatakan, pasangan Anies - Luhut jelas sangat ideal, sebab Anies Baswedan selama ini kerap dicap sebagai tokoh yang berafiliasi dengan ormas-ormas keagamaan dan kelompok Islam garis keras. Dengan kehadiran Luhut sebagai pendamping Anies, maka isu-isu seperti itu dapat dinetralisir sebab Luhut adalah seorang Kristen yang taat.
"Yang terpenting, dia Batak dan Kristen. Itu yang menurut saya kalau seumpamanya Anies dengan Luhut, menurut saya satu pasangan yang sangat kombinasi. Kenapa? Anies yang dianggap terlalu kanan kalau berpasangan dengan Luhut, ada cobaan kiri yang bagus. Jadi posisi ke tengah, nasionalisnya jadi kalau banyak orang meragukan atau khawatir dengan ideologinya Anies, maka Pak Luhut menjadi penyeimbang itu,” tuturnya.
Meski demikian, Ali mengakui bahwa Capres-Cawapres masih perlu dibahas dengan Calon parpol koalisi. Saat ini, misalnya, NasDem tengah menjajaki Demokrat dan PKS.
Ia juga menyadari ada keinginan dari Demokrat untuk memasangkan Ketumnya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dengan Anies, sementara PKS mungkin punya kepentingan lain. Namun menurut Ali, NasDem mengedepankan politik kebangsaan sehingga tak masalah apabila bakal Cawapres Anies bukan berasal dari Parpol koalisi.
“Politik kita bagaimana Anies ini jadi presiden dengan pasangannya, kemudian nanti sirkulasi kekuasaan itu diatur parpol. Kalau kemudian kita kuat-kuatan untuk bekerja mengusung calon harus dari parpol] apa yang terjadi?” ujar dia.
“Kepercayaan masyarakat terhadap Parpol, generasi milenial yang hari ini jumlahnya begitu banyak akan semakin jauh dengan parpol. Pada akhirnya, anak muda kita tidak ada lagi keberanian untuk bermimpi jadi pemimpin di negeri ini karena ada pandangan Parpol lah yang pas untuk memimpin negeri ini,” tambah dia.