Niatnya Cari Keadilan, Ayah Korban Tragedi Kanjuruhan Justru Ngaku Diancam Polisi: Kok Berani Kamu?

Niatnya Cari Keadilan, Ayah Korban Tragedi Kanjuruhan Justru Ngaku Diancam Polisi: Kok Berani Kamu? Kredit Foto: Tangkapan layar/Twitter @somehatkoraww

Ayah dari korban tragedi Kanjuruhan, Devi Athok, tidak kuasa menahan tangisnya karena kehilangan dua putrinya sekaligus dalam peristiwa yang terjadi pada Sabtu (1/10/2022) lalu itu.

Demi memperjuangkan keadilan untuk anaknya dan korban tragedi Kanjuruhan lain, Devi pun mengizinkan kedua putrinya diautopsi untuk mengetahui penyebab meninggalnya ratusan jiwa dalam insiden maut tersebut.

Baca Juga: Anies Baswedan Safari Politik ke Medan, NasDem Sebut Warga Berjejer di Jalanan: Hujan Deras pun Mereka Tak Bergeser!

Pasalnya, Devi melihat jenazah sang anak membengkak hingga keluar darah dan busa dari hidung.

“Kepengin tahu penyebab kematian dari anak saya, dengan kematian yang janggal (diduga) karena gas air mata kedaluwarsa,” ucapnya dikutip Populis.id dari kanal YouTube KOMPASTV yang diunggah pada Sabtu (5/11/2022).

Ia menambahkan, “Keadaan jenazah itu membengkak, biru, dan keluar darah dari hidung, keluar busa, terus di celananya itu bau amis, keluar air kencingnya.”

Devi sendiri membantah keras kalau penyebab kematian anaknya disebut karena kehabisan oksigen dan terinjak-injak, ia yakin kedua anaknya meninggal dunia karena terkena gas air mata yang kadaluwarsa.

Ia menyatakan, “Kalau disebabkan kekurangan oksigen, saya membantah, saya nggak terima kalau dibilang penyebab anak saya kehabisan oksigen dan terinjak-injak. Ini karena gas air mata yang kedaluwarsa.”

Devi sendiri sempat mengalami kendala saat mengajukan autopsi karena ada ancaman dari oknum-oknum di kepolisian hingga membuatnya mencabut pengajuan tersebut.

“Waktu tanggal 10 (Oktober) itu saya memang mengajukan autopsi kepada pengacara saya. Enggak tahunya tanggal 11 ada tim kepolisian sudah mengetahui menelepon saya dan menanyakan, ‘Kok berani kamu mengajukan autopsi? Padahal pihak keluarga dari mantan istri tidak mengajukan’,” ungkapnya.

Devi melanjutkan, “Ya karena saya kepengin keadilan, agar terungkap. Lalu tanggal 12 didatangi lagi, tanggal 17 saya sudah menyerah wes, daripada banyak hal-hal yang enggak saya inginkan dengan keluarga saya, saya mencabut.”

Baca Juga: Kamaruddin Ngaku Dapat Informasi dari Intelijen Soal Pembunuhan Brigadir J, BIN Buka Suara, Enggak Nyangka Ternyata..

Usai mencabut permohonan tersebut, Devi tak menyerah hingga akhirnya ia kembali mengajukan permintaan autopsi pada 22 Oktober 2022 dengan disaksikan oleh kuasa hukumnya dan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Sayangnya, ancaman yang diterima oleh Devi masih berlanjut, ia bahkan diintimidasi oleh oknum-oknum polisi tersebut menggunakan pasal-pasal yang tidak dimengerti olehnya.

“Padahal saya rakyat, tidak mengetahui tentang KUHP atau apalah. Saya cuma ingin cari keadilan,” jelasnya.

Ia menyebut oknum polisi itu sempat mengatakan bahwa yang berhak mengajukan autopsi adalah pihak keluarga, sedangkan ia adalah ayah kandungnya. Istrinya sendiri sudah meninggal juga dalam tragedi Kanjuruhan itu.

Devi menjelaskan, “Yang disampaikan, bahwa yang mengajukan autopsi harus persetujuan dari keluarga. Padahal kalau menurut hukum, saya sebagai bapak kandung punya hak penuh atas kedua anak saya karena istri sudah meninggal.”

Oleh karena itu, ia menyayangkan sikap pihak-pihak yang masih mencoba untuk menutupi penyebab meninggalnya korban tragedi Kanjuruhan.

“Masa masih kurang? Sudah anak-anak saya dibantai, dibunuh seperti itu, saya masih dibulet-buletkan cari keadilan. Saya mau minta keadilan ke siapa lagi?” tanyanya menandaskan.

Terkait

Terpopuler

Terkini

Populis Discover