Nah Loh... Nasdem-PKS-Demokrat Disebut Kesulitan tentukan Nama Cawapres Anies, Kenapa?

Nah Loh... Nasdem-PKS-Demokrat Disebut Kesulitan tentukan Nama Cawapres Anies, Kenapa? Kredit Foto: Istimewa

Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis Agung Baskoro menyebut titik temu Nasdem-PKS-Demokrat dalam menentukan cawapres Anies sangat mempengaruhi soliditas koalisi ini.

Menurutnya, batalnya deklarasi koalisi dan pengumuman siapa yang bakal mendampingi Anies di posisi bakal Calon wakil presiden (cawapres), semakin memperkuat asumsi sulitnya ketiga parpol itu menemukan nama pemersatu yang akan mendampingi Anies. 

Baca Juga: Jokowi Lagi Sibuk Urus G20 Tapi Ditagih Ucapan Selamat HUT Nasdem, Politisi PDIP Berang: Urus Internasional Dikerdilkan ke Urusan Ecek-ecek!

Kesulitan menemukan sosok cawapres Anies ini, justru dinilai akan mempersulit soliditas koalisi Nasdem-PKS-Demokrat mengkristal menjadi Koalisi Perubahan Indonesia (KPI). Kata dia, menentukan nama cawapres Anies akan menjadi pekerjaan terberat, apalagi bila harus sesuai dengan kriteria Anies.

"Yakni sosok yang bisa mendongkrak suara, mampu menyolidkan koalisi, dan mampu memimpin agar koalisi ini tak layu sebelum berkembang," kata Agung, Ahad (13/11/2022).

Jika akhirnya, koalisi ini berujung bubar sebelum terbentuk, hanya karena sulit menemukan sosok cawapres Anies, maka Agung melihat, memang ada lobi tingkat tinggi, untuk membubarkan KPI ini. Dan bila itu terbukti, maka semakin dekat arahan bahwa pemilu esok paket pemilih hanya dua pasang saja yang semuanya bermuara pada Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) atau Koalisi Indonesia Raya (KIR).

Baca Juga: Cuma Jadi Jadi Duri dalam Daging, tapi Jokowi Nggak Berani Depak Paloh Cs dari Kabinet: NasDem Sudah Tahu Banyak Rahasia!

Menurut dia, hal itu bukan tidak mungkin. Karena tekanan ke Nasdem setelah partai besutan Surya Paloh ini mendeklarasikan Anies sebagai capres sangat besar. Berbagai lembaga survei memprediksi penurunan suara Nasdem, bahkan ancaman resuffle kabinet dari menteri Nasdem pun terus dimunculkan.

Terbaru, bahkan Presiden Joko Widodo tidak menghadiri HUT Partai Nasdem pada Jumat (11/11/2022), bahkan ucapan video dari Jokowi-pun tidak ada. Realitas politik tadi semakin memperkuat dugaan banyak kalangan bahwa hubungan Nasdem - Presiden Jokowi sedang berada di titik terendah (down) setelah selama ini berlangsung intim (up).

"Sayangnya relasi tersebut bertepuk sebelah tangan. Karena sebagaimana pidato Ketua Umumnya, Surya Paloh, masih menganggap Presiden Jokowi sebagai teman, namun sebaliknya ini tak bersambut oleh Jokowi," jelas Agung.

Baca Juga: Kelakuan Surya Paloh Cs Mirip Lagu Anak: Di Sana Senang di Sini Senang, Ikut Oposisi Senang, Ikut Jokowi Senang...

Agung menilai, Jokowi sepertinya benar-benar tidak ingin meng-endorse Anies di acara HUT Nasdem tersebut, sebagaimana Jokowi lakukan kepada Prabowo dan Airlangga di beberapa kesempatan. Sehingga dimaknai, Jokowi juga tidak ingin Nasdem mendapatkan Coat Tail Effect dari Anies, bila sanjungan itu disampaikan Jokowi, layaknya sanjungan Jokowi kepada Prabowo dan Airlangga.

"Langkah Nasdem itu menemui jalan terjal, terlebih ketika sosok Anies dianggap ‘antitesis’ Presiden Jokowi," imbuhnya.

Maka, Agung menilai bila akhirnya Nasdem menyerah dan koalisi tiga parpol ini layu sebelum berkembang, publik secara keseluruhan harus siap kembali dengan skema dua poros koalisi atau lebih, tanpa ada parpol yang mendukung Anies. Walaupun Agung masih meyakini, drama utak-atik koalisi ini akan terus berlanjut, dan bisa saja hal itu tidak terbukti.

Sebab, Agung masih menimbang, KIB saat ini bisa jadi semakin solid, dan Nasdem sejak awal telah menghasilkan tiga nama rekomendasi, sebelum resmi memutuskan nama Anies. Namun dalam kontes elektoral yang ketat dan tarikan politik yang kuat, semua hal masih bisa terjadi.

"Termasuk muncul tsunami politik atau keadaan luar biasa yang mengubah konstelasi politik koalisi saat ini, baik di partai maupun kepada capres-capresnya," ucapnya.

Lihat Sumber Artikel di Republika Artikel ini merupakan kerja sama sindikasi konten antara Populis dengan Republika.

Terkait

Terkini