Megawati adalah Banteng yang Tak Tergantikan di PDIP

Megawati adalah Banteng yang Tak Tergantikan di PDIP Kredit Foto: Fikri Yusuf

Mungkin sebagian masyarakat bertanya-tanya, mengapa sosok Megawati Soekarnoputri begitu tak tergantikan dalam menduduki kursi kepemimpinan PDIP. Sudah sekian generasi terlintas sejak Putri Presiden RI Pertama Ir. Soekarno itu pertama kali menduduki jabatan tersebut hingga detik ini.

Seperti diketahui, Megawati telah menjabat sebagai Ketua Umum Partai Banteng tersebut sejak 35 tahun lalu, tahun 1986-1996, tepatnya saat partai tersebut masih mengusung nama sebagai Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Kemudian saat Partai tersebut terpecah, ia pun berlanjut memimpin bentuk baru PDI, yakni PDI Perjuangan (PDIP) sejak tahun 1999 hingga 2024 mendatang.

Banyak yang menilai bahwa kepemimpinannya di PDIP yang menjaga partai tersebut dari perpecahan lah yang membuat kekuasaannya begitu langgeng. Karena sejak lama, telah banyak bermacam faksi-faksi yang terdapat dalam tubuh PDIP. Bahkan belakangan ini, faksi terlihat semakin mengental, bisa dilihat dari kasus polemik pencapresan antara kubu Puan Maharani dan kubu Ganjar Pranowo yang menghasilkan polemik internal 'Banteng Vs Celeng' yang hingga kini masih mencuat.

Baca Juga: Polemik Banteng Vs Celeng, Ternyata Oh Ternyata Bu Mega Ngamuk!

Namun dalam situasi tersebut, Mega dinilai memiliki kesabaran politik dan manajemen konflik yang baik. Ia begitu piawai dalam mengonsolidasi sejumlah faksi yang ada dan kerap saling berbenturan tersebut. 

Salah satu yang dinilai menjadi faktor tersebut adalah sosoknya sebagai perempuan yang mampu memimpin. Ia sejak kecil memang sudah memiliki karakter seorang pemimpin, karena memang ia pun merupakan putri dari salah satu sosok pemimpin terbaik sepanjang sejarah Tanah Air. 

Sementara itu, statusnya sebagai perempuan juga yang membuatnya tampil dengan permainan yang sifatnya lebih condong ke arah kolaboratif dan kooperatif. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Psikolog Nicole Lipkin dalam karyanya berjudul "Why Women Are Natural Born Leaders" yang menyebutkan kelebihan perempuan yang lebih kolaboratif dibanding laki-laki.

"Perempuan lebih tertarik pada kolaborasi daripada laki-laki. Laki-laki cenderung tertarik pada lingkungan kerja yang berorientasi tim hanya jika itu terbukti lebih efisien," kata Nicole, dikutip Rabu (3/11/2021).

Banyak pihak yang mengakui bahwa sosok Megawati di PDIP memang tak tergantikan. Hal ini seperti menafsirkan bahwa PDIP adalah Megawati, dan Megawati adalah PDIP. Para kader PDIP sendiri pun banyak yang berpendapat serupa terkait sosok Mega di PDIP. Kader PDIP banyak yang menganggap Mega sebagai sosok pemimpin karismatik dan tokoh pemersatu partai yang hingga saat ini belum tergantikan di PDIP.

Sebut saja Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto yang pernah menyinggung sosok Mega yang tak tergantingkan saat sebelum Kongres PDIP di 2015 silam.

"Suasana kebatinan dari seluruh jajaran struktural partai, dan juga berdasarkan aspirasi dari arus bawah memandang, bahwa Ibu Mega lah sosok yang sangat tepat untuk memimpin PDIP. Beliau tak tergantikan," katanya saat itu, dikutip detikcom, Rabu (3/11/2021).

Hasto saat itu menilai, bahwa Mega bukan hanya merupakan sosok figur yang mampu membangun partai di masa-masa sulit, namun juga mampu menjadikan PDIP sebagai partai yang setia pada ideologinya selama ini.

"Meskipun itu melalui jalan yang tidak mudah, beliau sukses mengantarkan PDIP menjadi pemenang Pemilu 2014, sekaligus menjadikan Pak Jokowi sebagai pengejahwantahan rakyat menjadi Presiden Republik Indonesia," tuturnya.

Memang sudah banyak sekali lika-liku yang dilalui Mega sebagai pimpinan Partai tersebut. Sebutlah salah satu yang terberat adalah saat sebelum PDI terpecah dan lahir PDIP, tepatnya pada 27 Juli 1996. Saat itu, PDI mengalami intervensi dari pihak rezim Orde Baru yang puncaknya adalah peristiwa perebutan Kantor DPP PDI di Menteng, yang mana dikenal sebagai Kudeta 27 Juli (Kudatuli).

Rasa butuh para kader terhadap sosok Mega juga pernah disinggung oleh Anggota Komisi III DPR RI Fraksi PDIP Arteria Dahlan saat menepis tudingan hoax terkait mundurnya Mega dari jabatan Ketua Umum pada Agustus lalu.

"Hoaks itu, Ibu Mega masih sangat dibutuhkan oleh kami-kami semua. Tidak bisa dibayangkan kalau partai ini tanpa ada beliau," tegasnya seperti dikutip dari Liputan6.com, Rabu (3/11/2021).

Ia menilai, bahwa Mega bukanlah sekadar pimpinan Partai, namun lebih dari itu, sosoknya adalah pengayom bagi para kader PDIP.

"Beliau tidak hanya sebagai Ketua Umum Partai, tapi sudah menjadi seorang ibu bagi kami-kami yang ada di partai. Kepemimpinan, pemikiran dan kebijakan-kebijakan beliau, masih sangat dibutuhkan tidak hanya bagi partai, juga bagi bangsa ini," imbuhnya.

"Ibu Mega tidak boleh mundur, karena beliau tidak tergantikan, bahkan tidak akan pernah tergantikan," ujarnya menekankan.

Dalam Kongres V pada 2019 lalu yang menjadi kongres paling anyar PDIP pun, Megawati masih secara aklamasi kembali memimpin PDIP. Hal ini diamini oleh seluruh kader PDIP di berbagai daerah layaknya Kongres-kongres sebelumnya.

"Belum ada (kandidat lain). Sampai saat ini hanya nama Bu Mega yang kuat, saya yakin aklamasi lagi, seluruh daerah minta Bu Mega untuk mau menjabat Ketum lagi," kata Politisi Senior PDIP Eva Kusuma Sundari pada Kongres tersebut, dikutip CNNIndonesia, Rabu (3/11/2021).

Baca Juga: Megawati Tak Demokratis!

Bahkan di luar kader PDIP, Eks-Wakil Presiden Indonesia dua kali Jusuf Kalla (JK) mengakui bagaimana posisi Megawati di PDIP yang memang sulit tergantikan. Pada 2017 lalu ketika muncul wacana pengunduran Megawati dari dunia politik, JK memuji Putri Proklamator RI tersebut sebagai sosok wanita pemimpin partai yang berwibawa. Ia menilai, Mega merupakan sosok yang lembut sekaligus tegas dalam bersikap.

"Ibu Megawati tentu kita sangat apresiasi, dan hargai beliau. Karena dalam perpolitikan Indonesia, jujur saja beliau ketua partai yang paling berwibawa. Artinya, apa permasalahan nasional ini orang akan minta konsutasi dengan beliau termasuk partai-partai karena beliau punya pendirian yang susah tergantikan. Di samping sejarah dia punya sifat tegas tapi keibuan. Susah itu ada orang tegas tapi bersifat ramah juga," kata JK saat itu.

Bagaimanapun, Megawati kini telah menginjak usia senja, yakni 74 tahun, yang mana tentunya mau tidak mau harus melepas jabatannya sebagai Ketua Umum ketika saatnya tiba.

Jikalau ada yang pantas menggantikannya, sejauh ini tak jauh dari anak-anaknya, yakni Puan Maharani dan Prananda Prabowo. Mereka berdua adalah sosok yang dinilai paling berpeluang menjadi suksesor Mega karena selain memiliki trah Soekarno, mereka juga dididik langsung oleh Mega di PDIP.

Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini