Pasca Jokowi Hadiri KTT G20, Begini Overproud-nya Orang Indonesia

Pasca Jokowi Hadiri KTT G20, Begini Overproud-nya Orang Indonesia Kredit Foto: Reuters/Erin Schaff

KTT G20 di Roma pada Minggu (31/10/2021) lalu mungkin merupakan sebuah hal yang sangat penting bagi sebagian masyarakat Indonesia. Pasalnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk pertama kalinya dipercaya memegang kursi Presidensi G20 untuk tahun 2022.

Indonesia sendiri pada kenyataannya menjadi negara berkembang pertama yang dipercaya untuk menduduki posisi tersebut. Terlebih, dengan didapuknya Indonesia sebagai tuan rumah KTT G20 selanjutnya, banyak yang menilai bahwa hal ini akan membawa banyak manfaat terhadap kemajuan Indonesia, khususnya di sektor ekonomi yang kini tengah ambruk.

Hal inilah yang sempat membuat sebagian masyarakat merasa berbangga diri melihat Presiden dan Negaranya seakan 'diperhatikan' oleh negara lain. Puja puji dilontarkan sejumlah pihak kepada Presiden Jokowi yang mereka anggap telah melakukan pencapaian luar biasa di dunia internasional sebagai Presiden dari negara dunia ketiga seperti Indonesia. Banyak dari mereka yang dengan bangga membagikan berbagai potret momen ketika Presiden Jokowi menghadiri KTT yang dihadiri banyak pemimpin dunia tersebut.

Namun uniknya, terkadang banyak yang seakan terlalu berlebihan atas pujiannya. Banyak yang bereaksi seakan-akan Indonesia dan Jokowi begitu berpengaruh di mata dunia dan menjadi 'aktor utama' dalam KTT tersebut. Sebutlah saat Presiden Emmanuel Macron dari Perancis memberikan sambutan terhadap Presiden Jokowi di akun Twitter-nya.

Baca Juga: Presiden Jokowi Dikawal di Perancis? Ah, yang Benar?

Dalam cuitan Macron, ia membahas mengenai hubungan kenegaraan antara Perancis dan Indonesia. Yang menjadi sorotan dari masyarakat adalah bagaimana Macron mencuit dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Sebagian dari netizen menganggap ini sebagai sebuah pengaruh besar Jokowi sampai Macron pun menggunakan Bahasa Indonesia dalam cuitannya untuk Indonesia dan Presiden Jokowi.

"Bersama jajaran mitra, kita akan terus bertindak agar kawasan Indo-Pasifik tetap menjadi ruang untuk perdamaian dan kerja sama. Perihal ini, Indonesia adalah pelaku utama, lebih dari sekadar mitra, yakni sahabat, @Jokowi yang terhormat," bunyi cuitan akun resmi Macron, dikutip Kamis (4/11/2021).

Padahal, Macron tak hanya melakukan hal tersebut kepada Indonesia dan Jokowi. Dalam sejumlah cuitannya yang lain, ia juga melakukan hal serupa dengan pimpinan negara lainnya seperti terhadap India dan Perdana Menterinya Narendra Modi, terhadap Perdana Menteri Italia Mario Draghi, Presiden Argentina Alberto Fernandez, ataupun dengan Kanselir Jerman Angela Merkel. Sehingga dapat dikatakan, hal tersebut bukan hal yang istimewa karena semua memperoleh perlakuan yang sama dari Macron.

Lebih jauh, kebanggaan berlebih tersebut terkadang digunakan oleh pihak-pihak terindikasi pendukung Jokowi untuk menyebarkan informasi yang kurang akurat. Sebutlah salah satu informasi dari akun @cagubnyinyir2 yang menyebarkan video penggalan pidato Pangeran Charles dari Inggris dalam KTT tersebut dengan mengangkat narasi seakan ia memuji Presiden Jokowi. 

"Pangeran Charles Puji Presiden Jokowi di Hadapan Pemimpin2 Negara Anggota G20, sebut Jokowi telah berjuang selamatkan alam Indonesia dan beri dampak besar pada upaya penyelamatan planet dari perubahan iklim @AgusYudhoyono @OSoekaryo @RuSoet118 @Genesis7173," kata akun tersebut dikutip Kamis (4/11/2021).

Padahal, hal ini sudah dikonfirmasi oleh TURNBACKHOAX.ID sebagai 'misleading content' atau konten yang menyesatkan karena tidak sesuai dengan kenyataannya. Bahkan, video tersebut di-edit sedemikian rupa agar terlihat lebih dramatis.

Faktanya Pangeran Charles dalam penggalan pidatonya itu hanya menyampaikan pernyataan terima kasih Pangeran Charles terhadap Perdana Menteri Italia Mario Draghi sebagai pemegang kursi Presidensi G20 2021 atas usahanya membawa isu perubahan iklim ke ranah global melalui G20. Terkait ucapannya terhadap Presiden Jokowi, ia bukan memuji dan mengucapkan terima kasih, melainkan menyampaikan harapannya kepada Jokowi untuk meneruskan usaha pendahulunya pada 2022 nanti sebagai pemegang kursi Presidensi G20.

Contoh lainnya adalah foto ketika Presiden Jokowi dirangkul oleh Macron dan disorot oleh mata pimpinan negara lain di sekitarnya yang diunggah oleh pegiat media sosial Denny Siregar dan juga oleh maestro musik Tanah Air Addie MS. Foto tersebut diunggah dengan mengangkat narasi seakan Presiden Jokowi menjadi perhatian para pemimpin lainnya.

"Perhatian banyak pemimpin negara G20 ke pakde @jokowi saat ini, bukan saja karena ia seorang Presiden, tapi ia adalah Presiden dari negara ke 4 terbesar di dunia yang sdg menuju menjadi negara besar di Asia Tenggara. Baru berasa punya Presiden.." kata Denny sambil melampirkan foto tersebut dalam cuitannya, dikutip Kamis (4/11/2021).

Faktanya, hal ini justru menjadi bahan cibiran bagi sebagian pihak lainnya yang membeberkan bahwa foto tersebut tidak begitu spesial karena pada dasarnya kejadian itu hanya berlangsung singkat dan tidak sesuai dengan narasi yang digemborkan. Belum lagi, foto tersebut merupakan potongan dari foto versi utuh yang mana Jokowi berdiri jauh di bagian pinggir, sementara di bagian tengah masih banyak pemimpin dunia lainnya yang faktanya tidak menjadikan Jokowi sorotan.

Terlebih, foto tersebut bukanlah foto Jokowi di KTT G20 tahun ini yang digelar di Roma, melainkan merupakan foto lama pada KTT G20 2019 lalu di Osaka, Jepang yang mana pihak Indonesia juga turut hadir sebagai anggota G20 sejak 2008 silam. Meskipun apa yang diunggah Denny dan Addie tidak termasuk hoax karena tidak mencatut tanggal kejadian, namun momen mereka mengunggah tersebut seakan menggiring opini masyarakat bahwa hal tersebut memang baru saja terjadi, karena memang diunggah setelah penyelenggaraan KTT G20 2021 di Roma.

Belum lagi narasi yang sempat diangkat di Twitter dengan tagar #JokowiDiseganiDunia hanya karena hal-hal yang terjadi pada KTT G20 yang mana, di mata sebagian masyarakat, merupakan hal spesial. Seperti bagaimana datangnya Jokowi ke lokasi KTT dan disambut dengan karpet merah, dilengkapi pasukan helm emas Italia, yang sebenarnya hal ini memang diperuntukan bukan hanya bagi Jokowi, namun bagi seluruh hadirin dalam KTT tersebut.

Adapun budaya yang dikenal dengan istilah overproud atau kebanggaan berlebih ini memang seakan sudah menjadi budaya yang mengakar di tengah masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia seakan begitu bangga apabila orang asing atau 'bule' menyinggung segala hal yang berkaitan dengan Indonesia. 

Baca Juga: Beneran Pangeran Charles Puji Jokowi? Ternyata Oh Ternyata...

Padahal, di pihak asing sendiri sebenarnya hal tersebut bukanlah hal besar. Mereka juga sering melakukan hal yang sama terhadap negara lainnya, hanya saja di Indonesia, mereka seakan memperoleh spotlight lebih dikarenakan reaksi masyarakat Indonesia sendiri yang memang kerap kali berlebihan terhadap orang asing yang tampaknya turut berpartisipasi dengan apapun yang menyangkut Indonesia dan seisinya.

Meski begitu, bukan berarti hal itu sepenuhnya buruk, justru apabila hal tersebut diarahkan dengan cara yang lebih 'elegan', mungkin rasa bangga tersebut bisa menjadi nilai tambah bagi Indonesia, seperti meningkatkan rasa nasionalisme dan cinta Tanah Air. Harapannya pula, Presiden Jokowi mampu menjalankan tugasnya dengan baik sebagai Presiden G20 2022 mendatang dan masyarakat bisa lebih berbangga diri dengan prestasi yang nyata.

Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini