Bom di Polsek Astana Anyar, Orang Demokrat Desak Perketat Keamanan di Markas Polisi: Jangan Kalau Ada Bom Seperti Kebakaran Jenggot!

Bom di Polsek Astana Anyar, Orang Demokrat Desak Perketat Keamanan di Markas Polisi: Jangan Kalau Ada Bom Seperti Kebakaran Jenggot! Kredit Foto: Twitter/@yusuf_dumdum

Anggota Komisi III DPR RI, Santoso menegaskan bahwa Polri perlu meningkatkan keamanan di setiap markasnya, dari tingkat Mabes hingga Polsek. Hal ini menyusul adanya ledakan bom bunuh diri di Polsek Astana Anyar, Bandung,  Jawa Barat, Rabu (7/12/2022) 

Santoso menyebutkan, perlu ada Standar Operasional Prosedur (SOP) soal keamanan kantor Polisi. Ia bahkan memberikan kritik keras, jangan sampai Polri seperti kebakaran jenggot setelah ada teror.

Baca Juga: Ada Tulisan KUHP Kafir di Motor Suzuki Smash Milik Bomber Polsek Astana Anyar, Orang Demokrat Merespons, Sebut-sebut Era Sebelum Jokowi

"Jangan kalau ada kejadian seperti kebakaran jenggot. Harus ada SOP, jangan sampai pelaku teroris bisa masuk di markas Polri," katanya kepada awak media pada Rabu (07/12/2022). 

Menurutnya, meski harus memperketat keamanan, tetap saja Polri jangan sampai mempersulit masyarakat yang mempunyai keperluan. Artinya, kata dia, pelayanan masyarakat tetap jalan sementara di sisi lain juga harus waspada dari serangan-serangan.

"Pengamanan yang lebih komprehensif, tapi juga tidak membatasi akses publik ke ranah kantor aparat keamanan," tuturnya.

Di sisi lain, dengan adanya kejadian ini ia menganggap program deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) kurang tepat. Bahkan ia menyebut BNPT kecolongan. 

Hal ini dikarenakan terduga pelaku bom Astana Anyar bernama Agus Sujatno alias Agus Muslim adalah mantan narapidana kasus bom Cicendo, Jawa Barat, dan telah dihukum penjara selama empat tahun di Nusakambangan.

Baca Juga: Suaminya Mati Konyol Setelah Bom Bunuh Diri, Istri Bomber Polsek Astana Anyar Ngaku ke Tetangga Agus Muslim Tewas Karena Kecelakaan

Baca Juga: Jelas-jelas Dia yang Ketahuan Bohong, Kuat Ma'ruf Malah Ngeles, Bilang Lie Detector yang Nipu, Kuat Oh.. Kuat!

"Peristiwa bom ini, BNPT kecolongan. Kalau dia sampai begitu ini, yah apa namannya dianggap metodenya kurang tepat yah. Mungkin bukan gagal tapi metodenya kurang tepat," tegas Santoso.

Menurut Santoso, program deradikalisasi kurang tepat tersebut terbukti ketika mantan narapidana teroris kembali melakukan tindakan terorisme. Seharusnya, BNPT bisa membina mantan napi terorisme agar tidak melakukan hal serupa.

Terkait

Terpopuler

Terkini

Populis Discover