Punya Data Lengkap, Polri, BNPT, dan BIN Punya Peran Penting Awasi Eks Napi Terorisme

Punya Data Lengkap, Polri, BNPT, dan BIN Punya Peran Penting Awasi Eks Napi Terorisme Kredit Foto: Abriawan Abhe

Pengamat Terorisme Direktur The Community Ideological Islamic Analyst (CIIA), Harits Abu Ulya menyebut bahwa Polri, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), dan Badan Intelijen Negara (BIN) memiliki peran penting dan posisi paling depan untuk menjamin keamanan serta ketentraman masyarakat, khususnya dalam isu terorisme.

Ia mengungkapkan, lembaga-lembaga ini memiliki data yang lengkap mengenai para narapidana maupun mantan narapida terorisme.

"Tentu mereka punya data lengkap, profil dari masing-masing orang napi terorisme dan mantan napi terorisme. Mereka punya standar, punya standar penilaian juga, mereka punya catatan nilai masing-masing orang," kata Harits dilansir dari republika pada Jumat (9/12/2022).

Baca Juga: Bom Bunuh Diri di Polsek Astana Anyar, Wapres Maruf: Terornya Kecil, Tapi Coreng Muka Indonesia Sebagai Negara...

Menurut dia, jika seseorang memiliki nilai merah atau masuk dalam kategori potensi bahaya (high risk) seharusnya Polri dan BNPT dapat melakukan pemantauan secara lebih intens.

Sehingga aparat keamanan bisa mengantisipasi maupun menyiapkan pencegahan dini terjadinya serangan yang dilakukan mantan napi terorisme.

"Kalau memang, jadi orang-orang tertentu itu ada nilai, skornya, merah atau punya potensi membahayakan, tentu monitoringnya (harus) lebih intens, lebih ketat agar sewaktu waktu bisa melakukan (tindakan) preentif, langkah-langkah pencegahan dini," ujarnya.

Baca Juga: Begini Nih Respons Gibran Rakabuming, Saat Rizal Ramli Posting Foto Undangan Pernikahan Kaesang-Erina, Terus Ngaku Tak Bisa Hadir

Harits mengatakan, tidak ada salahnya jika sebagian masyarakat mengganggap serangan bom bunuh diri di Polsek Astananyar, Bandung pada Rabu (7/12/2022) merupakan kecolongan dari pihak keamanan. Khususnya dalam hal ini, BNPT dan Polri. Sebab, mereka sebenarnya memiliki data atau profil pelaku.

"Artinya (pelaku) punya potensi yang membahayakan, apalagi bisa merakit bom dan sebagainya, dia enggak ikut deradikalisasi selama di lapas. Jadi begitu keluar kan harusnya ini ada upaya yang intens untuk monitoring (pemantauan)," jelas dia.

Lihat Sumber Artikel di Republika Artikel ini merupakan kerja sama sindikasi konten antara Populis dengan Republika.

Selanjutnya
Halaman

Terkait

Terpopuler

Terkini

Populis Discover