Hukum Mengucapkan Selamat Hari Natal Bagi Umat Islam, Begini Pandangan Muhammadiyah, Syarat dan Ketentuan Berlaku

Hukum Mengucapkan Selamat Hari Natal Bagi Umat Islam, Begini Pandangan Muhammadiyah, Syarat dan Ketentuan Berlaku Kredit Foto: Antara/Ardiansyah

Umat Nasrani sebentar lagi akan merayakan hari Natal 2022, pada 25 Desember 2022. Bagi umat Islam, perdebatan tentang mengucapkan selamat hari natal masih menjadi polemik di masyarakat.

Polemik yang selalu terjadi di setiap tahunnya ini berkaitan dengan istinbath al-hukmi, maka sejumlah ormas Islam, seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), serta Muhammadiyah mengeluarkan fatwa tentang hal tersebut.

Melansir Muhammadiyah.or.id, Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah membahasnya di Pengajian Tarjih pada Sabtu (24/12/2022) dengan Wawan Gunawan Abdul Wahid sebagai pembicara.

Menurut Wawan, para ulama berbeda pendapat terkait persoalan ini disebabkan oleh Ijtihad mereka dalam memahami generalitas (keumuman) ayat atau hadis. Ada ulama yang membolehkan pengucapan selamat hari natal karena dasar hukum mengikuti prosesi natal bagi mereka memang boleh. Ada pula ulama yang lebih memilih berhati-hati karena mengucapkan selamat natal berarti dia telah memberikan kesaksian palsu.

“Mengapa muncul perbedaan pandangan hukum? Ada beberapa sebab. Bisa dilihat dari penempatan persoalan ini adalah apakah mengucapkan selamat hari natal itu bagian dari persoalan keseharian belaka atau muamalah, atau apakah berkaitan dengan akidah?” tanya Wawan, dikutip dari laman Muhammadiyah, Rabu (24/12/2022).

Silang Pendapat dari Ulama

Para ulama yang mengharamkan pengucapan selamat hari natal karena berdasarkan penafsiran QS. Maryam ayat 23-26. Dalam ayat tersebut, Jibril memerintahkan Maryam yang sedang melahirkan Isa al Masih untuk meraih pangkal pohon kurma itu kearahnya lalu mengambil buahnya yang telah matang untuk dimakan. Kehadiran buah kurma memberikan isyarat bahwa kelahiran Isa al Masih bukan di musim dingin dan dengan demikian tanggal 25 Desember bukan kelahiran Putra Maryam tersebut.

Sementara para ulama yang membolehkan pengucapan selamat hari natal berlandaskan pada QS. Al Mumtahanah ayat 8. Dalam ayat tersebut, Allah tidak melarang untuk berbuat baik kepada orang-orang yang tidak memerangi umat Islam. Karenanya, mengucapkan selamat natal merupakan salah satu bentuk perbuatan baik kepada orang non-muslim, sehingga perbuatan tersebut diperbolehkan.

Baca Juga: Budayawan Ini Naik Pitam: Anies Kalau Didukung Jin Iprit Juga Diterima!

“Adanya perbedaan ini menunjukkan adanya keragaman pemahaman akan nash. Teksnya sama, ayatnya sama, bagi kelompok yang membolehkan (ucapan selamat natal) QS. Al Mumtahanah ayat 8 itu digunakan, tapi bagi yang mengharamkan tidak mendasarkan pada Al Mumtahanah ayat 8,” jelas Wawan.

Selanjutnya
Halaman

Terkait

Terpopuler

Terkini

Populis Discover