Keras Kepalanya PA 212 untuk Tetap Gelar Reuni di Tengah Pandemi

Keras Kepalanya PA 212 untuk Tetap Gelar Reuni di Tengah Pandemi Kredit Foto: ANTARA FOTO/Aruna

Wacana terkait penyelenggaraan reuni Persaudaraan Alumni (PA) 212 pada 2 Desember mendatang semakin menguat dengan keyakinan dari pihak PA 212 sendiri yang sangat menghendaki acara tersebut akan terlaksana. Meski begitu, semua tahu bahwa acara tersebut memperoleh banyak kritik dari banyak pihak karena berpotensi menciptakan klaster virus Covid-19 yang baru.

Seperti diketahui, acara reuni PA 212 sendiri memang sudah rutin diselenggarakan di setiap tahunnya sejak pertama kali kelompok tersebut terbentuk, yakni pada 2016 kala kasus penistaan agama Islam oleh eks-Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) memanas. Kasus tersebut berdampak pada protes sebagian besar umat Islam Indonesia yang kemudian melalui komando eks-Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab, terlahir mobilisasi massa yang puncaknya terjadi pada 2 Desember 2016 di Monas, menuntut agar Ahok diproses secara hukum. 

Massa yang tergabung dalam kelompok aksi yang dinamakan sebagai 'Aksi Damai 212' atau 'Aksi Bela Islam' tersebut selanjutnya terbentuk menjadi sebuah kelompok, yakni PA 212 yang kemudian menjadi salah satu basis massa Islam yang secara rutin menjadikan momentum aksi 212 sebagai acara tahunan yang diselenggarakan mulai 2017 hingga 2020.

Adapun sejak 2017 hingga 2019, mereka selalu mengadakan acara reuni dengan turun ke jalan dan berdemonstrasi mengangkat isu-isu yang menjadi perhatian mereka. Barulah pada 2020, pertama kalinya jalanan tidak diramaikan oleh mereka karena dampak pandemi yang sedang parah, di samping pihak PA 212 mengaku bahwa reuni tetap terlaksana namun secara virtual.

Barulah tahun ini, mereka berencana untuk kembali menggelar reuni secara tatap muka pada 2 Desember 2021, sehubungan dengan pandemi di Indonesia yang tampak semakin melandai serta penyuntikan vaksin yang mulai merata. Hal tersebut dikonfirmasi oleh Ketua PA 212 Slamet Maarif.

"Insya Allah (Reuni 212) digelar 2 Desember 2021)," katanya.

Hal senada juga diamini oleh Wasekjen sekaligus Juru Bicara PA 212 Novel Bamukmin. Ia juga mengkonfirmasikan bahwa reuni tersebut direncanakan akan digelar di tempat seperti biasanya, yakni di Monas.

"Insya Allah jadi untuk reuni akbar 212 dan untuk tempat seperti biasanya di monas," ujarnya.

Baca Juga: Slamet Ma'arif Dkk Siap Gelar Reuni Akbar 212

Meski begitu, keduanya masih menyebut bahwa untuk struktur acara dan rencana di lapangan masih dalam pembahasan internal pihak PA 212. Mereka hanya menegaskan bahwa acara tersebut agar terlaksana sesuai yang dikehendaki, salah satunya adalah mengangkat isu tuntutan pengusutan kasus penembakan 6 laskar FPI dan pembebasan Habib Rizieq Shihab dari penjara.

Namun apapun alasannya, rencana reuni tersebut justru memperoleh banyak kritik dari sebagian besar masyarakat. Banyak yang menilai bagaimanapun melandainya pandemi saat ini tak berarti pandemi tersebut sudah hilang dan bukan mustahil apabila penyebaran virus di Ibu Kota akan semakin meningkat karena dampak acara tersebut.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria (Ariza) juga justru merasa keberatan dengan rencana reuni tersebut. Ariza meminta agar PA 212 memikirkan lagi rencana mereka untuk menggelar reuni 212. Hal ini disebabkan sekarang ini Jakarta masih dalam kondisi pandemi, sehingga kegiatan itu ditakuti dapat memicu ledakan corona yang sekarang ini sudah perlahan berhasil dikendalikan pemerintah.

"Nanti kita akan lihat ya. Sejauh ini kami minta, karena ini masa pandemi tentu harapan kita semua kegiatan-kegiatan yang dapat menimbulkan kerumunan dan berpotensi penyebaran kita harap dipikirkan kembali, dipertimbangkan kembali sampai Jakarta betul-betul aman," kata Ariza pada Minggu (7/11/2021).

Adapun Monas sendiri kabarnya masih belum mendapatkan izin untuk penyelenggaraan acara umum yang menimbulkan kerumunan dalam jumlah besar. Hal ini dikonfirmasi oleh Kepala UPT Monumen Nasional Pemprov DKI Jakarta Isa Sarnuri.

"Sampai saat ini (Monas) belum dibuka untuk umum," tegasnya.

Baca Juga: Wagub DKI Keberatan Dengan Reuni 212, Novel Bamukmin Teriak: Nanti Acara di Monas!

Tak hanya itu, sejumlah partai politik Islam juga turut menyarankan kepada PA 212 agar berpikir kembali apabila ingin mengadakan acara reuni tersebut. Pasalnya, Indonesia kini masih belum tuntas dalam menangani pandemi meskipun sudah mengalami sejumlah kemajuan. Hal ini seperti diungkapkan oleh Waketum PPP Arsul Sani yang menyarankan agar PA 212 menimbang manfaat dan mudarat dari berkumpul dengan jumlah massa besar di tengah pandemi.

"PPP yakin bahwa umat Islam ketika menjelang pelaksanaan (reuni PA 212) juga akan melihat 'manfaat dan mudaratnya' dari berkumpulnya banyak orang, utamanya dengan akan melihat situasi pandemi Covid-19 pada saat akan pelaksanaan," ujarnya.

Pihak PKS yang notabenes secara tak langsung memiliki hubungan afiliasi dengan aksi 212 juga justru menyarankan agar reuni kembali dilaksanakan secara virtual saja layaknya 2020 lalu. Hal ini untuk menghindari lonjakan penyebaran Covid yang sudah susah payah dibuat melandai.

"(Lebih baik) Bisa virtual," ucap Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera.

Namun nyatanya, pihak PA 212 tampak begitu keras kepala untuk memaksakan kehendak mereka agar acara reuni dapat terlaksana secara tatap muka. Slamet Maarif justru menjawab arahan Ariza dengan menyebut bahwa pihak PA 212 justru sedang berpikir keras agar acara reuni tersebut dapat berjalan sukses tanpa ekses, menyiratkan bahwa PA 212 berkehendak agar acara tetap terlaksana.

"Kami justru tidak hanya sedang berpikir ulang tapi malah berpikir keras dan berulang-ulang agar acara reuni 212 berjalan sukses tanpa ekses," pungkasnya.

Lebih jauh, Novel Bamukmin justru malah mencibir pihak kepolisian yang berwenang dalam memberikan izin kegiatan berskala besar. Menurutnya, pihak kepolisian sejauh ini selalu mempersulit agenda mereka.  Ia dengan keras kepala mengatakan bahwa keputusan mereka sudah final untuk menggelar reuni 212 secara tatap muka.

"Keputusan kita (PA 212) final mau seperti itu, 'kopi darat' lah. Tapi memang kita dipersulit oleh Polda Metro Jaya, dan aparatur Kepolisian selalu memandang sensitif terhadap gerakan umat Islam," ujarnya.

Bahkan, Novel menyebut bahwa pihaknya sudah memiliki 'plan B' andaikata pihaknya tak diizinkan untuk menggelar reuni di Monas. Ia menyebut akan tetap memaksakan untuk menggelar reuni di tempat lain meskipun bukan di Jakarta. Yang jelas, menurutnya, kegiatan secara offline harus tetap berjalan.

"Ada plan b, kita bisa cari tempat lain, bukan mesti di Jakarta. Bisa juga kita adakan di daerah lain, jadi tiap tahun beda-beda tempat dan itu bisa terjadi. Paling tidak (tetap) offline," tandasnya.

Ia juga menyebut bahwa kegiatan reuni tersebut justru dapat menjadi bukti bahwa pandemi covid-19 sudah sangat melandai bahkan sudah menghilang.

"Bahwa corona sudah enggak ada, kumpul-kumpul enggak apa-apa. Jangan ditakut-takuti lagi. Justru reuni 212 di Jakarta itu bisa jadi rujukan daerah yang lain, bahkan bisa jadi rujukan dunia," jelasnya.

"Menunjukkan barometer covid sudah sangat landai, dan ini juga sekaligus bisa meyakinkan masyarakat RI bahwa covid sudah selesai," sambungnya.

Baca Juga: Pro Kontra Reuni 212, Refly Harun: Maklum Saja, Karena Ini ....

Hal ini terlihat jelas bahwa para simpatisan FPI tersebut begitu arogan dan tampak begitu memaksakan kehendak mereka tanpa berpikir lebih jauh. Hal ini juga yang memantik amarah netizen sampai sempat muncul tagar #ArogansiFPI yang sempat trending topic di Twitter.

Tagar tersebut ada benarnya, karena menurut Epidemiolog dari Griffith University Dicky Budiman, melandainya penyebaran covid dan mulai tingginya angka vaksinasi bukan berarti bisa menggelar kegiatan sesuka hati, sebab dunia masih dihantui oleh Covid-19, bahkan dengan kemunculan varian-varian baru seperti delta plus dan yang lainnya yang justru lebih ganas. 

"Artinya kita nggak bisa overconfidence, kita nggak bisa euforia dengan capaian vaksinasi atau kondisi saat ini dan tindakan hati-hati membatasi itu paling direkomendasikan saat ini," terangnya dikutip dari Tirto.id, Selasa (9/11/2021).

Selain itu, kegiatan reuni 212 tersebut dinilai tak memiliki urgensi penting yang menyangkut kepentingan masyarakat umum karena hanya berorientasi pada golongan kelompok tertentu. Menurut Dosen Komunikasi Politik Universitas Telkom Dedi Kurnia Syah, hal itu justru malah akan menimbulkan masalah.

"Tidak ada urgensi lakukan pertemuan besar terlebih di tengah pandemi, dalam kondisi itu jelas reuni 212 hanya menimbulkan persoalan, juga memantik sensasi massa," jelasnya.

Namun lagi-lagi, pihak PA 212 justru terkesan tidak peduli dengan pendapat-pendapat dari banyak pihak tersebut dan tetap teguh pada pendirian mereka untuk melaksanakan acara tersebut. Mereka berdalih bahwa mereka menghargai semua pendapat yang ada, namun tetap menyatakan bahwa acara akan tetap berlangsung.

Baca Juga: Setuju Reuni 212 Digelar, Oh... Ini Alasannya

Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini