Fakta-Fakta Soal Wacana Capres Perempuan, Ada Mba Yenny Wahid!

Fakta-Fakta Soal Wacana Capres Perempuan, Ada Mba Yenny Wahid! Kredit Foto: Instagram/Yenny Wahid

Mungkin berbagai isu beberapa waktu terakhir terkait Pilpres 2024 cenderung lebih berfokus kepada para tokoh-tokoh capres laki-laki semacam Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo, atau Anies Baswedan. Adapun dari kalangan perempuan, baru nama Ketua DPR RI Puan Maharani yang paling santer dibicarakan.

Puan Maharani sendiri akhir-akhir ini dapat dikatakan sebagai tokoh capres wanita yang paling sering disorot. Pasalnya, dirinya terlibat dalam isu polemik internal partainya, yakni PDIP yang diisukan mengalami perdebatan dalam mengusung capres, yakni antara Puan dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Meski begitu, Puan termasuk salah satu capres perempuan dengan potensi terkuat yang dianggap mampu memberikan tantangan terhadap calon lainnya pada pertarungan 2024 nanti. Ia merupakan salah satu kader penting di PDIP sekaligus putri dari Ketua Umum PDIP yang juga Mantan Presiden RI, Megawati Soekarnoputri, dimana secara tak langsung dirinya memiliki trah Presiden Pertama RI Ir, Soekarno.

Baca Juga: Masih Kalah Nih Sama Ganjar dan Anies, Mbak Puan Perlu Memperbanyak Konten Pencitraan di Medsos Tuh...

Adapun jika merujuk kepada sejumlah hasil survei, terdapat banyak tokoh-tokoh perempuan yang dinilai berpotensi untuk mencalonkan diri sebagai capres pada 2024. Salah satu hasil survei, yakni dari Akar Rumput Strategic Consulting (ARSC) pada beberapa waktu lalu menyebutkan setidaknya ada sembilan tokoh perempuan yang layak maju sebagai capres pada 2024.

Puan Maharani sendiri termasuk ke dalam deretan tokoh perempuan tersebut dan memperoleh tingkat elektabilitas sebesar 4,01 persen, yakni di urutan ke. Sementara itu, selain Puan terdapat sejumlah nama-nama lainnya yang dinilai berpotensi, sebutlah yang memiliki elektabilitas tertinggi dalam survei tersebut adalah eks-Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dengan 24,21 persen.

Kemudian adapula Menteri Sosial Tri Rismaharini yang menempati urutan kedua dengan tingkat elektabilitas sebesar 17,66 persen, dan menyusul di bawahnya adalah Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dengan elektabilitas sebesar 11,07 persen.

Lalu adapula Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebesar 10 persen, tokoh perempuan Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus putri dari mendiang Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Yenny Wahid sebanyak 3,14 persen, Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri dengan 2,79 persen, Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah 1,32 persen, dan istri Presiden Joko Widodo Iriana dengan 1,07 persen.

Yang unik dari hasil survei tersebut adalah munculnya nama Yenny Wahid dan Iriana Jokowi. Pasalnya, keduanya bukanlah seorang pejabat maupun mantan pejabat. Uniknya, elektabilitas Yenny Wahid mampu menungguli tokoh lain yang merupakan pejabat, yakni Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah. 

Adapun dari deretan tokoh-tokoh capres perempuan tersebut, terdapat nama yang bersaing dengan tokoh-tokoh lainnya dalam 10 besar capres 2024. Ada tiga nama, mereka adalah Puan Maharani, Sri Mulyani, dan Tri Rismaharini. Ketiganya sempat masuk ke dalam survei dari Institute for Democracy & Strategic Affairs (Indostrategic).

Dalam hasil survei tersebut, Puan menempati posisi keenam dengan tingkat elektabilitas sebesar 68 persen dan likeabilitas 36 persen. Lalu Sri Mulyani menempati posisi ketujuh dengan elektabilitas 57 persen dan likeabilitas 44,9 persen. Sementara Risma menempati posisi kesembilan dengan elektabilitas 54,7 persen dan likeabilitas 44,6 persen. Adapun posisi puncak seperti biasa diisi oleh Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.

Baca Juga: Masuk Jajaran Capres 2024, Ternayta Begini Sepak Terjang Yenny Wahid.. Sempat Jadi Wartawan!

Sejumlah pengamat juga turut memberikan perhatian terhadap wacana capres perempuan tersebut. Mereka menyambut baik variasi adanya calon penantang dari kalangan perempuan dalam Pilpres mendatang. Pasalnya, sejauh ini baru Megawati Soekarnoputri yang berhasil mengukuhkan dirinya sebagai Presiden RI perempuan pertama dan satu-satunya.

Salah satu pengamat yang memberi tanggapan terkait hal ini adalaha Guru Besar Ilmu Politik Universitas Indonesia, Prof Burhan Djabir Magenda PhD. Ia menilai bahwa dari sembilan nama tersebut, terdapat tiga nama yang menurutnya paling berpeluang untuk maju sebagai capres, mereka adalah Puan Maharani, Sri Mulyani Indrawati, dan Yenny Wahid. 

Salah satu pertimbangan Burhan menyebut ketiga nama tersebut adalah karena mewakili partai dan golongan. Ia menilai bahwa Yenny Wahid dan Puan Maharani tentu tak memiliki masalah terkait massa pemilih karena keduanya dinaungi oleh basis massa besar, yakni Yenny dengan NU dan Puan dengan PDIP.

"Kalau dari sisi massa pemilih, tentu Yenny Wahid dan Puan Maharani. Karena keduanya memiliki dukungan dan basis massa besar seperti NU dan PDIP," tuturnya.

Ia juga menyampaikan pendapatnya terkait status Yenny yang belum pernah punya pengalaman menjadi pejabat formal. Ia menilai meskipun kasusnya seperti itu, Yenny dikenal sebagai penganjur toleransi bagi bangsa besar yang plural seperti Indonesia dan sudah berpengalaman saat mendampingi Gus Dur sebagai Presiden. Ia juga merupakan sosok yang pintar karena merupakan lulusan Universitas Harvard, Amerika Serikat.

Sementara itu untuk Sri Mulyani, ia menilai bahwa dirinya kemungkinan lebih cocok menjadi cawapres, meskipun cocok pula sebagai capres. Menurutnya, terdapat kemungkinan bahwa capres mendatang adalah seorang teknokrat yang mampu memulihkan ekonomi. 

Tak hanya itu, ia juga menyebut Khofifah Indar Parawansa memiliki peluang untuk dicalonkan. Di samping memiliki basis massa besar di NU bersama Yenny Wahid, ia juga memiliki tingkat popularitas yang tinggi karena menjabat sebagai Gubernur Jawa Timur.

Selain keempat sosok di atas, ia juga menyoroti terkait kecilnya peluang figur perempuan lainnya untuk maju sebagai capres. Seperti Tri Rismaharini, menurutnya meskipun elektabilitasnya tinggi, peluangnya akan kecil karena terhalang oleh Puan Maharani yang lebih dijagokan oleh PDIP yang juga merupakan parpol yang menaungi Risma.

Hal serupa juga menurutnya terjadi terhadap Ida Fauziyah dikarenakan basis massa NU akan cenderung diwakili oleh Yenny Wahid dan Khofifah Indar Parawansa.

Sementara itu, Megawati tidak masuk hitungannya karena ia menilai bahwa Ketum PDIP tersebut sudah tidak memiliki keinginan kembali untuk menjadi presiden. Ia menyebut anda Megawati ingin menjadi presiden, tentu ia sudah maju sejak 2014 lalu dan bukan mengutus Jokowi.

Burhan sendiri mengaku menyambut baik wacana figur perempuan untuk maju sebagai capres pada 2024. Meskipun, ia mengakui bahwa mereka tampaknya lebih masuk akal untuk maju sebagai cawapres ketimbang capres.

"Bagus ada wacana capres perempuan. Tapi, saya kira yang masuk akal adalah jadi calon wakil presiden," pungkasnya.

Hal senada juga diutarakan oleh Pendiri Lembaga Survei KEDAIKopi Hendri Satrio (Hensat). Menurutnya, elektabilitas tokoh-tokoh perempuan tersebut faktanya masih kalah jauh di bawah para tokoh-tokoh capres laki-laki. Meski begitu, ia tidak menampik bahwa elektabilitas capres perempuan dapat bersaing dengan capres laki-laki.

"Misalnya Puan Maharani. Jika PDIP yakni menang, maka mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk menaikkan elektabilitasnya," katanya.

Adapun survei ARSC yang menghasilkan sembilan sosok capres perempuan tersebut melibatkan 1.200 responden di 34 provinsi. 60 persen responden tergolong berusia di bawah 30 tahun dan usia minimal 17 tahun. Sementara metode yang digunakan adalah metode multistage random sampling yang dilakukan melalui telepon. Adapun survei tersebut memiliki margin error plus minus 2,9 persen.

Baca Juga: Intip Kekuatan Capres Perempuan di Pilpres 2024, Ada Nama Mbak...

Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini