Ramai Dudung Dituding Anak Emas Jokowi, FPI Kayaknya Memang Nggak Suka Sama Dia

Ramai Dudung Dituding Anak Emas Jokowi, FPI Kayaknya Memang Nggak Suka Sama Dia Kredit Foto: Hafidz Mubarak A

Beberapa waktu belakangan, KSAD Jenderal Dudung Abdurachman tengah menjadi sorotan karena disebut-sebut sebagai anak emas Presiden Joko Widodo dan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. Tudingan ini pun dikaitkan oleh beberapa pihak dengan statusnya yang cenderung bermasalah dengan golongan Front Pembela Islam (FPI).

Seperti diketahui, kelompok tersebut sebagian besar memang selama ini selalu berseberangan dengan pemerintahan Jokowi, termasuk juga dengan PDIP dan Megawati yang mana menaungi Jokowi. Acapkali, mereka selalu menjadi pihak yang kontra terhadap setiap hal yang berasal dari pihak pemerintah.

Pengutusan Dudung menjadi KSAD menjadi salah satunya, meskipun secara khusus mereka punya sentimen tersendiri terhadap Dudung karena aksinya yang dahulu pernah merobek baliho bergambar Imam Besar mereka, Habib Rizieq Shihab. Dudung sendiri memang secara terang-terangan berani dalam melawan FPI, yang mana hal tersebut jarang dilakukan oleh sosok militer lainnya.

Terlebih, sebagian besar masyarakat yang mengecap FPI sebagai golongan radikal semakin meruncingkan pandangan Dudung. Pasalnya, Dudung baru-baru ini juga menyatakan bahwa dirinya akan menerapkan metode seperti Orde Baru-nya Presiden Soeharto, yang mana mengerahkan secara penuh kekuatan militer dalam menghadapi gerakan radikalisme.

"Saya akan perintahkan seluruh prajurit peka terhadap perkembangan situasi menyangkut ekstrem kiri dan kanan," ujar Dudung.

"Saya bilang, kalau ada informasi-informasi (terkait radikalisme), saya akan berlakukan (sistem) seperti zaman Pak Soeharto dulu. Para babinsa itu harus tahu, jarum jatuh pun dia harus tahu," tegasnya.

Baca Juga: Babak Baru Aksi 212, KASAD Dudung Abdurachman Siap-siap

Keberadaan Dudung sendiri tentu akan semakin memperkuat posisi Jokowi dalam menghadapi pihak FPI yang selalu berlawanan dengan pemerintahannya. Pergerakan FPI sendiri tentunya akan semakin terbatas dengan eksistensi Dudung sebagai KSAD, apalagi FPI diketahui berencana akan kembali mengadakan acara reuni 212 pada Desember mendatang.

Banyak pihak yang menilai bahwa Dudung tidak akan tinggal diam terkait hal ini, karena agenda ini sendiri bertentangan dengan aturan pemerintah terkait kerumunan massa. Seperti diketahui, pandemi Covid-19 kini masih hadir di tengah-tengah masyarakat Indonesia meskipun penyebarannya kini telah lebih melandai dibandingkan sebelumnya.

FPI sendiri juga kini sudah menjadi organisasi terlarang sejak dibekukan oleh pihak pemerintah pada 2020 lalu, dan aksi 212 sendiri pada dasarnya merupakan bentukan FPI dan simpatisannya. Tentu saja, sikap Dudung terhadap mereka akan sama seperti sikapnya dahulu terhadap FPI sebelum dibekukan.

Hal ini sudah diungkapkan oleh sejumlah peneliti, salah satunya adalah Direktur Eksekutif Centre for Indonesia Strategic Actions (CISA) Herry Mendrofa. Menurutnya, Dudung pasti akan beraksi khususnya apabila persoalannya berkaitan dengan FPI.

"Jika ternyata aksi (212) ini melanggar, pastinya KASAD memiliki andil untuk menertibkan," katanya.

"Eks FPI sudah dilarang total. Dudung pasti tahu apa langkah yang tepat bila kolerasinya dengan aksi 212," pungkasnya.

Wajar apabila pihak FPI sangat antipati terhadap Dudung karena sikapnya yang bertangan dingin dengan organisasi yang kini sudah dilarang tersebut. Salah satu pentolan FPI, Novel Bamukmin bahkan pernah menyindir Dudung dekat dengan para cukong dibandingkan dengan para ulama. 

"TNI harus bersama mereka (ulama), bukan bersama para cukong yang justru beserta penjilatnya yang sangat berbahay untuk kesatuan bangsa," tegas salah satu tokoh yang menginisiasi diadakannya reuni 212 tersebut.

Belum lagi, Dudung juga sempat menjadi salah satu sosok yang dicibir sebagian pihak karena pernyataannya terkait situasi KKB di Papua Barat. Ia sempat menyebut bahwa kelompok tersebut merupakan saudara sebangsa Indonesia yang masih belum paham tentang NKRI dan tidak sepatutnya untuk dibunuh.

Sementara itu, sejumlah tokoh Islam yang diduga terlibat dengan terorisme justru ditangkapi, sehingga menimbulkan protes dari sebagian umat Islam, termasuk para loyalis Rizieq Shihab dan FPI. Mereka menilai pihak militer tidak adil karena hanya membasmi tokoh-tokoh Islam yang masih berstatus tersangka teroris, sementara terhadap KKB Papua yang menurut mereka sudah jelas statusnya sebagai teroris justru disikapi dengan pasif.

Adapun anggapan mereka yang menuding Dudung sebagai anak emas Jokowi karena sikapnya yang tegas terhadap para loyalis FPI sehingga menarik hati sang Presiden tersebut sempat ditanggapi oleh Dudung. Menurutnya, Jokowi memilih dirinya bukanlah karena hal tersebut, melainkan karena profesionalismenya sebagai prajurit.

"Sebetulnya Pak Jokowi itu lebih kepada yang namanya pekerjaan, melihat dari pengabdian, lebih kepada profesionalisme. Jadi enggak ada alat politik segala macam, enggak ada. Dan saya juga tidak mau kalau dibawa-bawa ke politik, tidak akan mau saya," jelasnya.

"Kenal dengan Pak Jokowi itu setelah bintang dua. Dengan Bu Mega juga saya kenalnya saat bintang dua juga. Ya kalau saya lihat, Pak Jokowi, Bu Mega kalau spesialisasi anak kesayangan itu tidak ada, tapi beliau lebih cenderung ke profesionalisme. Beliau itu melihat orang itu sama lah, bahwa dlihat dari pengabdian. Saya yakin yang ditunjuk oleh beliau itu tidak semudah membalikan telapak tangan," imbuhnya.

Baca Juga: Tudingan Jadi Anak Emas Presiden, Jenderal Dudung Auto Buka Suara

Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini