Giliran di Podcast Deddy, Anies Baru Berani Buka-bukaan Soal Kinerjanya

Giliran di Podcast Deddy, Anies Baru Berani Buka-bukaan Soal Kinerjanya Kredit Foto: M Risyal Hidayat

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan baru-baru ini mulai kembali buka suara terkait pemerintahannya yang belakangan ini kerap menjadi sasaran kritik sebagian besar masyarakat. Hal tersebut disampaikannya dalam podcast di kanal YouTube Deddy Corbuzier pada Senin (24/11/2021).

Dalam sesi percakapan tersebut, Anies memberikan tanggapan-tanggapannya terkait sejumlah isu di pemprov DKI kini yang menjadi sorotan masyarakat, mulai dari banjir di DKI, Formula E, buzzer, hingga julukan 'kadrun' yang disematkan kepadanya. Hal ini, menurut sebagian pihak merupakan suatu hal yang janggal, pasalnya Anies dikenal seringkali mangkir apabila dimintai keterangan oleh pers.

Menurut sebagian mereka, pantas saja Anies mau untuk muncul dan berbincang di podcast Deddy, karena dalam podcast tersebut, komunikasi yang diterapkan Deddy cenderung bersifat satu arah. Berbeda dengan platform lainnya yang berpotensi memiliki counter terhadap dirinya yang mana bersifat dua arah.

Seperti diketahui, Anies memang kerap kali menghindari pertanyaan-pertanyaan dari wartawan apabila sudah menyangkut dengan kinerjanya di Pemprov DKI. Hal tersebut cenderung lebih ditangani oleh wakilnya, Ahmad Riza Patria (Ariza), sementara Anies lebih sering muncul dalam momen-momen berkonotasi positif, seperti peresmian, penghargaan, dan semacamnya. 

Fenomena ini sebelumnya pernah disinggung oleh Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya pada 11 September lalu. Menurutnya, Anies dan Ariza kerap memerankan pembagian tugas good cop-bad cop yang mana membuat Ariza lebih banyak menjadi tameng politik bagi Anies, sementara citra Anies tetap terjaga untuk kelancaran ambisi-ambisi lebih jauh.

"Kalau kita lihat bahkan ada kecenderungan hal-hal yang bersifat negatif atau kritik lebih banyak dihadapi oleh Riza, sementara konteks konpers atau hal-hal terkait klaim prestasi seperti penghargaan selalu Anies yang muncul, nggak usah jauh-jauhlah, terkait Paripurna pertanggungjawaban APBD yang muncul kan Wagub DKI Ariza, padahal yang punya RPJMD dan janji kampanye adalah Anies loh, Ariza tidak pernah punya janji kampanye karena dia tidak pernah kampanye," jelasnya.

Adapun dalam podcast Deddy, Anies tampak begitu leluasa memberikan penjelasan terkait sejumlah isu yang menerpa pemerintahannya. Hal pertama yang dibahas mereka adalah terkait tudingan Anies sebagai sosok yang berafiliasi dengan 'kadrun' atau kelompok-kelompok yang dianggap radikal dalam beragama Islam.

Di permulaan percakapan, Deddy langsung menyinggung Anies terkait tudingan-tudingan yang menyebut Anies sebagai kadrun, radikal, ekstrem, dan tidak toleran, dan sontak dijawab Anies dengan pertanyaan balik.

"Kadrun itu apa sih sebenarnya," tanya Anies.

"Saya justru mau tanya. Itu kan di mana-mana Anda kadrun, katanya. Kadal gurun. Nah itu mendingan tanya orangnya," timpal Deddy Corbuzier.

Ia pun kemudian menyarankan Deddy untuk mencari jawaban kepada pihak yang melabelinya kadrun. Namun, secara tegas, orang nomor satu di Jakarta ini menjawab bahwa dirinya adalah Anies Baswedan.

"Ya mungkin harusnya tanya sama yang nyebutinlah. kalau saya ya Anies Baswedan kalau ditanya. Who are you? Anies Rasyid Baswedan. Thats it, gitu" tandas Anies.

Baca Juga: Anies Baswedan: Kadrun Itu Apa Sih Sebenarnya?

Anies sendiri kemudian berkilah, kalau memang dirinya kadrun dan berafiliasi dengan radikalisme, ia meminta agar pihak-pihak yang menuduhnya tersebut memberikan bukti yang mampu menjadi dasar tudingan tersebut terhadapnya. Pasalnya, menurut Anies selama empat tahun dirinya menjabat sebagai Gubernur DKI, tak ada sama sekali dirinya bersikap layaknya kaum radikal baik melalui kebijakannya maupun secara pribadi.

Menurutnya, ia lebih memilih untuk tetap menjalankan kinerjanya sebagai Gubernur tanpa menghiraukan tuduhan-tuduhan tersebut, untuk nantinya dibuktikan dengan fakta di lapangan alih-alih memberikan klarifikasi secara lisan saat ini. Anies juga berpendapat bahwa hal tersebut merupakan hak kebebasan para penudingnya untuk mengatakan apa saja tentang dirinya. Namun, jika memang tudingan tersebut tak terbukti, maka tudingan tersebut otomatis batal.

"Sekarang saya udah jalan 4 tahun, saya nggak mau bantah itu (tudingan). Saya mu terusin aja (kinerja saya), tolong dibuktikan dong, udah 4 tahun, nih, di mana letak tidak menghargainya (pemerintahan saya) terhadap minoritas, di mana contoh saya tidak toleran, di mana contohnya? Ada gak? Kalau nggak ada, batalin dong itu tuduhan," tegasnya.

Anies berkelakar bahwa meskipun tudingan ini sudah disematkan kepadanya sejak kampanye Pilkada DKI 2017 lalu, dirinya baru bisa menjawab tudingan-tudingan tersebut sekarang saat dirinya sudah empat tahun menjabat. Sementara semasa kampanye, dirinya masih belum memiliki bukti apapun sehingga akan sulit untuk membantah hal itu.

Seperti diketahui, dirinya saat itu menghadapi Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pada kampanye yang diselimuti kontroversi terkait isu intoleransi, dimana Anies memperoleh dukungan dari sebagian besar umat Islam yang mayoritas adalah loyalis FPI. Seperti diketahui, FPI yang dikomandoi Rizieq Shihab terkenal sebagai salah satu ormas Islam yang cukup keras dibandingkan ormas Islam lainnya.

Kemudian, mereka juga membahas terkait isu Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang membentuk pasukan siber untuk menangkal buzzer-buzzer yang selalu menyerang Anies. Menurut Anies, dirinya tidak pernah berpikiran untuk membalas fenomena buzzer tersebut dengan membentuk kelompok buzzer, karena menurutnya kontraproduktif. Ia pun menyebut tidak tepat jika rencana MUI tersebut ditanyakan kepadanya karena ia sendiri tak setuju dengan adanya tim buzzer.

"Makanya saya tidak pernah mau. saya tidak pernah bikin tim buzzer. Lebih baik jalankan seperti apa adanya," tutur Anies.

Menurutnya, lebih baik pihaknya membalas tindakan buzzer tersebut dengan kinerja alih-alih melakukan hal serupa. Ia beranggapan bahwa buzzer tersebut melawan akal sehat dan tidak sepantasnya untuk ditiru.

"Masa kita sekelas sama buzzer? masa kita mau ngikutin itu? jangan dong. Tunjukkan bahwa kita ini bekerja dengan akal sehat, kita bekerja dengan norma yang benar, kita pakai fakta itu aja," pungkas Anies.

Baca Juga: Anies Baswedan: Saya Tidak Pernah Bikin Tim Buzzer

Ia juga kemudian membahas mengenai banjir di Jakarta yang dinilai masih belum tuntas dan justru semakin lebih buruk. Terlebih, Anies membuat kebijakan untuk membangun sumur resapan untuk mengatasi banjir yang mana menurut sebagian pihak tidak efektif dibandingkan dengan normalisasi sungai.

Seperti biasa, Anies pun merespon dengan mengaitkan hal ini dengan curah hujan di Jakarta. Menurutnya, sumur resapan tersebut berfungsi dengan baik dalam tingkat curah hujan tertentu, meskipun ia tidak menampik bahwa memang banjir belum teratasi sepenuhnya. Namun menurutnya, banjir ini merupakan permasalahan jangka panjang yang harus terus menerus ditangani, dan hal ini yang sedang pihaknya upayakan.

Ia berpendapat bahwa tidak sepantasnya jika membandingkan penanganan banjir gubernur sebelumnya dengan dirinya saat ini, karena hal ini bersifat ikremental dan harus dilakukan secara terus menerus. Ia pun mengklaim bahwa di masa pemerintahannya kini terdapat kemajuan dari upaya yang sudah diupayakan gubernur sebelumnya yang menjadi sebuah pondasi.

Ia juga menilai bahwa hal yang membuktikan berfungsinya sumur resapan buatannya tersebut bukan dari foto yang tersebar di media sosial, melainkan dari penilaian masyarakat sekitar yang merasakan langsung manfaat dari sumur resapan tersebut. Ia juga menyebut jika memang ditemukan beberapa sumur resapan itu tak berfungsi, cukup dilaporkan ke pihaknya dan nanti akan segera dibereskan.

Terkait Formula E, ia sempat ditanyakan oleh Deddy mengapa dirinya tidak membuka penjelasan ke publik alih-alih selalu menghindar seperti yang kerap dilakukannya beberapa waktu belakangan. Namun menurutnya, dirinya sudah terbuka dan tidak perlu lagi bagi dirinya untuk kembali mengklarifikasi hal yang sudah terbuka.

Menurutnya, program Formula E sudah menjadi kesepakatan yang disetujui oleh DPRD DKI Jakarta, sehingga kemudian adanya interpelasi dari pihak PDIP dan PSI dinilainya aneh. Pasalnya, anggaran untuk Formula E tersebut sudah keluar sejak 2019, hanya saja tertunda karena pandemi Covid-19.

Pada intinya, menurut Anies bahwa tudingan-tudingan yang disematkan terhadapnya tersebut hanyalah noise belaka. Menurutnya, pada akhirnya semua tudingan itu tak akan merubah fakta atas kinerja yang ia lakukan, sehingga tidak ada manfaatnya untuk dijawab. Anies tetap teguh dengan pendiriannya untuk tidak menanggapi tudingan-tudingan tersebut dan tetap berfokus pada fakta di lapangan.

Baca Juga: Jokowi Disebut Jadi Penentu Lokasi Balap Formula E, Anies Baswedan: ya Enggak Lah

Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini