Gubernur Bali Wayan Koster dan Ganjar Pranowo Ramai Dikritik Usai Tolak Timnas Israel, PDIP Tegas: Ini Sikap Kami Sampai Palestina Merdeka!

Gubernur Bali Wayan Koster dan Ganjar Pranowo Ramai Dikritik Usai Tolak Timnas Israel, PDIP Tegas: Ini Sikap Kami Sampai Palestina Merdeka! Kredit Foto: Taufik Idharudin

Ketua DPP PDI Perjuangan, Said Abdullah tak ambil pusing dengan masyarakat yang mengkritik sikap Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Gubernur Bali Wayan Koster pasca penolakan terhadap Timnas Israel. Diketahui, kolom komentar dua Gubernur yang merupakan kader PDIP itu banjir kecaman usai menolak Timnas Israel berlaga di Indonesia.

Said menegaskan bahwa sikap penolakan kepada Israel akan tetap ada sampai Israel merdeka. Menurutnya, sikap ini sudah turun temurun diajarkan oleh Presiden Soekarno.

"Kami konsisten dari sejak 1957 sampai Palestina merdeka dan ini adalah sikap dari pembukaan UUD 1945 sebagai pegangan kita bersama," katanya saat dikonfirmasi Populis.id pada Senin (27/03/2023). 

Baca Juga: Benarkan Bagi-bagi Amplop di Rumah Allah, Elite PDIP Blak-blakan: Itu Masjid Almarhum Bapak Saya!

Lebih lanjut, ia menganggap FIFA sudah menerapkan standar ganda. Sebab, mereka bisa tegas kepada Russia saat perang dengan Ukraina, namun tidak bisa tegas kepada Israel.

"Problem pokok adalah pada double standart FIFA sebagai kiblat aturan main sepak bola dunia profesional. Masih segar dalam ingatan kita ketika Russia dilarang oleh FIFA akibat Russia menyerang Ukrania dan sebaliknya," ucapnya. 

"Namun FIFA membiarkan Israel tetap bisa mengikuti ajang sepak bola dibawah FIFA," sambung Said. 

Baca Juga: Uang Reses Dibagikan ke Masyarakat Pakai Amplop Logo PDIP, Said Abdullah Buka-bukaan: Sebagian Besar Kader Gotong-Royong

Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI ini menegaskan bahwa seharusnya FIFA bisa lebih tegas kepada Israel. Pasalnya, apa yang mereka lakukan jelas lebih biadab dibanding serangan Russia ke Ukraina.

"Tidakkah perlakuan Israel lebih biadab terhadap bangsa Palestina? Tanah Palestina yang begitu luas dirampok dan hanya tinggal secuil itupun dibuat terpisah. Kenapa harus ada perlakuan berbeda oleh FIFA?," tukasnya.

Terkait

Terpopuler

Terkini

Populis Discover