Eks Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum menyindir pihak yang menjebloskannya ke penjara hingga dirinya harus mendekam selama 8 tahun.
Anas menegaskan bahwa sebagai aktivis, ia akan memperjuangkan kompetisi yang terbuka, jujur, dan objektif, tanpa menggunakan atau memanfaatkan pihak lain.
Dia juga menekankan bahwa kebebasannya ini merupakan langkah awal dirinya untuk mengungkap kebenaran dan berjuang menghadirkan pertandingan demokrasi yang jujur.
Baca Juga: Anas Urbaningrum Bebas Langsung Menabuh Genderang Perang, Demokrat Siap-siap!
"Buat saya, pertandingan dalam konteks demokrasi adalah pertandingan yang terbuka, adil, jujur, dan objektif, tidak boleh menggunakan pihak lain, atau teknik lama nabok nyilih tangan (menampar lalu sembunyi tangan), tapi pertandingan yang jujur, kalau tidak jujur maka para aktivis tidak akan tertarik untuk turut berkompetisi," ucap Anas dalam pidatonya usai bebas dari Lapas Sukamiskin, Bandung, Selasa (11/4/2023).
Anas masih merasa kalau dirinya merupakan korban kriminalisasi dari lawan politiknya, meski terbukti terlibat korupsi dalam kasus Hambalang.
Baca Juga: Anas Urbaningrum Bebas dari Penjara, tapi Masih Wajib Lapor ke Lapas
Dia menyebut kalau dirinya digebuk lawan politik menggunakan tangan orang lain. Anas memang dikenal menjadi lawan politik keluarga Cikeas, yang saat itu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.
Dalam buku Anas Urbaningrum Tumbal Politik Cikeas, Anas dinilai sebagai ancaman potensial bagi keluarga Cikeas. Sebab, baru 2,5 tahun di Demokrat, Anas dianggap mampu membuat partai berlambang Mercy itu melejit.
Anas dinilai punya massa yang cukup banyak sebagai mantan Ketua Umum PB HMI. Saat itu Anas terlalu cepat berlari, sementara Cikeas tidak menginginkan hal tersebut. Karena itulah Anas buru-buru 'dijegal' oleh Demokrat.
Lihat Sumber Artikel di Republika Artikel ini merupakan kerja sama sindikasi konten antara Populis dengan Republika.