Warga Muhammdiyah yang sempat dilarang menggunakan fasilitas publik untuk Salat Idul Fitri masih menjadi polemik. Pendakwah Ustaz Hilmi Firdausi pun angkat bicara terkait hal ini.
Pendakwah yang juga penulis itu mengaku menyimak perdebatan antara pihak yang mendukung dan menentang soal polemik tersebut.
“Menyimak perdebatan tentang izin penggunaan fasilitas publik untuk sholat ied bagi yang berlebaran beda dengan Pemerintah,” ujarnya dalam cuitan akun Twitter @Hilmi28 dikutip Populis.id, Rabu (19/4).
Ia menyebut perdebatan itu sampai membenturkan dua hal, yakni toleransi dan tenggang rasa. Pihak yang sepakat pembatasan itu menuntut tenggang rasa, sementara pihak lainnya berpendapat soal toleransi.
“Sampai-sampai membenturkan antara toleransi dan tenggang rasa (padah podo wae),” ungkap Ustaz Hilmi.
Hal tersebut membuatnya kembali berpikir soal toleransi, apakah toleransi yang dimaksud hanya sebatas jargon.
“Saya kok jadi mikir, toleransi cuma jargon saja. Orang disuruh toleran, padahal dia sendiri gak toleran,” pungkasnya.
Menyimak perdebatan ttg izin penggunaan fasilitas publik utk sholat ied bg yg berlebaran beda dgn Pemerintah, sampai2 membenturkan antara toleransi & tenggang rasa (pdhal podo wae ????), sy kok jd mikir…toleransi cm jargon saja. Org disuruh toleran, pdhal dia sndiri ga toleran ????
— Hilmi Firdausi (@Hilmi28) April 19, 2023