Karenanya, Pangi tak heran jika parpol koalisi sengaja menyimpan nama cawapres dan tidak akan mau terburu buru mengumumkan cawapresnya. Saat mengunci nama cawapres, kata Pangi, sosok tersebut harus dipastikan kontributif terhadap capresnya dan menjadi bagian dari desain adu strategi politik.
"Kenapa penting parpol koalisi meracik cawapres ideal potensial pendamping capres, sebab kalau salah maka bisa bunuh diri politik. Keliru dan salah mengandeng cawapres berpotensi mengerus elektabilitas capresnya," ujarnya.
Dalam situasi ini, kata Pangi, jika capres memilih cawapres yang tidak tepat, bisa jadi perolehan suara tidak akan mengalami peningkatan yang signifikan. Selain itu, bisa saja tidak terjadi tren pertumbuhan elektoral secara signifikan dengan dua model yakni cawapresyang berhasil mentracing capres sehingga mendapatkan tambahan yang kontributif mengenjot elektabilitas capresnya atau justru dukungan modal elektoral yang sudah ada pada capres malah kian tergerus.
Pangi menyebutkan, setidaknya terdapat tiga kriteria penting dalam penentuan cawapres, yaitu pertama; modal elektabilitas atau racikan elektoral, Kedua; dukungan partai politik.
"Serta Ketiga; ketersedian isi tas atau modal logistik kampanye. Sebab biaya pilpres high cost," ujarnya.
Dia juga menilai pentingnya cawapres mendapat dukungan partai politik. Karena itu, memilih calon wakil presiden yang berasal dari partai politik yang memiliki basis dukungan yang kuat dapat membantu pasangan calon presiden memperoleh suara dari basis partai tersebut.
Begitu juga untuk cawapres yang memiliki pengaruh politik yang kuat danberasal dari daerah yang memiliki potensi elektoral besar dapat memberikan keuntungan bagi pasangan calon presiden. Hal ini karena calon wakil presiden yang berasal dari daerah tersebut memiliki kecenderungan untuk mendapatkan dukungan dan memperluas dari basis pemilih di wilayah tersebut.
"Cawapres yang memiliki basis elektoral yang kuat atau memiliki jaringan politik yang luas dapat membantu pasangan calon untuk memenangkan dukungan dari partai politik atau koalisi politik yang sebelumnya tidak mendukung yang pada akhirnya akan mempengaruhi format koalisi dan partai partai politik yang tergabung dalam koalisi untuk membentuk koalisi yang stabil dan solid," ujarnya.
Baca Juga: PDIP Buka Peluang Duetkan Ganjar Pranowo dengan Tokoh NU, Nama Ma’ruf Amin Disebut-sebut, Simak!
Lihat Sumber Artikel di Republika Artikel ini merupakan kerja sama sindikasi konten antara Populis dengan Republika.