“Presiden yang sedang berkuasa nggak bisa membuldoser jeroan kehendak rakyat, Jangan sampai seolah-olah suara presiden adalah representasi suara rakyat, kedaulatan tetap berada di tangan rakyat bukan kedaulatan berada di tangan Presiden Jokowi. Tetap rakyat yang berdaulat, presiden Jokowi hanya menjalankan mandat rakyat, jangan sampai presiden sabotase daulat rakyat,” sambugnya.
Menurutnya, jangan dibonsai suara rakyat, kriteria presiden biarlah rakyat secara emperik objektif yang menentukan. Tak boleh di intervensi oleh pikiran ‘intersubjektif’ Presiden Jokowi itu sendiri, biarkanlah rakyat secara mandiri menentukan nasibnya sendiri di dalam memutuskan preferensi pilihan yang tepat untuk masa depan Indonesia selanjutnya berdasarkan kebutuhan selera jeroan grassroot rakyat arus bawah, bukan arus elite.
“Apalagi Gen-Z dan Gen-Milenial yang presentasenya mencapai 60 persen, tidak mudah terpengaruh oleh tokoh agama, adat, orang tua mereka, tokoh berpengaruh seperti RW, RT, Lurah, Camat dan aparatur pemerintah lainnya termasuk presiden sekalipun, mereka relatifly punya preferensi politik yang cukup memadai dan punya banyak kanal informasi sehingga keputusan politik mereka benar-benar otonom alias tidak mudah dipengaruhi oleh siapapun,” ungkapnya.
Menurutnya, perilaku pemilih yang masuk kategorisasi pemilih yang sangat rational, psikologis, kritis, integritas, memperhatikan rekam jejak, basis kinerja dan prestasi dan kompetensi kapasitas kandidat pemimpin yang bakal mereka putuskan untuk dipilih.
Cara merawat demokrasi, kata Pangi, dengan cara bagaimana Presiden Jokowi netral, bagaimana berfikir keras untuk menyukseskan pemilu 2024, tidak cawe-cawe, tidak grasak-grusukan menyiapkan dan menyukseskan presiden penggantinya.
“Presiden partisan di dalam pemilu jelas meninggalkan legecy yang buruk bagi sistem pemilu dan demokrasi kita, presiden selanjutnya tentu berpotensi melakukan hal yang sama, karena tak ada pembelajaran dan contoh ketauladanan dari seorang negarawan, ibarat kain sarung muter-muter di situ,” ungkap Pangi.
Baca Juga: Buka Suara soal Kasus Johnny Plate, Mahfud Md: Kalau Tidak Yakin dengan Minimal Dua Bukti…
“Presiden tidak mau dilecehkan, tapi kalau presiden terlalu jauh cawe-cawe di dalam menentukan presiden penerus beliau, tentu ada resiko besar yang menunggu beliau, kalau kalah jagoannya maka siap-siap presiden Jokowi akan dilecehkan dan menjadi bulan-bulanan setelah tidak lagi berkuasa menjabat sebagai presiden,” lanjutnya.