Pegiat sosial media Tifauzia Tyassuma alias Dokter Tifa ikut menolak konser Coldplay yang sedianya digelar di Jakarta pada November 2023 mendatang. Sama seperti Persaudaraan Alumni 212 (PA 212) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dokter Tifa mengaku menolak kedatangan grup band itu lantaran mereka mendukung LGBT.
Konser Coldplay di Jakarta kata Dokter Tifa hanya merusak akidah. Dia mengatakan Coldplay adalah grup band yang terang-terangan mengkampanyekan gaya hidup yang dilaknat Allah. Jadi kedatangan mereka di Jakarta wajib ditolak.
"Ketika sebuah Band, nyata-nyata mendukung bahkan mempromosikan Gaya Hidup yang dilaknat Allah SWT, gaya hidup yang membuat manusia tersesat dan dekat dengan Iblis, ini yang harus jelas-jelas kita tolak!" kata Dokter Tifa dilansir Populis.id dari laman twitternya Senin (22/5/2023).
Dokter Tifa mengatakan, Coldplay bakal dibayar Rp88 miliar untuk sekali manggung di Jakarta. Mirisnya uang untuk membayar penampilan mereka itu bersumber dari hasil penjualan tiket, dimana kata Dokter Tifa banyak rakyat yang sampai rela melakukan pinjaman online untuk membeli tiket tersebut.
"Kabarnya sekali konser mereka akan dibayar Rp88 Miliar! Dari mana uang itu? Dari tiket yang dibayar ribuan rakyat dengan kartu kredit, dengan Paylater, dengan Pinjol!" ujarnya.
Dia melanjutkan, setelah meraup untung besar dari hasil konser tersebut, Coldplay kata Dokter Tifa juga datang ke Indonesia untuk merusak moral bangsa.
"Lalu, dengan yang Rp88 Miliar yang mereka dapat, mereka pun masih mau merusak bangsa ini, dengan kampanye perilaku amoral dan merusak akidah semua agama," katanya.
Dokter Tifa menuturkan, sejatinya penolakan atas eksistensi LBGT tak hanya ada dalam Islam. Bahkan, semua agama menolak penyimpangan seksual tersebut.
Disampaikannya, semua kitab suci berbagai agama telah menceritakan bagaimana Tuhan melaknat dan menghukum habis kaum yang menjalankan perilaku seksual di luar normalisasi manusia. Oleh sebab itu, katanya, eksistensi kaum LBGT harus menjadi peringatan besar bagi manusia.
Pemegang gelar PhD untuk Molecular Epidemiology dari Universitas Indonesia itu mengimbau pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan tak lupa akan hal tersebut.
"Pemerintah, Menparekraf, mas @sandiuno, pak Mpud, jangan sampai karena kekuasaan, karena uang, kalian gelap mata, meleleh sudah ajaran agama yang dianut," tuturnya.