Pimpinan Ponpes Al-Zaytun Panji Gumilang kembali mencetus ide konyol terkait ibadah haji. Dia mengatakan, untuk menunaikan salah satu rukun islam itu, umat muslim tak perlu repot-repot berangkat ke Mekkah.
Menurutnya seorang muslim sudah dianggap naik haji dengan hanya datang ke Ponpes Al-Zaytun, Indramayu, Jawa Barat setahun sekali pada 1 Muharram. Ide nyeleneh Panji Gumilang itu diungkap langsung mantan anak buahnya Ken Setiawan.
"Ibadah haji nggak perlu ke Mekkah, cukup datang ke Al Zaytun setiap satu tahun sekali pada 1 Muharram," kata Ken Setiawan dalam sebuah wawancara dilansir Populis.id Jumat (23/6/2023).
Ken menjelaskan, di Ponpes Al-Zaytun jemaah yang naik haji tersebut menjalankan berbagai ritual keagamaan sebagaimana yang dilakukan di Tanah Suci. Namun di Al-Zaytun mereka berjalan mengelilingi Ponpes tersebut seperti jamaah haji yang mengelilingi tawaf. Tak main-main jumlah jamaah yang datang setiap tahun kata Ken bisa mencapai ratusan ribu orang.
"Di dalam itu sekitar 250 ribu jamaah hadir semua, masing-masing Korwil juga melakukan ritual ibadah Haji. Keliling tawaf misalnya, kita bukan keliling Ka'bah tapi keliling pesantren yang luasnya 1.200 hektar. Kita bertakbir Allahu Akbar bahwa inilah Islam ini besar, mewah, megah, lengkap fasilitasnya," beber Ken.
"Tawaf itu mengakbarkan Al Zaytun dengan segala kelengkapan fasilitasnya. Saya rasa semua orang yang ke sana mengucap Subhanallah, besar sekali, luas sekali," tambah Ken.
Selain mengelilingi Ponpes Al-Zaytun, para jamaah haji ini lanjut Ken juga melakukan ritual lempar jumrah. Bedanya di Ponpes terbesar di Asia Tenggara ini, ritual tersebut diganti dengan melempar uang.
"Ada juga istilah lempar jumrah kalau di Mekkah menggunakan kerikil. Jika di Mekkah umumnya melempar jumrah dengan kerikil, di ponpes Al Zaytun para jamaah diminta melempar 'semen' dalam bentuk uang," ucap Ken.
"Jadi tiap orang yang datang ke sana dari rombongan wilayah mana nanti di akhir sesi sambutan Syekh Panji Gumilang, ada ritual melempar jumrah, misalnya dari Jakarta ada Rp1 miliar. Ini melempar jumrah tidak pakai kerikil tapi dulu minimal dengan tujuh sak semen dalam bentuk duit," tambahnya memungkasi.