Mantan Rektor Universitas Ibnu Chaldun, Profesor Musni Umar akhirnya mengakui dirinya ikut menyebar berita bohong di sosial media setelah ngotot pasang badan membela Anies Baswedan yang disebut diundang Raja Salman naik haji. Dimana kabar bakal calon presiden usungan Koalisi Perubahan perubahan diundang kerajaan Arab ke Tanah Suci itu adalah berita bohong yang banyak disebarluaskan di media sosial.
Musni Umar mengakui teledor sebab tidak memvalidasi foto Anies Baswedan dan Raja Salman di Mekkah yang ternyata foto tersebut adalah hasil rekayasa digital alias editan. Musni mengaku dirinya dikirimi foto tersebut oleh seseorang dan langsung mengunggahnya di media sosial untuk membela Anies Baswedan yang sedang menjadi bulan-bulanan masyarakat.
"Sehubungan adanya poster yg dikirim ke HP saya tentang foto editan Anies bersama raja Salman saat tawaf ternyata itu hoax, saya menyatakan maaf karena tidak teliti ikut posting,” kata Musni dalam sebuah cuitan di akun twitternya dilansir Rabu Populis.id (28/6/2023).
Pria yang pernah diterpa isu gelar profesor abal-abal itu mengaku dirinya sama sekali tak ada niatan untuk ikut menyebar berita bohong. Mengakui dirinya salah, Musni Umar lantas mengaku bakal menghapus cuitan hoks tersebut.
“Tidak ada niat sedikitpun untuk posting hoax. Saya telah menghapus postingan tersebut di Twitter saya dan menyatakan bahwa postingan itu tidak pernah ada. Sekali saya minta maaf dan ucapkan terima kasih atas komentar, kritikan, koreksi serta peringatan keras para netizen," tuturnya.
Permintaan maaf Musni Umar yang mengunggah foto hoaks Anies Baswedan itu menuai beragam komentar. Termasuk di antaranya pendiri platform pemantauan dan analitik digital Evello, Dudy Rudianto.
Melalui data yang dihimpunya, Dudy menyebut bahwa pernyataan minta maaf Musni Umar memberikan efek sentimen negatif sangat besar.
"Permintaan maaf @MusniUmar krn menyebarkan foto hoaks Anies Baswedan bersentiment negatif sangat besar, dengan bobot 98 persen. Cuitan ini terbaca beremosi Surprise 57 % . Tak hanya akun @MusniUmar, netizen yg terpapar sebaran cuitan sebelumnya juga didominasi emosi surprise," tulisnya.
"Cuitan ini juga terbaca sangat rasional, alih-alih emosional menunjukkan pada dasarnya pemilik akun merupakan individu yang sangat logis. Gaya komunikasi yg terbaca adalah Self-Revealing menunjukkan cara berkomunikasi berdasarkan opini dan pengalaman pribadi," lanjutnya.
Adapun brand image yang terbentuk adalah indifferent menunjukkan bahwa permintaan maaf ini akan cenderung diabaikan oleh publik atau bahkan tidak memperbaiki keadaan sebelumnya.
"Menariknya, case ini dibaca oleh taxonomy analyzer sangat kuat bermuatan politik, etika dan kejahatan komputer. Sementara topik yg dominan adalah kontroversi, komunikasi, sikap kritis, media massa dan ruang publik," ujarnya.