Kritikus Faizal Assegaf ikut mengomentari konsolidasi akar yang segera digelar Partai NasDem di GBK, Senayan, Jakarta Pusat pada akhir pekan ini. Dalam acara itu Surya Paloh Cs tak mengundang pihak di luar NasDem termasuk Presiden Joko Widodo.
Menurut Faizal Assegaf acara apel siaga NasDem ini bertujuan untuk melawan penjegalan Anies Baswedan.
“Ini peristiwa politik paling keren dan menggetarkan. Konsolidasi akbar Partai NasDem mengusung tema: Apel Siaga Perubahan pada Minggu 16 Juli di Istora Senayan. Keren karena Jokowi tak diundang,” kata Faizal dikutip dari cuitannya di Twitter, Jumat (14/7/2023).
Wakil Ketua Umum Partai NasDem Ahmad Ali alias Mad Ali selaku Ketua penyelenggara menyatakan alasan Jokowi tidak diundang sebab momen tersebut bersifat kegiatan internal partai.
Sikap Nasdem tak mengundang Jokowi, kata dia sebuah sindiran lembut dan penuh makna. Menegaskan posisi Nasdem saat ini.
“Publik menafsirkan NasDem ogah memanfaatkan simbol kekuasaan Presiden. Sekaligus memperjelas peta politik, yakni jalan perpisahan jelang Pilpres 2024,” jelasnya.
Faizal pun mendukung. Menurutnya, memang tidak ada faedah memajang petugas partai di atas panggung konsolidasi NasDem.
“Selain merusak pemandangan rakyat, juga mengotori dinamika demokrasi yang terlanjur diresahkan oleh bobroknya politik cawe-cawe kekuasaan,” ujarnya.
“Menariknya, di momentum stragis ini, Surya Paloh dan Anies Baswedan akan tampil berorasi. Diprediksi isi pidato kedua tokoh bakal memantik ruang publik nasional dengan berbagai gagasan cerdas dan visioner,” tambahnya.
Baca Juga: Pamer JIS di Hadapan Orang-orang Penting, Anies Baswedan: Rumputnya Nggak Kelihatan Tuh
Baca Juga: PKS Marah Besar, Ahok Habis -habisan Diomelin: Anda Jangan Politisasi….
Ia memprediksi, paloh dan Anies akan menyegarkan pesan-pesan moral politik yang kontras dengan kelompok pro status quo. Faizal pun berharap Jokowi menyaksikan orasi keduanya.
“Monggo Jokowi luangkan waktu menyimak. Duduk manis dan merenung di Istana. Menyaksikan NasDem yang semakin bergerak bersama rakyat mengusung perubahan. Tentu pahit dan menyakitkan toh!”