Kelucuan Pemilihan Cawapres Prabowo

Kelucuan Pemilihan Cawapres Prabowo Kredit Foto: Instagram/Prabowo Subianto

Politikus Ferdinand Hutahaean menunjukkan kelucuan dalam pemilihan calon wakil presiden (cawapres) untuk bakal calon presiden (capres) Koalisi Indonesia Maju Prabowo Subianto di Pilpres 2024.

Ferdinand merasa kasihan dengan sejumlah ketua umum partai politik (parpol) anggota Koalisi Indonesia Maju, karena tidak dianggap layak menjadi cawapres Prabowo Subianto.

Baca Juga: Cak Imin Mau Kaitkan Kasus SYL ke Koalisi Ganjar atau Prabowo?

"Kasihan ya Ketum Golkar, Ketum PAN, Ketum Gelora, Ketum PBB, ngga dianggap layak jadi cawapres Prabowo, padahal berkoalisi," ungkap Ferdinand dikutip populis.id dari akun X pribadiny, Senin (9/10).

Namun yang lebih lucu mengenai cawapres Prabowo adalah keinginan untuk menjadikan kader PDIP, Gibran Rakabuming Raka menempati posisi tersebut. "Lucunya malah ngemis Gibran yang kader PDI Perjuangan. Capres tak percaya diri, nyali lemah..!!" imbuhnya.

Sementara itu, dalam simulasi tiga nama survei Indikator Politik Indonesia di Jawa Timur, Prabowo Subianto menempati posisi kedua diantara Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan.

"Pak Ganjar 43,9 persen, Pak Prabowo 33,8 persen, dan Mas Anies 14,4 persen," kata Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi saat paparan survei yang dikutip dari tayangan YouTube lembaga survei tersebut, Minggu (1/10/2023).

Sedangkan sebanyak 8,0 persen menyatakan tidak memilih atau tidak menjawab.

Melalui hasil survei yang sama, Indikator Politik juga menangkap 64,9 persen pemilih di Jawa Timur merupakan pemilih kuat, yakni kecil atau hampir tidak mungkin mengubah pilihannya.

Jika dirinci, jumlah 64,9 persen tersebut meliputi 38,6 persen pemilih yang kecil kemungkinan berganti pilihan dan 26,3 persen pemilih hampir tidak mungkin mengganti pilihannya.

Sedangkan sebanyak 4,2 responden tidak tahu atau tidak menjawab.

Kendati demikian, dia tak menampik Prabowo dan Anies masih berpeluang meningkatkan elektabilitas di Jawa Timur. Hal itu dikarenakan masih ada 30,9 persen pemilih berpotensi mengubah pilihan, rinciannya 23,1 persen dengan kategori cukup besar kemungkinan dan 7,8 persen sangat besar kemungkinan.

"Jadi sepertiga pemilih Jawa Timur merupakan swing voter, kemudian 64,9 persen merupakan pemilih kuat," ujarnya sebagaimana dilansir Antara.

Terkait

Terkini