Pengamat kebijakan publik Gigin Praginanto menunjukkan maksud bakal cawapres Koalisi Indonesia Maju Gibran Rakabuming Raka yang meminta para pendukungnya untuk mengawal angka survei agar bisa menang dalam satu putaran.
Menurut Gigin Praginanto, yang dimaksud Gibran adalah agar hasil pemungutan suara di pemilihan presiden (Pilpres) 2024 disesuaikan dengan hasil survei yang kini beredar.
Baca Juga: Prabowo Bisa Jadi Ditraktir Kopi Vietnam Jika Gibran Berhasil Jadi Wapres
"Hasil pemungutan suara harus disesuaikan dengan hasil survei, begini tampaknya yang dia maksud," ucap Gigin Praginanto dikutip populis.id dari akun X pribadinya, Senin (13/11).
Hasil pemungutan suara harus disesuaikan dengan hasil survei, begini tampaknya yang dia maksud. https://t.co/uTgt21plp4
— gigin praginanto (@giginpraginanto) November 12, 2023
Sebelumnya, saat menghadiri konsolidasi Koalisi Indonesia Maju di Jakabaring, Palembang, Minggu (12/11/2023), Gibran Rakabuming Raka mengarahkan pendukungnya untuk mengawal angka survei agar bisa menang satu putaran.
“Kita fokus, kita kawal terus angka-angka di survey Insya Allah satu putaran,” ujar Gibran dikutip dari Kompas.
Selain itu ia juga meminta agar pendukung tidak menanggapi serangan terhadap Prabowo-Gibran. “Kalau ada bullyan, kalau ada nyinyiran, kalau ada fitnah didiamkan saja tidak perlu ditanggapi,” katanya.
Sementara itu, dalam survei Charta Politika Indonesia, elektabilitas pasangan Ganjar Pranowo dan Mahfud MD bersaing ketat dengan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.
"(Elektabilitas) tidak terlalu jauh berbeda, Ganjar-Mahfud ada di angka 36,8 persen, Prabowo Subianto-Gibran di angka 34,7 persen," kata Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya dalam konferensi pers, Senin (6/11/2023) dikutip dari Kompas.
Selisih suara 2,1 persen Ganjar-Mahfud dan Prabowo-Gibran berada sedikit di atas margin of error 2 persen dalam survei ini. Sementara itu, elektabilitas pasangan Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar alias Cak Imin berada di angka 24,3 persen.
Kemudian sekitar 4,3 persen responden menjawab tidak tahu atau tidak menjawab dalam survei yang dilaksanakan pada 26-31 Oktober melalui metode wawancara kepada 2.400 orang responden dari 38 provinsi se-Indonesia.