Pengamat politik Rocky Gerung mengungkapkan bahwa bakal capres Koalisi Indonesia Maju Prabowo Subianto masih mempunyai beban berat meski kini pemilihan Gibran Rakabuming Raka sebagai bakal cawapres tidak lagi dipersoalkan.
Rocky Gerung mengatakan Prabowo Subianto kini melenggang lebih cepat untuk Pilpres 2024, namun beban beratnya adalah elektabilitasnya di masa depan bisa merosot karena publik kembali mempersoalkan posisi Gibran sebagai bakal cawapres.
Baca Juga: Cara Konyol Jokowi Bujuk Megawati Gunakan Gibran dan Kaesang
"Sementara Pak Probowo melenggang lebih cepat itu merasa bahwa udah apapun yang terjadi toh Gibran sudah tidak dipersoalkan lagi itu, tetapi dari sudut pandang legitimasi tetap Pak Prabowo itu membawa beban delegitimasi melalui Gibran," ucapnya dikutip populis.id dari YouTube Rocky Gerung Official, Kamis (16/11).
"Jadi sewaktu-waktu Pak Prabowo juga akan dilucuti atau digerogoti elektabilitasnya karena publik tidak lagi berhenti untuk mempersoalkan kedudukan Gibran yang diloloskan secara sengaja atau direkayasa oleh Mahkamah Konstitusi melalui perintah bapaknya kan," sambungnya.
Seperti diketahui, putusan MK nomor 90 tahun 2023 yang membolehkan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden berusia di bawah 40 tahun asalkan berpengalaman atau sedang menjadi kepala daerah menjadi persoalan karena dianggap demi kepentingan Gibran Rakabuming Raka.
Sementara itu, dalam survei Charta Politika Indonesia, elektabilitas pasangan Ganjar Pranowo dan Mahfud MD bersaing ketat dengan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.
"(Elektabilitas) tidak terlalu jauh berbeda, Ganjar-Mahfud ada di angka 36,8 persen, Prabowo Subianto-Gibran di angka 34,7 persen," kata Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya dalam konferensi pers, Senin (6/11/2023) dikutip dari Kompas.
Selisih suara 2,1 persen Ganjar-Mahfud dan Prabowo-Gibran berada sedikit di atas margin of error 2 persen dalam survei ini. Sementara itu, elektabilitas pasangan Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar alias Cak Imin berada di angka 24,3 persen.
Kemudian sekitar 4,3 persen responden menjawab tidak tahu atau tidak menjawab dalam survei yang dilaksanakan pada 26-31 Oktober melalui metode wawancara kepada 2.400 orang responden dari 38 provinsi se-Indonesia.