Tolak IKN, Dokter Tifa Sebut Lebih Baik Hebatkan Kota di Kalimantan

Tolak IKN, Dokter Tifa Sebut Lebih Baik Hebatkan Kota di Kalimantan Kredit Foto: Fajar.co

Pegiat media sosial Tifauzia Tyasumma alias Dokter Tifa menegaskan menolak proyek pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur, menurutnya lebih baik menghebatkan kota-kota di sana.

Pasalnya proyek pembangunan IKN menelan anggaran yang besar dan merusak hutan, jika dihentikan maka biayanya bisa dialihkan untuk membangun kota-kota di Kalimantan seperti kota maju di Jawa, Dokter Tifa merasa warga di sana pun akan lebih bahagia.

Baca Juga: Rocky Gerung Ungkap Masa Depan yang Disiapkan Jokowi untuk Gibran di 2029

"SAYA MENOLAK IKN! Lebih baik mengHEBATkan Kota-Kota yang sudah ada di Kalimantan, agar setara majunya dengan kota-kota yang ada di Jawa. Tanpa merusak hutan-hutan yang ada," ucapnya.

"Biaya untuk IKN bisa direalokasi untuk membangun kota-kota tersebut. Semua orang Kalimantan akan lebih bahagia," sambungnya dikutip populis.id dari akun X pribadinya, Jumat (8/12).

Sementara itu, capres nomor urut satu Anies Baswedan mengaku bakal mengkaji dengan serius pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur jika dirinya terpilih menjadi Presiden pada Pilpres 2024 mendatang.

Ia menyampaikannya saat acara dialog terbuka Muhammadiyah yang disiarkan virtual di YouTube Muhammadiyah Channel, Rabu (22/11/2023). Anies bilang jika pembangunan IKN hanya untuk mencapai pemerataan ekonomi, langkah untuk membuat ibu kota baru salah kaprah.

"Ketika tujuan membangun kota baru dan ibu kota baru adalah dengan alasan pemerataan maka itu tidak menghasilkan pemerataan yang baru. Mengapa? Karena itu akan menghasilkan sebuah kota baru yang timpang dengan daerah-daerah yang ada di sekitarnya," ujarnya dikutip dari Suara.

Anies yang berpasangan dengan Muhaimin Iskandar sebagai Calon Wakil Presidennya tersebut melanjutkan bahwa bila ingin meratakan pembangunan di Indonesia yang seharusnya dilakukan adalah membangun kota-kota kecil menjadi kota menengah, dan membangun kota-kota menengah menjadi kota besar.

"Bangun kota kecil menjadi menengah, kota menengah menjadi besar di seluruh wilayah Indonesia. Bukan hanya membangun satu kota di tengah-tengah hutan, karena membangun satu kota di tengah hutan itu sesungguhnya menimbulkan ketimpangan yang baru," papar Anies.

Selanjutnya
Halaman

Terkait

Terpopuler

Terkini

Populis Discover