Aroma Bau Busuk Upaya Jokowi Menangkan Gibran Tak Bisa Terus Ditutupi

Aroma Bau Busuk Upaya Jokowi Menangkan Gibran Tak Bisa Terus Ditutupi Kredit Foto: WE

Aroma bau busuk upaya Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk memenangkan putra sulungnya, cawapres nomor urut dua dari Koalisi Indonesia Maju Gibran Rakabuming Raka di Pilpres 2024 tidak bisa terus ditutupi.

Upaya Jokowi untuk memenangkan putranya salah satunya terlihat dari tindakan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) yang tidak memberikan sanksi tegas ketika Gibran diduga melanggar netralitas kepala daerah dan dugaan pelanggaran lainnya.

Baca Juga: Peraturan KPU Mengenai Debat Bisa Dirancang Untungkan Gibran

"Ketika ada pelanggaran netralitas kepala daerah Bawaslu juga tidak memberikan sanksi tegas, padahal pelanggaran tersebut sudah terang benderang jadi kosumsi publik," ujar pegiat media sosial Tonanda Putra dikutip populis.id dari YouTube 2045 TV, Jumat (8/12).

"Pelanggaran demi pelanggaran hanya dikaji-kaji saja dan ujung-ujungnya cuma dianggap bukan pelanggaran, seenaknya peristiwa yang sudah terang benderang dengan bukti-bukti yang bertebaran malah dibikin buram," imbuhnya.

Tonan merasa Jokowi menggunakan alat negara untuk memenangkan Gibran meskipun terus membantahnya, tapi pada akhirnya aroma bau busuk tersebut akan terungkap kepada publik.

"Beginilah yang terjadi kalau anak presiden ikut Pilpres ketika orang tuanya sedang menjabat, semua alat negara mesti didaya gunakan sebesar-besarnya untuk kemenangan sang anak walaupun dibantah tetap saja aroma bau busuk tidak bisa ditutupi terus menerus," tandasnya.

Sementara itu, baru-baru ini Gibran dianggap menggunakan anak-anak untuk kampanye berdasarkan kegiatannya di Penjaringan, Jakarta Utara, pada Jumat, 1 Desember 2023, cawapres nomor urut dua itu meminta anak-anak untuk naik ke atas panggung serta membagikan buku dan susu. 

"Anak-anak ke panggung, sini saya bagikan buku. Susunya nanti juga dibagikan," kata Gibran saat menghadiri undangan Relawan Jokowi Bergerak Bersama Prabowo di RT. 013/RW. 011 Kelurahan Penjaringan, Penjaringan, Jakarta Utara, Jumat petang dikutip dari Tempo.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia atau KPAI Sylvana Maria menilai apa yang dilakukan Gibran merupakan pelanggaran. “Ini pelanggaran,” kata dia saat dihubungi TEMPO pada Senin, 4 Desember 2023.

Selanjutnya
Halaman

Terkait

Terpopuler

Terkini

Populis Discover