Penilaian Ma'ruf Amin soal Debat Capres Lebih Dipercaya Daripada Jokowi

Penilaian Ma'ruf Amin soal Debat Capres Lebih Dipercaya Daripada Jokowi Kredit Foto: Instagram/Maruf Amin

Politikus Ferdinand Hutahaean merasa lebih percaya penilaian Wakil Presiden (Wapres) Ma'ruf Amin mengenai debat capres yang diselenggarakan pada Minggu (7/1/2024) daripada penilaian Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Karena menurutnya Ma'ruf Amin menilai debat capres dengan jujur. "Pak Kyai pasti menilai dengan jujur. Saya lebih percaya Pak Kiyai Maaruf daripada bapaknya Gibran," ungkapnya dikutip populis.id dari akun X pribadinya, Rabu (10/1).

Sebelumnya, Wakil Presiden Ma'ruf Amin merasa debat capres sekarang lebih menarik daripada ketika dirinya saat dirinya berdebat sebagai cawapres melawan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno di Pilpres 2019.

Baca Juga: Kinerja Buruk Anies saat Jadi Menteri Pendidikan Diungkit

"Saya melihat perdebatannya bagus, ya terbuka dan artinya mereka berdebat, terutama sesi perdebatan itu saya kira menarik dibanding dulu waktu saya. Sekarang lebih hidup ya perdebatannya," ucapnya saat berkunjung ke kantor Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Selasa (9/1) dikutip dari Kumparan.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan dalam debat capres ketiga, penampilan substansi dan visi dari para calon presiden kurang, malah memperlihatkan saling menyerang secara personal.

"Yang pertama, saya memang melihat substansi dari visinya malah tidak kelihatan. Yang kelihatan justru saling menyerang, yang sebetulnya enggak apa-apa, asal (itu soal) kebijakan. Asal policy. Asal visi ya enggak apa-apa," ujar Jokowi dalam keterangan pers di Serang, Banten, Senin (8/1/2024), dikutip dari Kompas.

"Tapi, kalau yang sudah menyerang personal, pribadi yang tidak ada hubungan dengan konteks debat tadi malam, mengenai apa hubungan internasional, mengenai geopolitik, dan lain-lain, saya kira kurang memberikan pendidikan, kurang mengedukasi masyarakat yang menonton," imbuhnya.

Lebih lanjut, Jokowi meminta pada debat capres-cawapres selanjutnya, KPU memasang rambu-rambu yang lebih baik agar tidak ada saling serang kembali dengan motif untuk menjatuhkan.

"Ada rambu-rambu sehingga hidup, saling menyerang enggak apa-apa tapi (soal) kebijakan, policy, visinya yang diserang. Bukan untuk saling menjatuhkan dengan motif-motif personal. Saya kira enggak perlu. Enggak, enggak baik, tidak mengedukasi," tandasnya.

Terkait

Terpopuler

Terkini

Populis Discover