Ekonom Anthony Budiawan menunjukkan sisi buruk hilirisasi yang disampaikan cawapres nomor urut dua dari Koalisi Indonesia Maju Gibran Rakabuming Raka dalam debat Pilpres keempat, Minggu (21/1/2024).
Anthony Budiawan merasa hilirisasi mempunyai potensi tidak menyelesaikan segala permasalahan ekonomi seperti dalam pikiran Gibran, namun malah bisa menjadi masalah besar dengan meyebabkan kestagnanan ekonomi.
Baca Juga: Denny Siregar Tertawa Atas Ledekan Prabowo Terhadap Internet Gratis
"Gibran menyampaikan visi misi dengan satu kata magic: hilirisasi. Seolah-olah, hilirisasi menyelesaikan semua permasalahan ekonomi, Indonesia akan menjadi negara maju. Padahal, hilirisasi juga bisa berarti masalah besar, pembangunan industri tanpa inovasi: ekonomi akan stagnan," ungkapnya dikutip populis.id dari akun X pribadinya, Senin (22/1).
Gibran menyampaikan visi misi dengan satu kata magic: hilirisasi. Seolah-olah, hilirisasi menyelesaikan semua permasalahan ekonomi, Indonesia akan menjadi negara maju. Padahal, hilirisasi juga bisa berarti masalah besar, pembangunan industri tanpa inovasi: ekonomi akan stagnan.
— Anthony Budiawan (@AnthonyBudiawan) January 21, 2024
Sebelumnya, dalam debat keempat Pilpres 2024, cawapres nomor urut dua dari Koalisi Indonesia Maju Gibran Rakabuming Raka menyampaikan visi-misinya, dan mengatakan Indonesia merupakan negara besar.
Gibran menyebut Indonesia harus bersyukur memiliki sumber daya alam sangat besar, seperti cadangan nikel terbesar di dunia dan timah terbesar nomor 2 di dunia. Ia pun menegaskan akan melanjutkan hilirisasi jika terpilih pada Pilpres 2024.
"Program hilirisasi harus dilanjutkan dan diperluas cakupannya, tidak hanya hilirisasi tambang saja, tapi juga hilirisasi pertanian sektor maritim dan juga hilirisasi digital," kata Gibran, Minggu malam, dikutip dari VIVA.
Wali Kota Solo itu mengatakan Indonesia harus mengambil manfaat dari hilirisasi. "Intinya kita tidak boleh lagi mengirim barang mentah. Untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil, kita akan dorong transisi menuju energi hijau seperti bio avtur, biodiesel dan juga bioetanol, yang sudah dilakukan meliputi B35 dan B40," katanya.