Ekspor Indonesia Februari 2026 Tembus USD 22,17 Miliar, Ditopang Nonmigas

Ekspor Indonesia Februari 2026 Tembus USD 22,17 Miliar, Ditopang Nonmigas Kredit Foto: Pixabay @planet_fox

Kementerian Perdagangan (Kemendag) melaporkan kinerja ekspor Indonesia pada Februari 2026 mencapai USD 22,17 miliar. Capaian ini naik tipis 0,05 persen dibandingkan Januari 2026 (month-to-month) dan meningkat 1,01 persen dibandingkan Februari 2025 (year-on-year/YoY).

Pertumbuhan ekspor tersebut ditopang oleh sektor nonmigas yang naik 1,30 persen, meski ekspor migas tercatat turun 4,25 persen (YoY).

Secara kumulatif Januari–Februari 2026, total ekspor Indonesia mencapai USD 44,32 miliar, tumbuh 2,19 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (cumulative-to-cumulative). Pertumbuhan ini didorong oleh ekspor nonmigas yang meningkat 2,82 persen menjadi USD 42,35 miliar, sementara ekspor migas turun 9,75 persen menjadi USD 1,97 miliar.

Struktur ekspor Indonesia secara kumulatif masih didominasi sektor industri pengolahan dengan kontribusi mencapai 83,61 persen terhadap total ekspor. Sementara itu, sektor pertambangan dan lainnya menyumbang 10,08 persen, sektor migas 4,45 persen, serta pertanian 1,86 persen.

Pertumbuhan ekspor nonmigas pada Januari–Februari 2026 didorong ekspor sektor industri pengolahan sebesar 6,69 persen (CtC). Sebaliknya, ekspor sektor pertanian turun 25,99 persen serta sektor pertambangan dan lainnya turun 16,34 persen (CtC).

Di sisi lain, komoditas nonmigas yang mencatatkan pertumbuhan ekspor tertinggi, antara lain, timah dan barang daripadanya (HS 80) yang melonjak 89,01 persen, nikel dan barang daripadanya (HS 75) naik 55,97 persen, serta lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) yang tumbuh 28,79 persen (CtC).

“Peningkatan ekspor sejumlah komoditas utama tidak terlepas dari faktor harga di pasar global. Harga timah tercatat melonjak 59,87 persen dan nikel naik 13,88 persen selama Januari–Februari 2026. Peningkatan harga ini mendorong kenaikan nilai ekspor kedua komoditas tersebut,” terang Menteri Perdagangan Budi Santoso, dikutip dari siaran pers Kemendag, Sabtu (4/4).

Sementara itu, peningkatan ekspor lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) lebih didorong oleh permintaan global. Di tengah penurunan harga minyak kelapa sawit (palm oil) sebesar 4,27 persen (CtC) (World Bank Commodity Price Data (The Pink Sheet), 3 Maret 2026), volume ekspornya justru meningkat signifikan sebesar 34,46 persen (CtC).

Baca Juga: Presiden Prabowo Targetkan Kampung Haji Terbangun dalam 3 Tahun ke Depan

Baca Juga: Capaian Jakarta dalam Satu Tahun Kepemimpinan Pramono-Rano

Dari sisi pasar ekspornya, Tiongkok, AS, dan India masih menjadi tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia dengan total nilai mencapai USD 18,57 miliar atau 43,85 persen dari total ekspor nonmigas nasional.

Namun demikian, pertumbuhan ekspor tertinggi justru terjadi di pasar nontradisional. Uni Emirat Arab mencatatkan kenaikan sebesar 68,62 persen, diikuti Spanyol 54,63 persen, dan Mesir 38,77 persen (CtC). Secara kawasannya, ekspor ke Asia Tengah lainnya yang meliputi Uzbekistan, Tajikistan, dan Turkmenistan melonjak paling tinggi hingga 146,11 persen, disusul Kawasan Karibia sebesar 22,26 persen, dan Afrika Utara 22,14 persen.

Terkait

Terkini